Subchan ZE: Sang Juru Bicara Kaum Muda Nahdlatul Ulama

Oleh: Fathul H. Panatapraja

Sebuah Manakib Pendek

Soekarno: “Chan, kamu dulu itu orang baik, tetapi sekarang menjadi nakal, dan ikut-ikut demonstrasi.”

Subchan: “Tidak, tidak, saya tidak ikut-ikut demonstrasi.”

Soekarno:  “Jelas, kamu ikut demonstrasi.”

Subchan: “Tidak, tidak, saya tidak ikut-ikut demonstrasi. Tetapi saya yang memimpin demonstrasi.”

Dialog itu terjadi pada saat Soekarno masih dalam jaya-jayanya, dan jarang sekali saat itu ada orang yang berani berbeda pendapat, apalagi menentang Soekarno.[1]

Nama yang Tak Membekas di Kertas, Namun Terngiang dalam Ingatan

Subchan Z.E, Subchan Zaenuri Echsan. Sosok yang sudah memiliki langkah panjang dan jam terbang yang padat semenjak belia. Pemuda bujang kelahiran Malang – Jawa Timur tersebut semenjak muda sudah memiliki insting pembaharuan dan disiplin yang tinggi. Tak pelak di kemudian hari namanya sangat diperhitungkan dalam perpolitikan tanah air. Sebagai wakil dari NU di parlemen yang progresif dan tak kenal lelah.

KH. Chalid Mawardi pada saat menjabat sebagai Sekjen GP Ansor menjuluki Subchan dan kelompoknya sebagai “Kelompok Elang Rajawali” atau juga disebut olehnya sebagai “Kelompok NU Prinsipil”.[2] Karena di kalangan parlemen maupun di internal NU, keberadaan Subchan memberikan kebanggaan tersendiri. Terlebih pada kaum muda Nahdlatul Ulama.

Untuk mencari jejak Subchan dalam literatur tanah air agak sulit ditemukan. Yang kemungkinannya kecil sekali untuk secara lengkap ditelusuri. Bahkan sampai sekarang mengenai tanggal dan tahun kelahirannya pun masih simpang siur. Ada yang mengatakan 29 Januari 1929, 1930, atau 22 Mei 1931. Ibu angkatnya pun Ny. Masronah Kudus lupa tanggal dan tahun pastinya.

Kini hanya tanggal kematiannya saja yang jelas, yaitu 21 Januari 1973. Mungkin seperti para penyair, yang menolak tanggal lahir, namun menghendaki tanggal kematian yang terus dikenang; penyair mati, penyair abadi.

Nama Subchan, menjadi hilang dan menguap di udara bersamaan dengan kepergiannya yang misterius. Kematiannya pun memiliki banyak versi. Mati di tengah-tengah pergolakan politik tanah air yang tak menentu. Mungkin hari ini orang sudah tidak bisa melacak siapa Subchan Z.E, namun pernah mendengar namanya. Di mana ia pernah berjaya sebagai tokoh muda, dari kalangan Nahdlatul Ulama.

Dari Melawan PKI Hingga Menyelamatkan HMI

Subchan memiliki peran penting saat akhir Orde Lama. Ia tampil sebagai pemimpin muda  yang menggerakkan Front Pancasila dalam misi ganyang PKI. Sebagai Ketua KAP Gestapu Subchan memiliki massa di belakangnya dari kalangan berbagai organisasi kepemudaan dan mahasiswa, baik GP Ansor, HMI, PMII, PMKRI, KAMI (bukan KAMMI), dan organisasi mahasiswa ekstra universiter lainnya. Untuk membaca fenomena ini (“ganyang PKI”) sebaiknya kita tidak memakai kacamata atau perspektif “hari ini”.

Semenjak diadakannya Rapat Umum yang bersejarah di Taman Sunda Kelapa disertai pernyataan bersama oleh para tokoh dan aktivis organisasi pada 4 Oktober 1965 itu, Subchan menjadi pemimpin massa dalam rapat-rapat akbar dan mengendalikan berbagai demonstrasi yang terjadi. Subchan sangat populer di masyarakat. Sebagai perwajahan kaum muda Nahdlatul Ulama, saat itu.

