Wajah dan Topeng: ‘Kembar’ dan Apa Sesungguhnya Yang-Nyata?

Oleh: R.H. Authonul Muther

“…sampai waktu yang lebih tepat, ketika segalanya telah terungkap, dan topeng-topeng itu lepas dari wajah orang-orang tertentu, dan hal-ikhwal akan terpampang dengan gamblang.”
Fyodor Dostoevsky, The Double.
“Semuanya akan tiba pada waktunya kelak, jika kau memiliki keberanian untuk menanti.”
Villele.

Kita hidup dalam dunia ganda; antara kebohongan dan kebenaran, antara ilusi dan fakta, antara yang-di-dalam dan yang-di-luar. Tak ada yang lebih superior, kita berada pada satu kesatuan faktum yang serentak, kita sudah selalu menjadi subjek ganda—kita jujur dan bohong, baik dan buruk, istimewa dan durjana, benar dan salah, pikiran dan yang-konkret dst., pada satu kesatuan waktu. Kita semua punya topeng, karena kita selalu mempunyai paranoia, di titik manusia mempunyai takut-cemas itu, dunia menjadi kesalahan yang diyakini sebagai kebenaran. Lalu, apa sesungguhnya Yang-Nyata?

Kita selalu mempunyai kembaran yang menjadi hantu ketakhadiran yang mengusik, dari situ, kebenaran penilaian kita atas realitas dan orang lain, menjadi kabur—orang lain menjadi sebab paranoid. Suatu hell is other people (orang lain adalah neraka) seperti adigium Sartre? Tidak, bukan orang lain an sich, tapi hell is absence The Others, ‘ketakhadiran’ Yang-Lain adalah neraka.

Dari situ kita akan memulai menelusuri si ‘kembar’ dan kegelapan Fyodor Mikhailovich Dostoevsky yang, kata Nietzsche, kita dapat belajar segala sesuatu tentang kondisi psikis-eksistensial manusia. Novel ini bisa membuat kita, sama seperti Crime and Punishment, menelusuri pikiran yang—sedikit ambigu dan skizofrenik—berada dalam halusinasi, waham, kekacauan dan kebimbangan absolut. Tak heran novel ini banyak dianalisis via psikologi, yakni split personality, tentu kita tak akan puas dengan analisis ini, kita ingin melampauinya. Di titik itu, sebenarnya Dostoevsky tak menyinggung orang gangguan jiwa, ia sedang menyindir kita semua.

Merasakan Kegilaan
Di usia 25 tahun, Dostoevsky menulis karya ini, Kembar (The Double). Jalan Dostoevsky tak mudah, bahkan mengerikan. Pada usia 16 tahun ibunya meninggal karena tuberkulosis, Maria Fyodorovna, dua tahun setelahnya, sang ayah, Mikhail Andreyevich Dostoevksy meninggal, diduga dibunuh oleh pelayannya sendiri. Kita tahu, Dostoevsky tumbuh dalam kengerian dan kepahitan hidup, tak heran, karya sastranya gelap namun mengagumkan. Tak hanya itu, pada tahun 1849, tiga tahun setelah The Double ini terbit, dua tahun setelah terbit cerpennya yang menawan, yakni White Nights, Pulzunkov, An Honest Thief, Dostoevsky ditahan karena dianggap menentang kekaisaran Tsar, ia dikenai hukuman mati. Kita akan menelusuri peristiwa penting Dostoevsky muda ini sedikit.
Seperti yang kita tahu, pada tahun 1721-1917, Rusia memakai sistem politik kekaisaran, sebuah monarki dan otokrasi absolut. Pada Oktober 1917, terjadi Revolusi di Rusia, yang dimotori oleh Lenin, dan diteruskan oleh kaum Bolshevik untuk meruntuhkan sistem otokrasi. Pasca Revolusi, kekaisaran Tsar yang berkuasa 300 tahun itu runtuh, digantikan komunisme.

