Muhammadiyah Beli Klub Sepak Bola, Siapkah NU dan MU Berlaga?

Oleh: Sam Sija

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur beberapa waktu lalu secara resmi telah mengakuisisi sebuah klub Liga 2, Persigo Semeru FC. Akuisisi tersebut berdampak kepada pergantian nama Persigo Semeru FC menjadi PS Hizbul Wathan. Persigo Semeru FC sendiri baru saja promosi ke Liga 2 2020 dari Liga 3 2019.

Akuisisi yang dilakukan oleh PWM Jatim terbilang cukup mengagetkan, karena tim-tim tanpa basis “kedaerahaan” di Indonesia terbilang cukup sulit dalam menggaet hadirnya penonton untuk datang ke stadion. 2 tim “aparat” yaitu Bhayangkara FC dan PS TNI (PS-TIRA) merupakan contoh termutakhir. Nama terakhir, belakangan telah melakukan merger dengan salah satu klub Bogor dan telah bertransformasi menjadi Persikabo Bogor. Namun bukan hal ini yang akan penulis bahas dalam tulisan ini.

Kepemilikan klub sepak bola oleh Muhammadiyah ini secara langsung membawa penulis membayangkan terjadinya Derby antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah vs Nahdlatul Ulama di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1. Pertandingan derbi, menurut Wikipedia, adalah pertandingan antara tim olahraga (umumnya lokal) yang mempertemukan dua tim yang masing-masing memiliki rivalitas tersendiri. Pertandingan derbi yang ada dapat terjadi karena persaingan prestasi antara kedua tim dalam dunia olahraga, persaingan antara dua tim satu kota yang membuat pertandingan menjadi bergengsi, ataupun sebab lain yang menyebabkan kedua tim memiliki rivalitas.

Di Indonesia tentu kita familiar dengan derbi klasik Jawa Timur yang mempertemukan antara tim Kota Malang, Arema FC menghadapi tim tetangganya Persebaya Surabaya atau laga “El-Classico Indonesia” antara tim Ibukota Persija Jakarta melawan Persib Bandung. Dari Eropa, siapa yang tidak mengenal Derby Della Madonina antara tim satu kota Milan, AC Milan vs Inter Milan atau Derby D’Italia antara Inter Milan vs Juventus. Pertandingan derbi memang selalu menghadirkan intensitas tinggi dan perhatian dari banyak mata pecinta sepak bola. Faktor rivalitas, prestasi atau “penguasa” sebuah kota menjadi faktor eksternal sebuah pertandingan yang membuat pertandingan semakin seru untuk disaksikan.

Hadirnya PS Hizbul Wathan dalam dunia sepak bola Indonesia adalah hal baru. Muhammadiyah sebagai sebagai sebuar ormas Islam telah membuka lembaran baru dalam khazanah persepakbolaan tanah air dan mungkin sekaligus menjadi ormas pertama yang memiliki sebuah klub sepak bola. Nahdlatul Ulama sebagai salah satu “pesaing” terkuat Muhammadiyah rasanya perlu untuk mengikuti langkah PWM Jatim tersebut, dengan memiliki klub sepak bola di Indonesia. Jika NU mengikuti jejak Muhammadiyah untuk memiliki klub sepak bola, pertandingan kedua ormas tersebut adalah hal yang sangat penulis nantikan. Pertandingan antara NU vs MU layak dilabeli dengan “Derby El-Islam” karena kedua ormas tersebut merupakan representasi Islam Indonesia. Sejarah panjang kedua ormas dalam perjuangan dan mengisi kemerdekaan Indonesia akan menjadi bumbu penyedap yang akan diperbincangkan para pengamat sepak bola sekaligus para komentator televisi.

Pada saat pertandingan berlangsung, kedua suporter akan berduyun-duyun datang ke stadion di mana pertandingan berlangsung. Kelompok “Ultras” kedua kesebelasan akan mengisi sektor tribun belakang gawang, masing-masing Ultras NU di selatan dan Ultras MU di utara, sementara tribun timur dan VIP secara bersamaan akan diisi oleh kelompok suporter “Mania” yang duduk berdampingan dikawal oleh aparat. Sautan chant dari selatan akan dibalas dari utara, capo masing-masing ultras berdiri di tempat seharusnya memimpin anggota yang lainnya bernyanyi selama 90 menit. Kedua ultras akan mengumandangkan sholawat yang sama, namun kelompok dari utara akan menyelesaikan bacaan sholawatnya terlebih dahulu karena di selatan ada imbuhan “sayyidina wa maulana” dalam bacaan sholawatnya.

Ketika para pemain kedua kesebelasan memasuki lapangan, baik dari tribun selatan atau utara telah mempersiapkan koreografi terbaiknya. Kertas-kertas ukuran 30×30 cm telah berada di tangan masing-masing dan hanya tinggal menunggu aba-aba dari capo untuk diangkat. Perlahan-lahan, koreografi kertas dari kedua ultras tersebut terbentuk. Dari selatan, sekilas terlihat sesosok yang agak berumur, menggunakan serban dan sangat berkharisma, beliau adalah KH. Hasyim Asy’ari dalam koreografi dari Ultras NU ditambah tulisan “ISLAM NUSANTARA” tepat di bawah gambar pendiri NU tersebut. Sementara dari utara juga demikian, seorang teman dari KH. Hasyim Asy’ari! Beliau adalah KH. Ahmad Dahlan yang “dilukis” oleh koreografi Ultras MU dan juga tulisan “ISLAM BERKEMAJUAN” tepat di bawah wajah pendiri Muhammadiyah tersebut. Sebuah pertunjukan yang sangat menggembirkan, melihat wajah dua pendiri ormas Islam terbesar hadir di tengah sepak bola Indonesia menyaksikan para anak-cucunya melaksanakan pertandingan derbi yang memperebutkan gelar juara Liga 1.

Tentu kondisi tersebut adalah sebuah angan-angan, karena hanya Muhammadiyah saja saat ini yang mempunyai klub sepak bola melalui PS Hizbul Wathan, namun siapa tau di masa yang akan datang Nahdlatul Ulama juga mendirikan klub sepak bola yang merintis karir dari Liga 3. Jika boleh memberi saran, sebaiknya kedua kesebelesan ini bermarkas di daerah di mana kedua ormas Islam tersebut didirkkan, Jombang dan Jogjakarta!

Rasanya sangat menggembirakan jika angan penulis menjadi kenyataan. Sudahkah Anda warga NU siap memiliki klub sepak bola dan merawat klubnya dengan baik? Dan juga anda warga Muhammadiyah siapkah menghidupi PS Hizbul Wathan dengan datang ke stadion dan membeli jersey original? Bagaimana dengan penulis? Sebagai warga NU pinggiran, penulis akan dengan senang hati menanti lahirnya klub sepak bola milik NU. Dan jika pertandingan dilakukan bulan puasa, mungkin tribun warga NU akan penuh sesak terlebih dahulu timbang tribun utara milik Ultras Muhammadiyah, karena sekalipun shalat tarawih Muhammadiyah hanya 8 rakaat dan NU 20 rakaat, namun sudah menjadi rahasia umum jika tarawih NU lebih cepat dari Muhammadiyah, hehe. Dan untuk Ultras NU, jangan telat masuk stadion karena habis sholat masih wiridan terlebih dahulu atau karena alasan “qunut” wkwk.

Penulis adalah Aremania

Sumber Foto : Instagram @infoliga2_indonesia

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top