Sekte-Sekte Pesugihan Bodong dan Mengapa Ia Tetap Diminati

Oleh: Achmad Fauzi

Masih segar di ingatan saat kasus Dimas Kanjeng mencuat beberapa tahun lalu. Kasus Dimas Kanjeng menjadi menarik karena ia diklaim oleh para pengikutnya bisa menarik uang dari alam gaib sekaligus melipatgandakannya. Tentu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu dengan menyetorkan sejumlah uang dan menjalani tirakat awur-awuran. Sebagai orang waras yang dibesarkan dengan nilai “kalau mau sukses harus kerja keras”, maka jelas saya menolak ide ini. Orang gila mana yang bisa mendatangkan uang banyak makbleg seketika dari antah berantah.

Tapi saya salah. Probolinggo gempar karena ternyata pengikut Dimas Kanjeng sudah mencapai ratusan. Mereka rela mondok dan meninggalkan rumah, anak, istri, serta handai taulan. Dengan satu harapan pasti, mendapatkan keberkahan dari Dimas Kanjeng dan berharap uang yang disetorkan bisa segera berlipat ganda. Bayangkan saja, nanti pulang mondok bisa bawa mobil dan sombong ke tetangganya yang sering nyinyir. Epik sekali.

Itu baru Dimas Kanjeng. Belum lagi ada Kerajaan Ubur-ubur dari Serang, Banten. Jangan dulu tertawa dengan namanya. Kerajaan ini sempat berjaya beberapa waktu lalu sebelum akhirnya dicokok karena terindikasi menyebarkan aliran sesat. Ratu Aisyah, sang pemimpin Kerajaan Ubur-Ubur mengklaim jika dirinya mempunyai kunci dan akses “gaib” ke bank dunia. Ia bebas mengambil berapapun uang yang diinginkan.

Namun tentu, lagi-lagi ada syarat yang harus dipenuhi. Pengikut yang ingin diambilkan uang di bank dunia harus membeli jimat dan aji-ajian tertentu dengan mahar yang tidak murah. Pengikut juga harus siap menjalani wirid dan tirakat yang sudah diramu oleh Sang Ratu. Dan meskipun lagi-lagi terlihat keluar nalar, nyatanya Kerajaan Ubur-Ubur berhasil menarik minat banyak orang. Oh iya, kerajaan ini juga menggunakan kanal YouTube sebagai media menyebarkan ajaran. Agak sedikit modern daripada Dimas Kanjeng yang menggunakan video buram dan goyang-goyang hasil share di grup WhatsApp.

Lalu ada lagi sekte pembebasan hutang, yang percaya bahwa manusia menurut fitrahnya adalah terbebas dan tidak bisa dibebankan oleh hutang-hutang di dunia. Sekte ini lebih laris lagi. Bahkan ada bule yang datang khusus dari Amerika untuk memberikan testimoni kesaktian. Konsepnya tidak jauh-jauh, hutang-hutang pengikut akan dilunasi dengan harta kerajaan kuno yang tersimpan dan hanya bisa diakses oleh pemimpin sekte. Namanya agak modern daripada sekte-sekte sebelumnya, SWISSINDO. Mungkin pendirinya punya prospek satu saat ajaran ini bisa go internasional, memiliki pengikut di seluruh dunia, dan sekalian mengkudeta bank dunia. Kalau untuk tujuan yang terakhir ini saya setuju. Hehe.

Jika mau dirunut satu persatu, ada hanyak sekali aliran-aliran atau sekte serupa yang rutin bermunculan di Indonesia. Siapa juga bisa lupa dengan Lia Eden, Sang Jibril kontemporer yang saat Indonesia sedang gencar-gencarnya memasuki tahun-tahun reformasi, malah datang dengan ide monoteisme. Nah, baru-baru ini, ada berita mengenai sebuah kemunculan kerajaan baru di Purworejo, Jawa Tengah.

Tidak ada angin, tapi memang turun hujan. Purworejo yang dalam setahun sekali saja belum tentu masuk berita tv nasional, kini tiba-tiba menjadi topik utama. Sebagai anak yang dibesarkan di sana, saya tahu betul Purworejo itu seperti apa. Sepi kalau dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten dan kota lain di Karesidenan Kedu macam Magelang, Wonosobo, dan Kebumen. Kalau boleh saya berpendapat, Purworejo ini ritme dan arus hidupnya sangat santai. Orang-orang lebih suka berdagang di sana. Namun ada juga yang kerja pabrikan. Santai yang saya maksud adalah tidak terlalu muluk-muluk kalau soal materi. Yang penting bisa makan, nyekolahin anak, sama beli Fortuner. Ini tidak termasuk tacik-tacik cina yang punya toko-toko besar, lho, ya. Kalau mereka sudah tentu materi orientasinya.