Tentu Dostoevsky berada pada zaman kekaisaran Tsar, lebih tepatnya ketika dipimpin oleh Kaisar Nikolai (1825-1855). Pada masa itu, Rusia dilanda kemunduran luar biasa: praktek ‘petani budak’ (serf), rakyat yang tak berpendidikan, buta huruf, dan kelaparan. Dostoevsky sebagai cendekiawan muda kala itu, tentu saja geram, kegeraman itu tersalurkan ketika ia tertarik pada kelompok Dekaberist, yakni komplotan intelektual muda dan militer untuk menyampaikan gagasan kemajuan untuk kekaisaran Tsar, tentu saja usulan itu ditolak. Tak puas, di Moskow, Dostoevsky berkenalan dengan Petrayevsky, seorang revolusioner yang dekat dengan pemikiran Charles Fourier dan Pierre-Joseph Proudhon, di sanalah Dostoevsky bergabung. Komplotan itu tak banyak, hanya terdiri 34 orang, tetapi, itu lebih dari cukup untuk dikatakan sebagai hal yang sangat membahayakan oleh Kaisar Nikolai. Dari 34 orang itu, terdapat mata-mata dari kekaisaran bernama Antonelli, ia mencatat seluruh hasil diskusi Dostoevsky dan kameradnya yang lain, yang nanti akan dilaporkan kepada kekaisaran. Pada 22 April 1849, akumulasi ketakutan terkumpul, mereka semua terkena operasi tangkap tangan, mereka digerebeg. Hasilnya, 6 orang dibebaskan di tempat, 28 orang diadili, 6 orang dibebaskan pasca-pengadilan, 7 orang dibuang ke Siberia, 15 orang dihukum tembak. Tentu, dari 15 orang itu, Dostoevsky termasuk orang yang dipaksa tahu kapan ia harus mati dengan pasti. 2000 orang berkumpul di lapangan Semonovskaya, bukan tanpa alasan, Kaisar Nikolai ingin menyebar terror untuk menakuti mereka yang ingin memberontak, yang melawan kekaisaran harus mati.

Eksekusi itu dibagi lima kloter, satu kloter berisi tiga orang. Dostoevsky termasuk di kloter ke dua. Petrayevsky, dibunuh pertama dengan dua orang lainnya. Dengan mata telanjang, Dostoevsky melihat peluru melesat ke jantung temannya itu. Kita tahu, jika berada pada posisi Dostoevsky, kita akan mengalami hal yang sama, titik yang teramat sangat mengerikan: “aku tahu aku ‘sangat pasti’ (bukan ‘pasti akan’ lagi) mati selepas ini.” Tiga temannya mati, kini saatnya waktu eksekusi Dostoevsky. Takdir tak memihak pada kematian Dostoevsky, ia harus terus hidup dan menulis, ketetapan berubah, Dostoevsky tak jadi dieksekusi, hukumannya diubah menjadi tahanan dan pekerja paksa di Siberia seumur hidup (meskipun pada 1854 ia dibebaskan). Tak jadi mati bukan perkara yang mudah, dua temannya shock, kekagetan yang membuat kedua temannya gila. Tapi Dostoevsky tak demikian, ia sangat terhentak, tak gila, tapi seluruh karyanya gelap dan begitu traumatik dalam memandang kehidupan. Yang terpengaruh pada kegelapan Dostoevsky itu adalah filsuf besar dari Jerman, Friedrich Nietzsche. Sebelum kita melangkah lebih jauh terkait dengan Dostoevsky dan karya Kembar ini, kita akan melihat hubungan Dostoevsky-Nietzsche sekilas, yang memaksa kita sedikit merasakan kegilaan terhadap hidup dan konsekuensinya, kita adalah subjek ganda.

Kedua orang besar ini, dan saya sangat suka pemikiran keduanya, hidup pada zaman yang sama dan corak pandang yang sama atas kengerian hidup. Hubungan pemikiran itu, di The Twilight of Idols, Nietzsche menyinggung Dostoevsky, “dia (Dostoevsky) adalah satu-satunya psikolog yang darinya, aku belajar segala sesuatu,” dan bahwa dia “di antara kemartabatan yang memberi pukulan nasib indah dalam hidupku.” Kita akan menyinggung sedikit, yakni keduanya dekat dalam pemikiran tentang “anti-religiusitas” dalam memahami eksistensi manusia dan kegelapan struktur psikis manusia.

