Tersambar di Sebelah Langgar

Oleh: Fathul H. Panatapraja

Tepat satu tahun yang lalu, saya jalan-jalan. Melanjutkan misi “kacangan” saya; mencoba mengais data-data langgar.

Memang betul, tahun lalu saya sedang menggebu-gebu untuk mengayuh otak tubuh saya demi sebuah usaha yang mungkin tak begitu penting bagi sebagian orang. Saya merasa sok punya kewajiban mencari data-data langgar. Karena saya merasa sok prihatin dengan kondisi langgar yang lepas kendali.

Maksud saya, kurang lebihnya seperti ini; langgar tak seperti dahulu lagi, seperti masa di mana saya pernah jejaki. Egoisme saya mencoba melacak sisa-sisa yang pernah ada tersebut, bukan untuk mengembalikan secara utuh. Namun berupaya melihat sisi silam yang mungkin bisa dilanjutkan.

33 kecamatan di Kabupaten Malang; 5 kecamatan di Kota Malang dan; 3 kecamatan di Kota Batu. Itulah lokasi yang harus saya jamah, 41 kecamatan harus saya sisir. Bagi saya yang sendirian, sangat berat. Akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi teman-teman saya di setiap kecamatan tersebut. Kabar baiknya semuanya setuju dan siap berbagi informasi, kabar buruknya sampai hari ini tak pernah terjadi.

Saya punya kesimpulan awal, bahwa jika di setiap kecamatan memiliki langgar tertua, bermakna “paling tua”, dan langgar tua ini didata satu persatu maka ada kekayaan yang bisa kita lihat, ada sebuah kemewahan yang bisa kita kabarkan. Dari langgar-langgar itu akan bisa dilihat capaian masa lalu, atau lebih tepatnya kerja keras manusia dalam mencipta. Baik capaian sastrawi maupun arsitektural. Bagi saya langgar sangat unik dan perlu ditelisik.

Permenungan saya tentang langgar bisa juga dibaca dalam esai saya: Ketika Musik Pop Menghancurkan Peradaban Langgar (2020). Di situlah alasan saya jalan-jalan. Tepat setahun yang lalu.

Inisiatif ngawur kemudian muncul. Berkeinginan untuk mengkodifikasi teks-naskah pujian-pujian langgar serta mengaransemennya. Teman-teman musik sudah siap dan mempersilahkan. Lain waktu lain hari muncul inisiatif baru lagi; ingin mengabarkan langgar-langgar tersebut. Saya pun tergerak membuat semacam kanal maya agar bisa menampung perbendaharaan kata-kata. Tercetuslah website. Namun, jam bergerak detik berganti. Pikiran berubah lagi, jika hanya mengabarkan langgar akan “percuma”. Tak banyak menyumbang, malah melahirkan kebosanan dalam pemberitaan.

Akhirnya saya memutuskan membuat web, namun di dalamnya ada rubrik langgar yang bisa mewakili semangat awal, api kecil yang menyala pertama kali. Jadilah saya memberi nama web tersebut dengan nama ….. (bukan langgar, apalagi petjut), beserta turunan rubriknya; ketujuh rubrik yang sekarang tersedia adalah orisinil dari saya, tidak berubah sejak pertama.

Kembali pada jalan-jalan…

Suatu siang saya berada di sebuah pesantren musafir, sebuah pondokan yang berisi santri-santri para musafir, para pejalan jauh. Di pinggiran kota Malang. Menghabiskan berjam-jam saya berbincang dengan kiai yang mengasuh pondokan tersebut. Selepas shalat asyar berjamaah, tiba-tiba sang kiai dijemput oleh orang-orang yang tak saya kenali, mereka berangkat ke Jakarta.

Kami pun yang sedari siang bergerombol sambil minum kopi melanjutkan obrolan-obrolan ringan. Sesekali memungut butir durian yang baru saja dipanen di kebun belakang langgar.

“Mas, rokok”. Sembari menyodorkan merek rokok lama; grendel. Ia datang bersama putrinya. Akunya baru selesai ke acara pernikahan, dan tiba-tiba ingin mampir.

“Lha ya lho Mas, saya ini udah tiap hari ngaji ke sini, wiridan, mujahadahan, beribadah, tapi kok saya tetap saja maksiat ya, saya ini memang harus dipecut!!!” Sambil santai mengisap rokok grendelnya.

Tiba-tiba, hati saya hancur. Remuk. Mendengar kalimat yang baru saja diucapkannya. Dan saya menemukan sebuah nama yang melekat dalam ruang batin saya; pecut!

Ya, saya memang manusia yang hina, zalim, angkuh, dan penuh kesombongan. Hanya cambuklah yang bisa mengingatkan saya. Saya harus dicambuk dengan ancaman neraka baru bisa belajar ibadah. Saya harus dicambuk dengan ancaman kebodohan agar mau belajar. Saya harus dicambuk untuk banyak hal, bahkan mungkin semua hal. Dan saya hidup dari cambukan demi cambukan.

Dan di sore itu, tepat di sebelah langgar. Telinga saya tersambar dan tubuh saya bergetar.

Selamat satu tahun petjut!

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top