Hiperialitas Tukang Gali Kubur

Oleh: Afidatul Asmar

Mengawali tulisan ini mari kita bersama mendengarkan sedikit kisah (Jean Baudrillard) dalam sebuah argumentasinya terkait kekuatan media. “Suatu hari seorang anak kecil yang menangis bersama ibunya (orang tuanya) di pusat perbelanjaan. Yang ditangisinya adalah alat pembalut perempuan. Bagi sang ibu permintaan anak sangatlah aneh, dikarenakan umur dan kebutuhannya tidak sesuai dengan permintaan anakanya. Lama memberikan penjelasan sang ibu tersadar, sebelum berangkat ke pusat perbelanjaan anak menonton iklan terkait salah satu pembalut yang dengan memakainya semua bisa terpenuhi. Bisa naik kuda, bisa terbang, bisa kemana-mana dan sebagainya”.

Inilah mengapa eksistensi media menjadi bagian yang penting dan tidak bisa dihindari pada masa-masa ini.

Meninggalkan pengantar di atas, sekarang kita berupaya memperjelas “masa” yang dimaksudkan beriringan dengan kebijakan yang kian membutuhkan media sebagai Tuhan-Tuhan kecil menurut (Brooke ed). Artinya, hampir dari segala kebijakan di setiap negara sudah memutuskan untuk beraktifitas di rumah tidak terkecuali bagi bangsa Indonesia. Alternatif yang dilakukan penggunaan media. Berpuncak kepada aplikasi online semisal zoom, classroom, dan sebagainya.

Indonesia sendiri berdasarkan data tebaru terkait korban jumlah kasus pasien positif Virus Corona atau Covid-19 terus bertambah. Data Sabtu 25 April 2020 pukul 12.00 WIB, jumlah pasien yang dinyatakan positif Corona bertambah 398 menjadi 8.607 orang. Sementara itu jumlah pasien sembuh bertambah 40 orang. Total pasien sembuh total secara akumulatif sebanyak 1.042 orang. Untuk kasus meninggal bertambah 31 orang. Sehingga total kasus meninggal 720 orang, (Merdeka.com). Akan tetapi kali ini kita tidak akan membahas bagaimana dan siapa yang harus bertanggung jawab. Karena semua media hari ini sudah ribut, tidak mengenal waktu untuk membahas hal tersebut (A Nurkidam, et all, 2020).

Hotel Si Tukang Gali Kubur
Ada yang terlupakan semenjak video penolakan jenazah terkait virus corona menjadi salah satu topik pemberitaan media, selanjutnya para tim medis yang mendapat hotel, sebagai tempat saat selesai melaksanakan tugas menangani korban virus corona. Terus bagaimana dengan si tukang gali kubur? Apakah karena mereka perlu untuk dihotelkan, ataukah kerja mereka tak sebaik dan seberat para tim medis? paling penting mereka tak akan ribut apalagi mogok kerja untuk menggali kubur bagi para korban penderita virus corona.

Dari bacaan media terakhir memberitakan bagaimana si penggali kubur bertarung dengan wabah, di sisi lain juga berupaya mengejar waktu sehingga mampu menguburkan jenazah yang lain. Inilah yang dikatakan dalam media asing CNN Singapura. Bagi mereka hotel bukanlah tempat dalam diksi tim medis. Paling tidak jaminan diri terkait saat mereka terkena virus, jaminan bagaimana keluarga dan tetangga membangun opini dengan si tukang gali kubur yang potensi penularan sangat besar.

Bulan ramadhan telah datang sesekali kami akan berbondong-bondong untuk berziarah kubur, namun semua itu kini tinggallah mimpi, doa benar-benar dipanjatkan dari rumah masing-masing. Surat yang dulunya dianggap ketinggalan, bisa jadi akan digunakan kembali. Si tukang gali kubur memakai alat pelindung diri (APD) di tengah terik matahari menggali kubur, belum selesai lubang digali datang permintaan untuk lubang jenazah yang lain. Kostum yang baru jelas bukanlah hal yang mudah, namun mengingat penyakit lebih menakutkan dari kematian maka semuanya tetap digunakan. Iringan doa dari keluarga membuat si tukang gali kubur menyandarkan semangat dan kehidupan kepada sang pencipta.