Antara tokoh novel dalam karya Dostoevsky dan refleksi filsafat Nietzsche, terdapat kesamaan. Pertama, yakni apa yang disebut Tiefenpsychologie (depth-psychology, psikologi-dalam). Psikologi-dalam itu, adalah peperangan batin seseorang dengan dirinya sendiri dalam mengambil keputusan konkret di hadapan realitas, sehingga memunculkan kerumitan dan kengerian. Munculnya kerumitan dan kengerian itu, pada dasarnya akan membentuk cara pandang manusia atas dunia. Apa yang dikatakan Nietzsche sebagai chaos, ketakberaturan, bahwa realitas tak dapat dijadikan suatu sistem tunggal karena manuisa selalu berhadapan dengan peperangan batin dalam dirinya sendiri. Kita akan melihat ini lebih mendetail nanti ketika membahas Kembarnya si Dostoevsky.

Kedua adalah anti-religiusitas. Tanpa Tuhan, kata Dostoevsky, manusia menjadi bebas melakukan apa saja. Tuhan, dalam pikirannya, merupakan suatu pengekang, pembatas mutlak bagi humanitas manusia. Bagi Nietzsche, tak kalah kerasnya, bahkan ia menyatakan “Tuhan telah mati.” Manusia, yang mengejar kehendak mati-matian untuk percaya dan memutlakkan Tuhan, bahkan telah membuat Tuhan itu sendiri tak relevan. Apa yang Nietzsche tulis di The Twilight of Idols, kritik kerasnya terhadap moralitas Nasrani yang ia sebut sebagai moralitas dekaden, “moralitas itu (Nasrani abad pertengahan) sampai kini adalah kemalangan terbesar umat manusia.” Seperti yang kita tahu, pada masa itu, Gereja mempunyai kekuasaan mutlak yang menindas kaumnya dan memutlakan suatu pendapat, yakni tak ada kebenaran di luar Gereja. Ia tak menolak Kristiani per se, ia hanya mengkritik betul praktik-praktik keagamaan yang dekaden. Bahkan, Dostoevsky dan Nietzsche tak berhasil membunuh Tuhan dalam arti sesungguhnya, anti-religiusitas mereka, membuat orang tahu, bagaimana mendekati dan memahami Tuhan dalam arti sesungguhnya—tanpa meninggalkan kebebasan subjek manusia. Ateistik mereka tak buruk, ia memberi tahu kita tentang Tuhan yang tak bisa dikonsepsikan, bahkan yang tak mampu dibahasakan. Saya teringat kata Meister Eckhart, “dari semua ciptaan yang paling mirip dengan Tuhan adalah keheningan.” Baik Dostoevsky dan Nietzsche adalah seorang pecandu yang sunyi itu, meski ateis, ia membuat para teistik tahu bagaimana Tuhan sebagai yang tak dapat diabsolutkan, Tuhan sebagai yang tak pernah selesai. Di titik itu, alih-alih menyingkirkan Tuhan, mereka berdua membuat kita lebih dekat dengan Tuhan, mereka berdua sedang mengubur waham dan salah-sangka.

Zizek sadar itu, dalam fenomena terorisme dan pemutlakan pendapat yang marak di abad ini, ia mengatakan “karena adanya tuhan, manusia bebas melakukan apa saja.” Tuhan menjadi alasan untuk membunuh orang lain. Memang pernyataan itu terbalik dengan apa yang dikatakan Dostoevsky, karena konstelasi agama pada abad ini pun berbeda dengan abad ke 19 akhir. Di titik mengabsolutkan ‘pendapat’ atas Tuhan itu lah, apa yang dikatakan Nietzsche sebagai kematian Tuhan, manusia tak bisa menggunakan nama Tuhan untuk menghilangkan kebebasan dan eksistensi manusia lain. Nietzsche, bagi saya, malah membuat kita untuk senja kala berhala; mengakhiri kepalsuan dan waham dalam memahami Tuhan.

