Konservasi Gambus Misri dalam Kenduri Seni Rupa Wayang Beber Indonesia

Oleh: Abdul Malik

Kenduri Seni Rupa Wayang Beber Indonesia adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Komunitas Pelestari Seni Budaya Dusun Kedungsari didampingi oleh Yayasan Air Kita Mojoagung.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari berturut-turut dengan serangkaian acara yang dilaksanakan sejak pagi sampai malam. Mulai dari pameran, workshop, sarasehan, hingga pertunjukan seni.

Semua kegiatan memanfaatkan rumah warga dan ruang-ruang publik di jalan utama dusun Kedungsari, sepanjang 200 meter.

Banyak peristiwa menarik dalam kegiatan yang digelar pada 5-6 Oktober 2019 ini. Atas kerjasama Yayasan Air Kita dan Kedutaan Hungaria Jakarta, perhelatan Kenduri Seni Rupa Wayang Beber bisa menampilkan pertunjukan kolaborasi wayang beber Indonesia-Hungaria.

Gambaran saat aktor mementaskan Kenduru Seni Rupa Wayang Beber oleh Komunitas Pelestari Seni Budaya Dusun Kedungsari

Pertunjukan apik tergarap oleh para seniman lintas kultur; Péter Szilágyi (antropolog dan seniman kelahiran Hungaria), Ki Sri Waluyo (wayang Cing-cing Mong), dan Dani Iswardana (perupa wayang beber).

Selain itu, peristiwa penting di acara ini adalah konten acara yang tidak hanya menyoal tentang warisan seni wayang beber, tapi juga menyentuh seni tradisi di dusun setempat yang sudah lama tenggelam; yaitu Seni Tradisi Gambus Misri.

Momentum menghidupkan seni wayang beber menularkan semangat pada warga untuk menghidupkan kembali gambus misri bernama Bintang Sembilan.

Kelompok Gambus Misri Bintang Sembilan mungkin salah satu kelompok yang tidak terkenal di masanya, namun semangat untuk mewariskan kearifan lokal masa lalu pada generasi muda masa kini patut diapresiasi.

Setelah puluhan tahun gambus misri mati suri, pada 6 Oktober 2019 menjadi sejarah besar kebangkitannya lagi. Yaitu terlaksananya pentas gambus misri oleh para pelaku asli gambus misri Bintang Sembilan. Pentas itu sebagai bagian dari usaha konservasi yang dilakukan secara bertahap untuk menelusuri dan menemukan teks, notasi, instrumentasi, dan gerak mendekati aslinya.

Sebagai kesenian yang lahir di kabupaten Jombang gambus misri sangat penting untuk kembali dihidupkan, dirawat, dan dilestarikan. Upaya konservasi patut didukung semua pihak. Semua untuk masa depan Jombang yang memiliki harapan besar menjadi kabupaten berkarakter.

Penulis adalah Aktivis Seni Budaya, sekarang sebagai Pengurus Museum Musik Indonesia (MMI)

Sumber Foto: https://faktualnews.co/2019/10/11/menggugah-wayang-beber-dan-gambus-misri/169093/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top