Dunia Anak vs Dunia Maya

Oleh: Ali Adhim

Saya termasuk dalam barisan orang-orang yang kurang setuju apabila anak-anak dijauhkan dari Internet, bukan karena saya termasuk bagian dari korporat yang sengaja menggembar-gemborkan manfaat kecanggihan teknologi untuk mudahnya mengakses dan menyebarkan sebuah informasi.

Mengapa anak-anak ini tak boleh dijauhkan dari Internet? Tentu alasan yang paling mendasar adalah anak-anak tak boleh mengihlaskan segala cita-citanya, mengubur dalam-dalam segala mimpi yang tumbuh subur dalam fikirannya, anak-anak tak boleh tunduk pada segala keterbatasan yang mengelilingi wilayah hidupnya yang serba terbatas.

Dahulu mungkin anak-anak hanya bisa bermain petak umpet, kelereng, loncat tali, sepak bola, dan lain-lain, tetapi dengan adanya akses internet anak-anak kini bisa mengakses berbagai macam informasi, juga mengakses permainan yang bisa mengasah otak dan kreatifitas mereka seluas-luasnya.
Jangan bicara dulu soal mudhorot dan dampak negatif yang melekat pada kecanggihan teknologi ini, ya memang saat anak-anak yang jenaka itu tak lagi bermain kelereng, mereka akan kehilangan pusat kebudayaan dan ruang kebersamaan.

Ketika anak-anak fokus dengan gadget yang mereka miliki, mereka akan cenderung fokus, individual dan tak begitu nyambung apabila diajak bicara, bandingkan dengan anak-anak jaman dulu yang bermain di ruang terbuka, tak ada gadget tak ada ruang senyap privasi, mereka akan mudah diajak bicara dan memiliki rasa kebersamaan yang besar.

Kalau boleh saya bertanya, memangnya adakah sesuatu dia muka bumi ini yang tak memiliki dampak negatif? Rasa-rasanya semua hal memiliki plus minusnya, tapi apakah adil bila anak-anak yang pada dasarnya memiliki potensi menjadi orang besar di masa yang akan datang, menjadi kehilangan kesempatannya hanya karena dilarang dekat-dekat dan tenggelam dalam lautan kecanggihan teknologi.

Anak-anak tak boleh dijauhkan dari ruang yang canggih itu, kasihan mereka, seharusnya bila akses internet yang sudah hadir di desa-desa melalui warung kopi wifi, atau toko-toko tak boleh diklaim sebagai penyebab nakalnya anak-anak, ngantuknya anak-anak di sekolah bukan karena mereka keasyikan bermain di dunia Internet. Mereka hanya kurang kasih sayang dan pendampingan orang tuanya.

Melarang anak-anak bermain game di warung wifi saya rasa bukanlah langkah yang tepat bila orang tua tak mau memfasilitasinya di rumah, atau minimal memberinya aktifitas lain yang sebanding keasyikannya dengan dunia Internet. Memberi akses wifi atau internet di rumah bukankah itu juga akan memberi dampak buruk?

Saya rasa tidak, jika orang tua bersedia mendampingi anaknya, memberinya batasan-batasan, jadwal antara belajar mengaji dan bermain diawasi dengan sungguhan, anak-anak itu akan berkembang pada bidang yang mereka minati dan akan menjadi seorang ahli bila waktunya tiba.
Sebagai seseorang yang perah hidup di kota, saat liburan di Kampung, saya sendiri terkadang merasa bagaimana begitu saat melihat anak-anak yang dimarahi orang tuanya, mereka dijauhkan dari Internet, disuruh berdiam diri di rumah tanpa diberi aktivitas yang menyehatkan kesuburan fikiran dan kreatifitasnya.

Anak-anak ini akan mengalami tekanan psikologis yang cukup serius, mereka akan pasrah dengan keadaan, sementara kita tahu bahwa pasrah terhadap keadaan sama halnya dengan membiarkan hidup stagnan dan macet.

Bila anak-anak tak punya lagi harapan dan mimpi-mimpinya terpaksa harus dikuburkan dalam-dalam, kepada siapa ia harus mengadu? Sementara orang tuanya begitu kolot dengan pengetahuan dan wawasannya yang mengakar pada pengalaman hidup yang mereka miliki saat teknologi belum sampai pada masa remajanya.

Dahulu, Kartini sempat menjadi pemberontak, diusianya yang masih belia itu, ia memberontak tradisi dan budaya yang sedang dianut oleh masyarakat bahkan nenek moyangnya, ia menolak perjodohan dan larangan bagi perempuan untuk sekolah.

Lalu secara diam-dia dia menulis surat-surat dan keluh kesahnya di dalam kamar yang sempit kepada kakanya yang menjadi Wartawan Perang bernama Sosrokartono itu, karena kakaknya berwawasan luas, maka curhatan dan mimpi-mimpi R.A Kartini ini disambut baik, kemudian ia dikenalkan dengan orang-orang hebat yang ada di Belanda.

Barangkali benar juga bila kita menyebut internet adalah ‘barang dagangan’ para korporat yang telah berhasil menjajah desa-desa, meracuni anak-anak yang masih belia, memisahkan anak-anak dari aktivitas keseharian mereka di luar jam sekolah, tapi kita juga harus percaya bahwa anak-anak bisa berkembang di sana.

Orang tua, tak boleh menjauhkan mereka dari internet, kecuali orang tuanya memiliki wawasan seluas wawasan yang telah berhamburan di Internet. Di desa-desa banyak pesantren, banyak kiai, urusan akhlaq dan aktivitas keagamaan, ini menjadi PR Pesantren-pesantren itu, tak mungkin lembaga pesantren abai dengan hal ini, sebab pesantren sendiri menginginkan santri-santrinya menjadi pelaku teknologi, bagaimana mungkin itu akan terjadi bila santri-santri dijauhkan dari hal yang ingin digapai?.

Penulis adalah Direktur Belibis Pustaka

Sumber Foto: https://m.merdeka.com/feedid/trend/7-manfaat-internet-bagi-anak-151130h.html

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top