Dari situ kita dipaksa untuk melihat sisi gelap kehidupan dan sisi kegilaan yang selalu hadir dalam diri manusia. Tak ada satu pun manusia yang tak luput dari duka-nestapa yang diberikan realitas. Realitas selalu mejadi enigma, menjadi ketakterdugaan, bahwa realitas selalu memunculkan kengerian yang tak dapat kita tolak. Di saat kita tak dapat menolak kengerian realitas yang telah menjadi takdir dan ketetapan itu, kita diajak oleh Nietzsche untuk, fatum brutum amor fati: kita tak hanya menerima takdir yang tak bisa kita ubah, kita harus mencintainya. Kengerian, kepahitan, dan kenastapaan hidup, adalah ciri khas yang dimiliki Dostoevsky nyaris di seluruh karyanya. Konstelasi masalah subjek sangat kentara, dari situ kita memulai, kita akan memulai dari kengerian. Ketakberaturan yang membuat manusia selalu menjadi subjek ganda.

Wajah dan Topeng: Manusia sebagai Subjek Ganda
Goliadkin, si tokoh dalam The Double ini, bertemu dengan seorang yang teramat mirip dengan dirinya: wajah, nama, pakaian, asal tempat tinggal, jabatan, dst,. Karena teramat sangat mirip, Goliadkin tak menyadari di mana batas antara kenyataan dan ilusi. Di titik kabur antara yang-nyata dan yang-ilusi itu, semua orang menjadi musuh, tatapan orang lain adalah keterjeratan. Setiap yang berjumpa dengannya, pikirannya selalu semrawut, bimbang, tak terkontrol—ia merasa seluruh dunia memusuhinya. Sebelum lebih jauh, kita akan memulai dari akhir cerita: “Kau akan dapat kamar yang dibiayai oleh pemerintah, lengkap dengan kayu bakar, penerangan, dan layanan, yang sebetulnya kau tak pantas mendapatkannya.” Ujar teman psikiater si Goliadkin, “tokoh kita memekik dan memegang kepalanya. Aduh, sudah lama dia memperkirakan ini.”

Ya, Goliadkin menderita apa yang disebut split personality, gangguan jiwa yang membuat si penderita mempunyai kepribadian ganda, dan kondisi psikisnya tak menentu. Ia tak mampu mengenali identitas dirinya, ia kehilangan kontrol atas memori, perasaan, dan tindakan. Dan Goliadkin memang menderita itu. Tapi, pada titik yang tak abnormal seperti Goliadkin, pada dasarnya kita selalu memakai topeng dan menjadi subjek ganda, identitas kita terbelah dua secara serentak.

Saya akan memulai dengan ucapan Foucault,  “La visibilité est un piège, Ketika kau dapat dilihat, kau terjerat.” Setiap manusia selalu berada dalam tatapan, dengan demikian ia terjerat dalam suatu jejaring relasi, entah itu hegemonik atau pun membebaskan. Tatapan orang lain itu, lebih hegemonik daripada pembebasan, ia menjerat, kebebasanku dikekang; di setiap tatapan selalu ada pembatasan. Di titik itu, ketika kita ditatap, kita akan mengalami keraguan dan mempunyai banyak pertimbangan eksistensial. Orang lain menjadi subjek asing, yang mencerabut kebebasanku; hell is other people? Tentu Foucault berbeda dengan Sartre. Adigium Foucault itu, terkait dengan pemikirannya, yakni panopticon. Panoptikon, ini berasal dari konsep Jeremy Bentham di bukunya, Panopticon: Or the Inspector House, panoptikon adalah lampu menara penjara yang mengawasi para tahanan. Konsep ini oleh Foucault diperluas, dalam karyanya, Discipline and Punish: The Birth of Prison. Sistem panoptik itu, ia harus terlihat atau tampak (visible) tapi tak dapat diverifikasi (Unverifiable). Artinya, di satu sisi ia harus terlihat, lampu itu harus selalu menyala untuk memberi suatu kesan pengintaian tanpa ujung terhadap tahanan, di sisi lain, ia harus tak dapat diverifikasi, dalam arti bahwa para tahanan itu tak dapat memverifikasi apakah ada penjaga pengawas di atas menara.

