E‐ekspresionis dan Karya Homage To Raden Saleh

Oleh: Syarif Shadow

E‐ekspresionis adalah istilah yang dipakai oleh Nicolas Negroponte dalam salah satu bagiannya di buku Being Digital. Electronic expressionism ini tidak dimaksudkan oleh Nicolas untuk merujuk pada aliran ekspresionisme, namun ekspresionisme elektronis adalah ungkapan dengan media elektronis (digital). Dunia digital ini memiliki kecenderungan mutasi gambar yang sempurna. Sebuah gambar dikutip, diperlakukan sedemikian rupa hingga menjadi gambar baru.

Pola seperti ini secara langsung juga menyuburkan pandangan pastische dan parody atau pandangan yang secara umum memiliki dasar pemikiran bahwa karya yang hadir kini adalah karya yang tidak orisinal, artinya karya itu hadir tidak membawa sesuatu yang sama sekali baru, namun karya itu hadir dengan tumpukan jenis atau bentuk‐bentuk seni dari masa yang sebelumnya. Saya sering menggambarkan masa ini    dengan bilangan 0 s/d 9 orisinalitas berakhir diangka 9, setelah angka 9, kebaruan‐kebaruan hanyalah perkara kombinasi‐kombinasi yang satu dengan yang lain seperti angka 10, 17, 109 dan seterusnya. Karya yang hadir kini pun juga serupa itu kebaruan hari ini adalah kebaruan kombinasi.

Dalam karya ini, saya kira Didit juga menganut kecenderungan yang sama yaitu merayakan sebuah kejamakan dalam satu karya. Karya yang bertajuk Hommage to Raden Saleh. Dalam karya ini jika kita menautkan pada peristiwa penangkapan Diponegoro, karya Niklass Pieneman  dan tentu saja karya Raden Saleh. Karya Didit justru mendinamiskan kembali dengan kata lain memberikan “gambar kembali bagi uang logam yang telah kehilangan gambarnya” seperti kata Nietzsche bahwa kalimat literal adalah kalimat metafora yang telah mati, ibarat uang logam, ia telah kehilangan gambarnya sehingga yang tersisa adalah hanya logamnya saja sedangkan nilainya telah musnah.

Lukisan Penangkapan Diponegoro, hingga kini terus dibubuhi gambar, karya itu tak sempat kehilangan gambarnya bahkan cenderung lebih kaya gambar‐gambar baik yang ditorehkan oleh Werner Kraus, Marie Odette Scalliet dan tentu saja terutama Peter Carey maupun seniman‐seniman yang melukis dengan tema seputar Raden Saleh. Karya tema Raden Saleh ini sebenarnya juga telah sering digelar dalam pameran‐pameran peringatan terhadap Raden Saleh.

Karya yang kini hadir pada pameran ini memiliki format yang berbeda yaitu dalam format video animasi 2D. Karya Didit ini mengambil sudut populer selfie dan narsis, ia menafsirkan bahwa sesungguhnya Raden Saleh juga gemar melakukan dua hal itu, Didit menunjukkan apa yang dilakukan oleh Raden Saleh dalam lukisan Penangkapan Diponegoro juga menampilkan kegemaran narsisnya. Yang menarik dari yang dilakukan Didit adalah ia tak menyoal gegap gempitanya masalah nasionalis atau tidak, seperti yang kerap dilakukan oleh perupa‐perupa yang lain.

Secara tak langsung karya Didit ini sesungguhnya menarik soal lukisan Penangkapan Diponegoro yang heroik itu, ke penggambaran sosok Raden Saleh sebagai sosok yang biasa, alias juga suka mejeng. Kendati perspektifnya kocak, anti‐hero namun dalam proses pembuatan karyanya ini, Didit ternyata melakukannya dengan sepenuh hati bahkan cenderung berpikir dalam‐dalam. Proses pembuatan karya ini, tak sekali tarikan nafas jadi, banyak pertimbangan yang dilakukannya seperti penentuan  media, penentuan sudut pandang dan bentuk videografi seperti apa yang kiranya cocok untuk memuat tema itu. Pada akhirnya, Didit misalnya memilih animasi untuk pilihan teknis presentasinya.

Pilihan ini barangkali disadari betul oleh Didit sebagai media yang bisa menyuarakan ide kocak serta menarik persoalan yang gegap gempita menjadi soal penggambaran sosok Raden Saleh yang biasa.Sebagaimana yang diungkapkan di muka jika kita menempatkan lukisan Niklas Pienemann sebagai teks pertama kemudian lukisan penangkapan Diponegoro  Raden Saleh dengan sudut pandang yang berbeda sebagai teks kedua, kemudian kita tempatkan karya Didit ini pada teks ketiga. Karya Raden Saleh jikalau kita menafsirkan karya itu sebagai karya Pastische yaitu bentuk seni posmodern yang didefinisikan sebagai karya yang elemen‐elemenya berasal dari karya masa lalu (atau karya orang lain sebelumnya).

Teknis pembuatan karya macam ini seringkali dianggap sebagai hal yang negatif, teknis seperti ini sama saja seperti karya plagiat. Apa yang dilakukan oleh Raden Saleh kendati ia terinspirasi oleh karya Pienemann, karya ini memiliki perspektif yang berbeda dan jika kita lihat berbagai sket sebelum karya itu dibuat, hingga rujukan‐rujukan yang digunakan oleh Raden Saleh yang kini banyak diungkap, betapa   karya itu dipersiapkan dengan demikian serius hingga muncul pelbagai sket studistudinya sebelum karya itu dibuat. Karya yang dibuat oleh Didit barangkali bisa dibilang berada pada bahasa estetis parodi, sebuah bahasa estetis lain dalam lingkup bahasa estetis posmodernisme.

Parodi memiliki kecenderungan yang serupa dengan bahasa estetis yaitu referensi teks masa lampau.Teks parodi yang dipaparkan Didit dalam karya ini lebih berada pada penekanan aspek humor sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan teradap karya rujukannya. Layaknya film animasi, karya ini memiliki aspek gerakan (walk cycles, yang membedakanya denga motion graphic) alur waktu dan cerita yang tidak ditemukan dalam karya yang dirujuknya artinya karya ini dilakukan dengan sudut dan cara yang berbeda dari teks rujukannya.

Karena aspek‐aspek animasi yang telah disebutkan diatas maka karya ini pun memiliki tantangan tersendiri misalnya efektifitas penggunaan animasi dalam karya tersebut. Serta penyusunan grafis yang  cenderung bergaya kartun, music scoring serta terutama gerak dinamis animasinya. Dari pengalaman saya pribadi seni media baru macam animasi ini, di wilayah seni rupa sering terabaikan faktor teknis di luar perupaannya yang berada di luar tradisi seni rupa lama.

Upaya ini sesungguhnya juga telah dilakukan Duchamp untuk penyebutannya. Duchamp lebih memilih istilah retinal art dari pada visual art, yaitu apa yang dicerap ole mata demikian dengan gerakan. Kalau kita melihat sepak terjang Duchamp, di akhir hayatnya ia juga membuat karya animasi, sejenis terjemahan atau kelanjutan gerakan sequential Nude Descending Staircase No.2 dengan media yang berbeda.

Penulis adalah Kurator Seni Rupa,   Creative Media Developer

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top