Gus Dur dan Perlawanan Melalui Lelucon

Oleh: Ahmad Qomaruddin

Tepat menjelang penghujung bulan Desember Tahun 2019 kemarin, KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur telah  genap sepuluh tahun meninggalkan kita semua dan pulang menghadap sang pencipta. Sebuah kepulangan yang kita semua pasti mengalaminya namun tak ada yang tahu kapan dan di mana tempatnya.

Semua orang bisa melihat dan membicarakan Gus Dur, tapi tak banyak yang bisa meniru dan mempraktikkan ihwal apa saja dari seorang Gus Dur. Ibarat satu atau beberapa butir dari sedompol buah-buahan yang dimiliki beliau, kita hanya bisa memakan beberapa saja, lainnya tidak, termasuk lelucon-leluconnya.

Semasa hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang suka bergurau dan melucu. Lelucon khas ala mantan ketua PBNU tersebut bukan hanya bisa mencairkan suasana yang tegang dan canggung atau sekadar mempererat tali persaudaraan, melainkan mengandung makna filosofis  perjuangan dan perlawanan.

Seorang atlet pelari dari negara  Syria berhasil memenangkan  medali emas dalam gelaran olimpiade. Tak pelak, banyak wartawan mengerumuni sang atlet lalu mewawancarainya. “Apa yang menjadi rahasia kemenangan sehingga membuat anda begitu semangat dalam memenangkan perlombaan ini?”, Tanya seorang wartawan. “Setiap kali menjelang start perlombaan, saya membayangkan serdadu Israel di belakang garis start dan di antara penonton yang berjejalan di tribun, sehingga saya selalu ingin paling dahulu lari sejauh-jauhnya dan secepat-cepatnya”. Jawab sang atlet.

Sebuah buku berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela halaman 209-210 yang ditulis beliau begitu menggelitik, tersirat pesan autokritik pelanggaran HAM yang dilakukan tentara Israel kepada warga Syria. Pesan kemanusiaan dikemas dengan gaya lelucon khas Gus Dur dengan tidak membuang esensinya.

Siapa yang menyangka bahwa nama putri sulung Gus Dur “Alissa” Qotrunnada Munawaroh terinspirasi dari novel “La Porte Etroite” karya novelis asal Prancis bernama Andre Gide, Judul novel  tersebut diambilkan dari salah satu ayat dalam Bibel. Karena sangat kagum dengan isi novel tersebut, Gus Dur memberi nama depan Alissa kepada putri pertamanya, sama persis dengan pemeran utama dalam novel.

Mungkin Gus Dur ingin berpesan  kepada semua orang untuk berpikir mengutamakan isi dari pada bungkus. “Don’t judge a book by its the cover” dipraktikkan oleh beliau secara langsung dalam keluarga. Sangat tidak lazim jika dibandingkan dengan kebanyakan orang Islam memberi nama anak-anaknya dengan membuat list tokoh-tokoh muslim  terkemuka dan mencari inspirasi dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an, hadits atau yang lainnya. Beliau malah terinspirasi dari potongan ayat Bibel.

Dalam sebuah talk show yang ditayangkan oleh program Kick Andy pada tahun 2007 silam, Gus Dur ditanya oleh Andi F Noya selaku pemandu acara tersebut mengenai kasak-kusuk konfliknya dengan Pak Harto, Faizal Tandjung (Panglima ABRI) dan Wiranto (Panglima KOSTRAD) pada waktu itu.

“Gus, yang dimaksud rencana menghabisi Anda dan Megawati itu dihabisi nyawanya atau karirnya?”, tanya Andy. Lalu Gus Dur menjawab, “pasca mendengar berita itu, saya langsung telpon Pak Air dan menyuruhnya untuk segera menghadap Pak Harto, lalu Pak Harto berdalih bahwa nggak mungkin dong saya memberi perintah seperti itu, Megawati itu dilindungi ayahnya, Gus Dur dilindungi para kiai, lah selesai kan urusannya, wong itu soal politik kok, politik mengharuskan begitu ya harus begitu”. Disambut dengan tertawa dan tepuk tangan dari penonton. “Pak Harto itu orang pintar lo, Jasanya bagi bangsa ini cukup besar walaupun dosanya juga besar”.

https://youtu.be/XazIMPOdXCo

Cucu pendiri NU yang satu ini sangat hormat dan mengapresiasi Pak Harto sebagai mantan presiden, namun terlepas dari itu semua Gus Dur sangat gamblang dengan sikap kontranya kepada rezim pada waktu kepemimpinannya

Terlalu sempit apabila perjuangan dan perlawanan hanya melulu soal siapa yang paling kuat dan lemah, berapa jumlah massa aksi yang akan dibawa menuju tempat berdemonstrasi dan seberapa berani kita turun ke gelanggang lantas bertarung hingga mati-matian.

Ketika Gus Dur masih hidup sampai wafat pun masih istiqomah berjuang dan melawan dengan gayanya. Perjuangan dan perlawanan yang dilakukan mendiang Gus Dur bisa  lewat jalur politik, saat menjadi kiai, menduduki jabatan presiden dan menjadi orang biasa sekalipun. Bahkan sampai guyonan dan leluconnya diselipkan pesan-pesan eksplisit dan implisit apa itu berjuang dan melawan.

Itulah Gus Dur, yang  bisa terus berjuang meskipun saat sedang serius maupun bercanda, seperti tukang satire ulung yang mampu mengartikulasikan apa saja yang menurutnya harus dilawan dan diperjuangkan.

Gus Dur sudah mencontohkan, kita yang harus melanjutkan!

Penulis adalah Koordinator Gusdurian Muda Malang

Sumber Foto: https://beritagar.id/artikel/ramadan/humor-gus-dur-dari-presiden-hingga-proyek-di-surga

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top