Meski Foucault menempatkan pemikirannya pada sistem sosial sebagai pendisiplinan dan normalisasi, tetapi ia mempunyai konsekuensi logis terhadap relasi kuasa antar subjek, via Wajah. Bagi Foucault, kekuasaan bekerja dalam cara itu yang, mau tak mau, tak hanya tatapan wajah yang membuat orang terkekang, kita dikekang oleh pikiran kita sendiri via intaian orang lain. Tatapan orang lain, dengan demikian, adalah sistem panoptik, dan tubuh mereka sebagai instrumen tatapan, meminjam istilah Foucault, membuat diri kita mengalami penindasan diri (self oppressed). Kita selalu diintai tapi kita tak mampu memverifikasi tatapan orang lain itu, kita tak pernah benar-benar tau apa yang ada di dalam pikiran orang lain. Di sini, panoptikon merupakan faceless gaze, tatapan tak berwajah, yang selalu mengintai ketika subjek pengekang tak-hadir. Meskipun, prasyarat tatapan tak berwajah itu, adalah La visibilité est un piège, Ketika kau dapat dilihat, kau terjerat. Pasca terlihat dan ditatap, subjek akan terjerat. Di titik keterjeratan itu lah, ia menjadi panopticon yang menjadi tatapan tanpa wajah. Itu lah yang membuat kita selalu menjadi subjek yang curiga dan bimbang. Orang lain menjadi sistem pengintai terhadap.

Wajah tak bisa didikte menjadi satu kesatuan penampakan dan interpretasi tunggal. Ia menampak dalam transendentalitasnya, bahwa kita tak dapat mengetahui secara utuh sang-liyan. Bagi Levinas dalam kategori imperatif etis atas ketakberhinggaan Wajah, biarkanlah Sang-Liyan yang mengatakan dirinya sendiri kepadaku, bahwa aku harus mengimanensi diri di hadapan Wajah orang lain yang transendental itu. Tetapi ada momen lain, yakni ketika Wajah orang lain itu dengan sengaja menutupi dirinya sendiri; Wajah selalu mempunyai topeng. Dengan kata lain, dalam kemungkinannya untuk transenden, Wajah mampu memanipulasi penampakkannya terhadap subjek yang lain. Di titik manipulasi itu lah, terletak asal-usul kebohongan, sesuatu hal yang tak boleh orang lain tahu. Jika manusia selalu mempunyai sesuatu yang harus disembunyikan karena hasil normalisasi penoptik—dalam arti sturuktur sosial maupun kategori etis—konsekuensinya kita selalu menjadi bimbang, selalu gelisah dengan apa yang orang lain lakukan, keraguan-raguan dalam mengambil keputusan konkret. Sesuatu yang membuat kita takut itu, adalah momen ketika kita tak mampu memverifikasi suatu fakta dalam kebenarannya yang penuh, saya lebih suka menyebutnya, ketakhadiran. Suatu momen ketika penampakan yang menampak, terdapat sesuatu yang hadir dalam ketakhadirannya, dan itu bersifat tak terverifikasi mutlak. Seperti yang kita tahu sebelumnya, di sana asal-usul kebohongan. Dengan demikian, panopticon itu berada dalam ruang ketakhadiran Wajah orang-lain, suatu faceless gaze (tatapan tanpa wajah). Kita terintai karena sesuatu yang tak mampu kita verifikasi (ketakhadiran) dan prasyaratnya, ia harus terlebih dahulu menampak (vesible) melalui Wajah.

Terdapat hal yang harus kita tandai tentang panopticon dalam diri subjek ini. Pertama, terdapat ‘sesuatu’ kehadiran yang tak hadir (sesuatu yang disembunyikan, yang dimanipulasi oleh Wajah) dalam penampakan Wajah terhadap orang lain. Kedua, kehadiran Wajah orang-lain sebagai ketakhadiran. Jika yang pertama menyebabkan suatu spekulasi untuk meraba apa yang disembunyikan Wajah orang lain—ia berada pada batasan empiris, inilah panopticon. Maka yang kedua, berurusan dengan ketakterjamahan total, ia hanya berada pada pikiran. Dengan kata lain, ketika subjek yang pernah menampak itu, kehadirannya tak lagi menjadi fakta konkret, maka kejadian yang menampak itu sudah berada dalam realitas pikiran. Ketakhadiran itu mampu melepaskan diri dari batasan-batasan empiris, itu saya sebut sebagai, di belakang panoptik (sisi gelap lampu di belakang), yakni peristiwa pasca La visibilité est un piège.