Dalam masa yang sulit itu, ada sepenggal kisah yang menarik tentang pembelaan Subchan terhadap HMI. Bahwa saat Soekarno dapat dengan mudah membubarkan Masyumi, maka golongan kiri mendesak Soekarno untuk turut pula membubarkan HMI. Dengan alasan bahwa HMI sangat berbahaya dan berwatak Masyumi.

Sampai pada akhirnya NU membela HMI agar tidak dibubarkan. NU dengan tegas menyatakan diri siap mengorbankan jiwa dan raga apabila perlu, demi kelangsungan hidup HMI.[3] Adapun di balik keputusan NU tersebut, Subchan lah pelopornya, yang mati-matian membela.[4]

Namun bagaimana hubungan antara HMI dan NU hari ini?

Bukan hanya membela, Subchan juga menyelamatkan keberlangsungan HMI, bahkan rumah Subchan di Jalan Wahid Hasyim juga rela untuk dipakai sebagai “markas” bagi anak-anak HMI. Ketika Subchan menempati rumah di Jalan Banyumas 4, HMI yang waktu itu dipimpin Sulastomo juga memindahkan “markas”nya ke sana.

Tirakat Bisu, Upaya Melawan Pemurnian Politik Orde Baru

Sebagai wakil dari partai NU yang duduk di MPRS, Subchan selalu vokal dan gigih dengan suara lantang untuk memperjuangkan eksistensi NU di parlemen. Terbukti saat Mendagri Amir Machmud mengeluarkan  Permen 12/1969 yang isinya mengatur pemurnian anggota parlemen yang pada sesungguhnya akan menguntungkan Golkar (monoloyalitas), Subchan menolak keras.

Subchan terus melawan gerakan Golkarisasi parlemen tersebut, dengan penuh risiko ia jalani. Karena Subchan menganggap pemurnian parlemen/ Golkarisasi adalah upaya pembonsaian politik yang akan merugikan kepentingan politik yang lebih besar, demokratisasi dan pembaharuan sistem bernegara.

Subchan dalam memperjuangkan gagasannya tentang konsep pembagian politik, dimulai dari debat terbuka secara rasional, ancaman walk out dari parlemen, sampai pada gerakan yang bersifat tak rasional seperti “tirakat bisu”, puasa, salat hajat, serta amalan doa-doa khusus.[5] Subchan adalah seorang modernis yang agamis.

Anak Nakal yang Dicintai Kiai

1972 adalah tahun penting bagi Subchan. Di mana ia dipecat dari posisinya sebagai Ketua I PBNU. Surat pemecatan dari PB Syuriyah NU bernomor: 004/Syur/C/I/72, bertanggal 21 Januari 1972 itu ditanda tangani langsung oleh KH. Bisri Syansuri selaku Rais Aam.

Informasi yang berkembang bahwa pangkal persoalan pemecatan Subchan adalah mengenai kepribadian Subchan, yaitu karena Subchan memiliki pergaulan yang terlampau “liar” di luar komunitas santri. Dan perihal itu, kelompok “NU Tua” kurang begitu suka. Juga tentang Orla vs Orba yang dalam kemelut tersebut terdapat kelompok “NU Tua” yang katanya juga ikut bermain untuk menghilangkan Subchan dari peredaran kepemimpinan.

Tidak kalah serunya, misteri pemecatan Subchan dari Ketua PBNU dan tersingkirnya Subchan dari pentas politik adalah merupakan “operasi senyap” yang dilakukan oleh tubuh militer yang dipimpin oleh Ali Moertopo. Subchan telah mencapai tingkat karir politik yang mengharuskan ia untuk mengincar posisi Perdana Menteri atau setingkatnya. Pada tahun 1971, Muktamar NU di Surabaya meminta agar Wakil Presiden Republik Indonesia dipercayakan kepada NU, calonnya jelas, hanya dua, antara KH. Idham Chalid atau Subchan Z.E.[6]

