Corona dan Kegugupan Kuliah Online

Oleh: Ady Guntur Wijayanto

Kesigapan bangsa kita dalam menghadapi wabah dapat disaksikan secara gamblang saat ini. Begitu pun kebijakan berbagai Perguruan Tinggi dalam menanggulangi dampak wabah Corona juga patut disimak secara kritis. Banyak kampus yang menetapkan sistem perkuliahan secara daring. Namun demikian para dosen pengampu mata kuliah mempunyai model pelaksanaan yang berbeda. Secara umum model yang diterapkan saat ini ada tiga.

Pertama, mata kuliah yang sifatnya presentasi. Kelompok yang mempresentasikan harus mengirim file PowerPoint ke grup. Kemudian moderator langsung mempersilakan anggota grup yang lain untuk bertanya. Setelah selesai terjawab, maka sesi perkuliahan pun ditutup. Kedua, mata kuliah yang sifatnya individu. Dosen memaparkan materi secara bertahap di grup. Kemudian membuka sesi tanya jawab. Dan perkuliahan selesai. Ketiga, ada juga dosen yang tidak ingin terlalu repot. Beliau memberikan berbagai tugas dengan materi dan deadline yang telah ditentukan. Bagi mahasiswa yang terlambat, maka secara otomatis tugas tidak diterima dan nilainya kosong.

Model perkuliahan seperti di atas sangat jarang diterapkan pada hari-hari biasa. Hal ini menyebabkan para mahasiswa kesulitan dalam beradaptasi. Bayangkan saja, setiap pagi sampai sore kita harus stand by menghadap gadget. Karena bagi mereka yang ketinggalan info maka dianggap absen atau tidak masuk. Belum lagi jika ada mahasiswa semester akhir yang mengulang perkuliahan. Jika ia tidak mengenal satu pun mahasiswa di tingkat bawahnya, sudah dipastikan masa depannya berakhir sudah. Kasus lain yang terjadi adalah mahasiswa yang memutuskan pulang ke kampung halaman. Mereka merasa kesulitan dalam mengumpulkan tugas karena sinyal yang lemah, begitu pula akses WIFI yang masih jarang di daerah pedesaan dan pesisir pantai.

Demikian tragedi ini dapat menjadi evaluasi bersama bagi kita. Bahwa proses pembelajaran secara daring dalam krisis seperti ini perlu ditelaah kembali. Indonesia yang disebut negara maju oleh Amerika ternyata belum bisa menghadapi musibah ini. Terutama dalam sektor pendidikan, terkhusus Perguruan Tinggi masih belum siap untuk dilakukannya perkuliahan daring.

Bapak dan Ibu Dosen yang terhormat, tolong jangan membuat hidup kami semakin rumit. Salam dari mahasiswa tersayang.

Penulis adalah Mahasiswa PerĀ­gerakan

Sumber Foto: https://nationalgeographic.grid.id/read/132037935/berapa-lama-virus-corona-dapat-hidup-dan-bertahan-di-permukaan

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top