Di titik itu, ketakhadiranlah yang mendasari seluruh realitas relasi antar subjek. Sisi gelap manusia itulah ketakhadiran, suatu momen kita tak lagi mampu memverifikasi sesuatu dengan ketepatan dan kebenaran dengan penuh. Kita tak diintai oleh cahaya lampu menara itu, tetapi diintai oleh yang di belakangnya, sesuatu yang gelap, sesuatu yang tak-hadir.

Dari sini kita akan memulai melihat Goliadkin di novel Dostoevsky ini, suatu momen ketika Goliadkin tak mampu memverifikasi dan ia tak mampu menangkap kehadiran yang tak hadir itu. Dengan kata lain, semua Wajah yang menampak pada kita selalu bertopeng, dan Wajah itu, bahkan Wajah kita, selalu mempunyai realitas ganda yang serentak terjadi dalam satu kesatuan waktu. Maka tak heran, kita pun sering melakukan perubahan mendadak, terintai oleh suatu peristiwa tertentu, kita gelisah, tak nyaman, karena itu adalah hasil dari hantu ketakhadiran. Ya, kita sedang melepas abnormalitas psikis Goliadkin, itu lah mengapa di pembukaan saya menyatakan, Dostoevsky sedang menyinggung kita semua.

Dalam novel ini, nyaris setiap dialog yang dilakukan dengan orang lain, Goliadkin akan melakukan suatu percakapan dengan diri sendiri. Suatu kebimbangan di pinggir batas, dan seketika, tanpa pikir-panjang, keputusan terjadi secara mendadak. Kita ambil beberapa poin kebimbangan:

“Masuk atau tidak? Nah, masuk atau tidak? Aku akan masuk… kenapa juga aku tidak masuk? Orang pemberani membuka jalan ke mana saja!”, “Tidak,” pikiranya, “bagaimana jadinya kalau ada orang masuk? Nan, kebetulan ada yang masuk; kenapa aku malah bengong saja saat taka da orang di sana? Seharusnya aku menyelinap masuk!…Tidak, tidak mungkin menyelinap bagi orang yang memiliki karakter! Sungguh sifat yang hina!”… “Jadi aku berdiri di sini seperti balok kayu, dan begitulah! Jika ada di rumah aku pastilah sedang menyesap secangkir teh sekarang…Terkutuk, aku akan masuk saja titik!” (p.46). Percakapan Goliadkin dengan dirinya sendiri, momen kebimbangan ketika ia ingin memasuki pertemuan ulang tahun Klara Olsufyena.

Pasca kunjungan pesta yang teramat menyedihkan itu, Goliadkin bertemu seseorang, sang kembarannya sendiri, Goliadkin Jr., Goliadkin Sr. kehilangan batas, ia tak paham apa yang sedang terjadi. Dalam cerita ini, karena anomali yang teramat ganjil itu, Goliadkin Sr. terjebak pada waham, ia mengkambingkan seluruh manusia sebagai musuh bagi dirinya. Deretan panjang peristiwa hidup telah terjadi terhadap Goliadkin Sr. Di titik itu, ia tak dapat mengenal batas antara pikiran dan realitas, medan identitas menjadi kabur, ia menjadi penggelisah dan penyangsi:

“Barangkali mereka hanya bermaksud untuk menakut-nakuti diriku sedikit, dan ketika melihat aku tak peduli, tidak protes, dan bersikap sangat biasa, kalau aku bertahan dengan kerendahan hati, mereka akan menyerah, menyerah begitu saja, bahkan menyerah lebih dulu.”