Sesekali melihat dan bergantian memandang sesama tukang gali kubur. Tidak mendapat sorot media dan perbincangan kalangan bagi mereka bukan hal yang penting. Mereka malahan bersyukur dikarenakan tak perlu banyak menjelaskan kepada khalayak potensi virus menyertai mereka. Ada yang datang membawakan sembako ada juga yang datang membawakan perlengkapan APD. Namun bagi mereka tetap virus ini harus berlalu. Banyak teman yang tidak bisa mendapatkan kerja, banyak yang dirumahkan penghasilan bertambah di sisi lain potensi kematian acap kali menghantui.

Dingin hotel bagi si tukang gali kubur adalah mandi dan menyemprotkan handsanitizer pada tubuh saaat bekerja menangani jenazah serta waktu ingin kembali ke keluarga. Awalnya keluarga si tukang gali kubur mengkhawatirkan potensi bagi kerja mereka. Di ruang lain tetangga pun demikian. Namun hotel yang kami inginkan paling tidak adalah senyum keluarga serta pemahaman lingkungan sekitar saat kami bekerja dan pulang tanpa ada penghakiman juga senyum bahwa kami ikut andil dalam perjuangan melawan wabah virus corona ini.

Wacana Hiperialitas Si Tukang Gali Kubur
Hiperialitas menciptakan suatu kondisi yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian, masa lalu berbaur masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran. Lebih jauh bagi (Bourdi) kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi dalam dunia seperti ini.

Keadaan dari hiperialitas ini membuat masyarakat modern ini menjadi berlebihan dalam pola mengkonsumsi sesuatu yang tidak jelas esensinya. Kebanyakan dari masyarakat ini mengkonsumsi bukan karena kebutuhan ekonominya melainkan karena pengaruh model-model dari simulasi yang menyebabkan gaya hidup masyarakat yang berbeda. Mereka jadi lebih concern dengan gaya hidupnya dan nilai yang mereka junjung tinggi.

Tanda-tanda yang dihadirkan untuk membentuk imaji-imaji tersebut sudah menjadi komuditas bagi masyarakat. Tanda, imaji dan pesan yang dapat diciptakan sehingga mengarah masyarakat memperoleh hasrat yang tidak terbatas, dikondisikan untuk membutuhkan sesuatu. Dengan kata lain, rasa tidak puas selalu dimunculkan. Berlimpahnya tanda, pesan dan imaji yang beredar di masyarakat membentuk suatu struktur tersendiri yang berujung kepada kode kolektif masyarakat yang diperankan keikutsertaan media di dalamnya.

Dalam menelusuri angka dari si tukang gali kubur ditemukan perbandingan menurut (google trends) tidak ditemukannnya data sama sekali. Menandakan tanda dan imaji yang dibangun dari si tukang gali kubur tak semudah pemberitaan lain yang berkaitan dengan wabah virus corona.

Kekuatan tanda yang seiring waktu mengisyaratkan secara nyata esensi pemberitaan media si tukang gali kubur bisa jadi menjadi imaji yang terpinggirkan, kematian, bau, tidak menawan, sehingga melihatnya pun dalam pemberitaan media juga sama hanya media asing yang kemudian dikembangkan oleh media-media lokal terkait si tukang gali kubur.

Saat ilusi persoalan kerja si tukang gali kubur tak bisa menjadi hiperialitas masyarakat hari ini atau sebaliknya kesuksesan dalam mendefinisikan hiperialitas itu sendiri, bahwa masyarakat esensinya tidak menginginkan yang dibutuhkan melainkan model-model ataupun style yang hanya menjadi pendukung tapi diyakini sebuah hal yang nyata. Pada tempat yang lain si tukang gali kubur tidak menyusun kata per kata yang begitu berat, dengan sejumlah istilah melangit.

Bagi mereka kata yang mudah dimengerti namun bisa menjamin ke depan masyarakat Indonesia mau apa setelah wabah ini berlalu. Di helanya nafas yang panjang sambil mengambil cangkul yang setia menemani hari kerja, seraya bersiap dengan lubang-lubang untuk bebarapa jenazah yang telah datang untuk dimakamkan. Bagi si tukang gali kubur sesederhana inilah kami, akan tetapi doakanlah agar tetap bisa berperan dalam memakamkan jenazah korban virus corona atau hingga penyakit ini berlalu, karena di sinlah kami mencari rezeki.

Daftar Bacaaan

Website

Wawancara

  • Tukang Gali kubur Terkait Jenazah Virus Corona. (April 2020).

Penulis adalah Dosen di IAIN Parepare, Sulawesi Selatan

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top