Subchan memang telah dipecat dari PBNU, namun NU di daerah-daerah dan khususunya organisasi-organisasi kepemudaan NU: GP Ansor, IPNU, PMII terus mendukung Subchan dan menolak proses pemecatan itu. Kiai-kiai sepuh banyak yang sayang pada Subchan. Diantaranya adalah dua ulama’ khos, KH. Machrus Ali Lirboyo dan KH. Ali Maksum Krapyak.[7]

KH. Ali Maksum sempat mengirim surat kepada PBNU dengan tulisan tangan aksara pegon berbahasa Indonesia. Dalam suratnya mengatakan bahwa sepeninggal Subchan, orang di luar NU akan melihat NU sebagai semacam “Partai Tahlilan”.

Dalam Harian Kami terbitan 21 Januari 1972, KH. Ali Maksum juga mengatakan “Sungguh tragis orang yang telah menghabiskan masa dan usia mudanya untuk memperjuangkan agamanya yang di saat-saat kritis telah menyabung nyawa membela umatnya yang berani adu dada menghadapi lawan-lawannya, disingkirkan begitu saja. Adilkah itu?”

Saat Subchan dipanggil oleh yang kuasa, Mbah Bisri turut mengantarkan jenazahnya. Sebagai Rais Aam diam-diam Mbah Bisri juga menyayangi Subchan. Subchan yang katanya “nakal” itu.  Subchan mati sebagai syahid dan dimakamkam di Ma’la. Sebuah kompleks pekuburan yang spesial, di mana orang-orang dekat Nabi juga dikebuminkan di sini, termasuk Sayidah Khodijah istri Nabi. Dan belum lama juga kiai kharismatik kita Mbah Maimoen Zubair juga dimakamkan di Ma’la.

Subchan dimusuhi banyak orang, namun ia dicintai berbagai kalangan. Jika dulu Subchan adalah anak nakal NU yang dicintai kiai, Subchan seorang diri. Sekarang PMII sering disebut (menyebut dirinya) sebagai anak nakalnya NU, tapi tidak tahu kalau anak nakal yang ini dicintai kiai atau tidak.

Hal penting terakhir yang harus diingat adalah pesan Subchan Z.E pada kita semua. Pada saat ia menyampaikan pidato LPJ di Muktamar NU ke-25 di Surabaya, 20-25 Desember 1971: “Menyelamatkan umat berbeda dengan menyelamatkan kedudukan pemimpin.”

Penulis adalah seorang pembaca, tinggal di Malang

Sumber Bacaan:

  • Arief Mudatsir Mandan (editor), Subchan Z.E: Sang Maestro, Politisi Intelektual dari Kalangan NU Modern.  Jakarta: Pustaka Indonesia Satu, 2001.
  • Kembali ke Pesantren, Kenangan 70 Tahun KH. Ahmad Syaichu. Jakarta: Yayasan Islam Al- Hamidiyah, 1991.
  • Victor Tanja, HMI Sejarah dan Kedudukannya di Tengah Gerakan-Gerakan Muslim Pembaru di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan, 1982.
  • Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU  yang Terlupakan. Jombang: Pustaka Tebuireng, 2017.

[1] Arief Mudatsir Mandan (editor), Subchan Z.E: Sang Maestro, Politisi Intelektual dari Kalangan NU Modern.  Jakarta: Pustaka Indonesia Satu, 2001. Halaman 66.

[2] Kembali ke Pesantren, Kenangan 70 Tahun KH. Ahmad Syaichu. Jakarta: Yayasan Islam Al- Hamidiyah, 1991. Halaman 66.

[3] Victor Tanja, HMI Sejarah dan Kedudukannya di Tengah Gerakan-Gerakan Muslim Pembaru di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan, 1982. Halaman 98.

[4] Abdurrahman Wahid dalam Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU  yang Terlupakan. Jombang: Pustaka Tebuireng, 2017. Halaman 203.

[5] Ibid. Halaman 252

[6] Subchan Z.E: Sang Maestro, Politisi Intelektual dari Kalangan NU Modern. Halaman 10-11.

[7] Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU  yang Terlupakan. Halaman 256.

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top