Goliadkin tampak bijaksana, ia seperti seorang petapa yang baru keluar dari tempat tirakat. Tapi itu tak absolut, di beberapa kejadian, ia menjadi seorang yang busuk dan penggosip belakang layar paling ulung. Ia bertemu dengan Goliadkin Jr kedua kalinya, anehnya, Goliadkin Sr. mengajak kembarannya yang tak sedarah it uke apartemen miliknya. Mereka mengobrol dengan pujian, sanjungan, kerendah hatian, pemujaan yang tak kunjung habis sepanjang malam. Tapi pujian Goliadkin Sr., tokoh utama itu, berakhir ketika ia terbangun di pagi hari, di sana ia menghardik:

Ketika ia mempersilahkan kembarannya memasuki pintu apartemennya, Goliadkin bergumam dalam hening, “Ah, dasar otak udang!” batinnya mencela diri sendiri, “Kok dia malah kubawa ke sini? Hal itu malah memasukkan kepalaku sendiri ke dalam jerat. Apa yang akan dipikirkan Petruskha jika melihat kami Bersama? Apa yang akan dipikirkan oleh si penjaga laknat itu sekarang? Dan dia sudah menaruh curiga…” (p.83). Namun sudah terlambat untuk menyesali, batin Goliadkin Sr. Ia mempersilahkan tamu kembarannya itu memasuki apatermen. Pujian dan sanjungan terdengar sepanjang malam:
“…tinggallah bersamaku untuk sementara ini, atau bahkan untuk selamanya. Kita akan menjadi teman dekat. Bagamaina menurutmu, saudaraku—eh? Jangan merasa malu apalagi megeluh bahwa ada keganjilan dalam keadaan kita sekarang.” (p.92).
Setelah tiba matahari terbit dan Goliadkin Sr. terbangun, ia menjadi subjek yang lain, dari sang penyanjung, kini ia menjadi sang pencela (96-97):

“Bagaimana caranya aku bisa menunjukkan pintu keluar kepada si bedebah itu dengan sopan, seandainya dia kembali? Tentu ada banyak cara berbeda. Akan kukatakan begini saja, mengingat penghasilanku yang pas-pasan…atau menakut-nakutinya dengan suatu cara, misalnya, setelah mempertimbangan berbagai hal, aku terpaksa memberitahumu…begini, kita harus membagi dua biaya kamar dan makanan, dan bayar di muka. Hm! Tidak, setan alas, tidak! Itu akan menodai reputasiku. Caranya tidak terlalu halus!… Oh kepalaku, kepalaku yang terkutuk!… Namun apa yang akan terjadi; apa yang akan terjadi dalam situasi ini? Kuharap aku tahu persis apa yang tersembunyi dalam hal ini—sasarannya, tujuannya, berbagai kesulitannya. Alangkah baiknya mengetahui dengan tepat aoa yang diincar oleh semua orang ini dan apa langkah pertama mereka.” (p.97-8).

Setidaknya kondisi serupa sangat tampak dalam novel ini, yang kita bisa menyebutnya kondisi ganda, keterbelahan subjek, keretakan subjek. Dan kita semua, pada dasarnya adalah Goliadkin. Kita terpaksa menyembunyikan sesuatu dan pada saat yang sama, memandang orang lain sebagai panoptikon. Dari situ kita pula bisa tahu, ketakhadiran yang sebelumnya kita bahas, sangat tampak. Ketakmampuan memverifikasi sesuatu itulah yang membuat orang lain adalah sistem panoptic. Tapi pada titik pinggirnya, pasca La visibilité est un piège, kita sedang berada pada kegelapan total, kita terputus dengan batasan empiris—ketakterverifikasian total. Itulah, di belakang sistem panoptic, daerah gelap dari lampu panopticon. Momen ketika kita retrieval, kita kembali kepada ingatan kita sendiri, bergulat dengan diri kita sendiri, kita terputus dari kebenaran yang-total.

