Gus Sholah: Merubah Tradisi dan Langkah Modernisasi Santri

Oleh: Raudlatul Fikri Abdillah

Tahun 2006 di Pesantren Tebuireng diadakan serah terima kepengasuhan pesantren dari KH. Yusuf Hasyim (Pak Ud) kepada Ir. KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah). Setelah itu tahun berikutnya, 2007 Pak Ud dipanggil ke hadirat Allah SWT.

Sebelum berpulang, Gus Sholah juga mengangkat KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Wakil Pengasuh di dalam kepengasuhan Pesantren Tebuireng mulai tahun 2016. Empat tahun berselang, akhirnya Gus Sholah menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada hari Ahad, 2 Februari 2020.

Tradisi mengangkat pengganti sebagai pengasuh ini terbilang baru di lingkungan pesantren pada umumnya. Di mana pengasuh pesantren biasanya diganti setelah pengasuh wafat.

Kami sebagai santri Tebuireng, dahulu sempat sedikit meragukan pergantian dari Pak Ud ke Gus Sholah. Entah mengapa ini juga dirasakan oleh alumni-alumni yang melihat Tebuireng dari luar.

Gus Sholah sebagai cucu Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari lebih memilih menekuni ilmu-ilmu modern daripada belajar di pesantren dengan ilmu kitab agama yang bersumber dari kitab-kitab turats. Latar belakang sebagai lulusan ITB jurusan arsitektur membuat kami berpikiran Gus Sholah lebih mahir membangun bangunan dari pada membangun manusia. Begitu kira-kira yang ada di dalam benak kami.

Selang beberapa tahun setelah Gus Sholah menjadi pengasuh, sedikit demi sedikit kekhawatiran kami luntur. Dalam waktu yang relatif singkat, Gus Sholah menjadikan Pesantren Tebuireng lebih memiliki kualitas. Seperti mendirikan Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari yang fokus dalam ilmu agama, mendirikan SMA Trensains untuk pengembangan sains dan merekonstruksi ulang IKAHA menjadi Universitas Hasyim Asy’ari.

Gus Sholah memang tidak mengajar kitab kuning selayaknya pengasuh pesantren lain. Namun lebih kepada me-manage sistem di dalam pesantren. Gedung-gedung baru juga didirikan, mualai dari asrama, gedung pertemuan, perpustakaan, klinik. Hal ini Gus Sholah lakukan agar pesantren tidak dipandang kuno dan ketinggalan zaman.

Ada lima pesan yang selalu disampaikan kepada para santri, bahkan ditulis di berbagai sudut Pesantren Tebuireng sebagai nilai dasar yang wajib diamalkan para santri. Pertama, santri Tebuireng harus “ikhlas” dalam mengamalkan kebaikan.

Kedua, santri harus “jujur” dalam setiap tindak-tanduknya. Pernah Gus Sholah menyampaikan bahwa banyaknya korupsi di negeri ini bukan karena tidak adanya orang pintar, tapi karena jarang ditemukannya orang yang jujur.

Ketiga, santri Tebuireng haruslah “bekerja keras” untuk mencapai cita-citanya. Pejuang. Gigih dalam segala situasi dan kondisi. Karakter ini harus dimiliki para santri.

Keempat, santri Tebuireng harus “bertanggungjawab” terhadap apapun yang mereka lakukan. Artinya harus punya kesiapan untuk mengambil resiko menghadapi tantangan zaman yang semakin tidak menentu ini.

Kelima, santri harus mempunyai tradisi “tasamuh”. Toleransi yang tinggi di dalam kemajemukan di dalam negeri ini.

Di antara kelima nilai dasar santri tersebut. Yang paling Gus Sholah tekankan adalan nilai dasar yang pertama dan yang kedua, Gus Sholah berpendapat dua hal tersebut menjadi kunci utama kesuksesan dalam hidup, dan berharap selalau diterapkan santri-santrinya di seluruh belahan dunia ini.

Kini Gus Sholah telah beristirahat di Maqbaroh Pesantren Tebuireng. Semoga kami para santri-santrinya bisa tetap mengamalkan apa yang dulu pernah beliau nasihatkan dan teladankan.

Penulis adalah Alumni Pesantren Tebuireng dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Sumber Foto: https://gopos.id/tokoh-nahdlatul-ulama-gus-sholah-wafat/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top