Goliadkin menunjukkan itu, ketika ia melihat situasi fenomenen pasca ditatap, ia kembali kepada data ingatan. Karena ingatan sudah selalu peristiwa yang sudah tidak lagi terjadi, maka ingatan adalah ketakhadiran. Kita hanya bisa menduga, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh realitas, oleh dunia, oleh subjek lain. Penelusuran itu, seperti Goliadkin, tak mampu mendapat asal-usul yang pasti, karena dalam ketakhadiran, kita tak mampu memverifikasi total. Kita ambil contoh sederhana, Anda sebagai seorang penulis mengalami momen tak mengenakkan ketika melihat keganjilan teman Anda yang juga penulis. Misalnya, teman Anda tak menemui Anda beberapa hari, tak seperti biasanya. Tepat di momen itu, kita dituntut berspekulasi, mencari asal-usul mengapa ia tak seperti biasanya, realitas menjadi ganjil. Lalu Anda bertanya, ke mana saja? Teman Anda menjawab sedang ada kerjaan. Sederhana dan selesai. Tapi tak demikian, ada sesuatu yang harus tetap disembunyikan, ada kehadiran yang harus tak hadir, sesuatu yang tak harus masuk ke dalam pikiran orang lain—sekecil apa pun. Misalnya teman Anda itu pada dasarnya sedang menjalani hubungan penting dengan orang lain, ketika Anda dilibatkan, mereka akan terintai, mereka tak ingin diri mereka kalah, sesuatu yang melibatkan Anda bagi teman Anda hanyalah suatu yang tak bisa didukung karena mengancam keduniawan mereka, karena sama seperti Anda, Anda adalah kembaran mereka pula.

Sama seperti Goliadkin yang merasa tersaingi dan tak ingin kalah dengan kembarannya. Demikian pula orang lain yang mempunyai keduniawian yang sama dengan kita, mereka menjadi suatu sistem panoptik, ia mengintai. Dan mereka semua yang mempunyai suatu keduniawian yang sama itulah, kembaran kita. Tepat di situ, kita menjadi subjek ganda. Sadar atau tidak, diri kita retak, kita adalah subjek pemangsa. Pada saat-saat panoptikon itu, kita menjadi pemuji-pencaci.

Gelap, tak nyaman, sangat mengganggu, tapi itu yang terjadi. Itulah mengapa Dostoevsky, mampu menceburkan diri dengan kegelapan dalam diri manusia. Lantas? Apakah kejujuran murni dan representasi murni atas realitas adalah ilusi? Juga tak kalah mengerikan, lalu, siapa, kita—siapa diri kita sendiri dan apa yang sesungguhnya yang dipikirkan orang lain atas diri kita? Apakah kita, akan selalu terjebak pada gestur ganda itu? Sebenarnya, apa yang sedang kita kehendaki? Jika kita dikutuk untuk selalu memahami realitas dunia via pikiran, dan pikiran itu sendiri selalu ada titik buta, lalu apa yang sesungguhnya yang-Nyata? Dalam realitas konkret kita sebagai subjek, kita selalu dan akan selalu menjadi subjek pertama tunggal.

Kita sedang merasakaan nikmat dan derita secara serentak atas kehidupan. Kegelapan itu, setidaknya kita refleksikan agar terdapat titik terang, meski terang itu sangat redup, dan cahaya itu adalah ketaktersembunyian. Seperti kata Dostoevsky, jika topeng orang lain itu akan lepas dan hal-ikhwal akan terpampang dengan gamblang, maka beranikah kita, melepas topeng kita, kepalsuan kita masing-masing sebelum semuanya terungkap? Kita dituntut untuk tak-sembunyi dan memutus diri kita menjadi subjek yang mengintai dan diintai. Dengan resiko, melepas topeng, berarti berdansa dalam kengerian. Ngeri? Ya, meski kita melepas topeng, topeng baru akan muncul, lalu kita melenyapkannya lagi, ia muncul lagi. Mengapa topeng itu muncul-lenyap, karena kita sudah selalu menjadi subjek yang-tak-hadir. Kita tak bisa dengan murni terlepas dari ketakhadiran, itulah mengapa ketaktersembunyian menjadi cahaya yang sangat redup.

***

Penulis adalah pegiat filsafat di Lingkar Studi Filsafat Discourse Malang

Sumber foto: https://www.goodreads.com/book/show/210190.The_Double

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top