Kembali lagi ke kerajaan baru di Purworejo. Namanya Kerajaan Agung Sejagat (KAS). Selain klaim titisan Kerajaan Majapahit, KAS juga mengklaim berhak atas dana kemanusiaan yang tak terkira jumlahnya, yang masih tersimpan di Bank Swiss. Saking banyaknya, Toto, pemimpin KAS menjamin bahwa setiap warga di Indonesia bisa mendapatkan pemasukan pasif hingga 200 USD perbulan. Edian. Tapi tentu, yang bisa mendapatkan anugerah tersebut hanya para pengikut saja. Dan tebak, untuk menjadi pengikut KAS, Toto mematok harga yang sangat murah, hanya 3 juta rupiah saja. Itu pun untuk keperluan membeli seragam. Katanya.

Nek ora Ninja kowe ora cinta, nek ora FU kowe ora I love U~

KAS muncul di saat semua orang sudah paham betul dengan tipu-tipu model seperti ini. Tapi jangan salah, pengikutnya juga ratusan. Tapi bukan dari Purworejo sendiri lho ya. Saya sebal dengan komentar orang-orang yang menyatakan SDM manusia di Purworejo lemah sehingga banyak yang jadi pengikut Si Toto. Saya kasih tahu, pengikut yang dari Purworejo itu hanya 2 biji. Ratusan pengikut yang di bawa Toto dalam pawainya tersebut tidak jelas asal-usulnya.

Nah, biasanya, masyarakat Indonesia akan segera memberikan komentar pedas jika ada aliran-aliran bertema kekayaan seperti yang sudah disebutkan di atas. Ungkapan-ungkapan seperti “mau kaya ya kerja donk!”, atau “halu terosss mana ada dhuwit di Bank Swiss” akan otomatis terlontar di kolom-kolom komentar pemberitaan. Memang wajar saja jika komentar-komentar seperti itu keluar. Sekte kekayaan pintas secara tidak langsung menciderai orang-orang yang bekerja siang malam, kaki di kepala, kepala di kaki. Pikiranku.

Sayangnya, masyarakat ketika disajikan berita seperti ini cenderung melihat di permukaan sahaja. Mereka menghujat sekte pesugihan, tanpa mau tahu apa yang menyebabkan orang-orang ini tetap terjerumus dan mempercayainya. Padahal siapa tahu, mungkin di masa mendatang, orang yang paling keras menghujat, bisa menjadi pengikut yang paling fanatik.

Alasan pertama mengapa sekte-sekte pesugihan bodong bisa tetap laku di zaman di mana anak-anak bercita-cita jadi youtuber ini adalah, karena Indonesia mempunyai sejarah panjang dengan hal-hal berbau gaib. Meskipun kemajuan teknologi sudah sampai ke pelosok-pelosok negeri, namun nilai-nilai kepercayaan ini nyatanya tetap melekat.

Saya pernah satu bangku dengan bapak-bapak paruh baya saat naik Handoyo dari Purworejo ke Malang. Bapak ini berasal dari Kutoarjo, sebuah kecamatan di Purworejo yang tidak jauh dari pusat kemunculan KAS. Saya kira bapak yang duduk di samping saya ini adalah bapak-bapak pada umumnya dan semua akan baik-baik saja. Sampai ia mengatakan tujuannya ke Malang adalah untuk bertemu saudara, sekaligus “nyekar” di Gunung Kawi.

Ia menceritakan soal kemampuan gurunya yang sakti awu-awu dan bagaimana ia sangat menghormatinya. Kesaktian-kesaktian terus diceritakan selama perjalanan sampai saya sendiri jengah. Ini belum puncaknya. Tiba-tiba ia berbicara soal tokek. Kira-kira seperti ini obrolannya.

“Mas, samean nek ketemu tekék gede ojo di pateni.” ujarnya. Saya yang terkejut karena topik pembicaraan yang tiba-tiba berubah langsung merespon.

“Lha pripun, Pak?”

“Tekék seng gede iku sekti, Mas. Buntute biso digawe bom nuklir. Mangkané regone larang. Guruku wingi lebar ketemu karo perdana menteri Inggris adol tekék.”

Asu. Saya bingung harus merespon bagaimana. Selanjutnya saya hanya manthuk-manthuk saja untuk sekedar nglegakno. Tentu bapak ini tidak berhenti nyocot menceritakan keajaiban-keajaiban dari A sampai Z. Mungkin perjalanan tersebut saya nobatkan sebagai perjalanan terburuk sepanjang hidup saya. Mabok di dalam bus saya rasa jauh lebih baik. Jelas kasus saya di atas tidak bisa menjadi bukti bahwa semua masyarakat Indonesia tertarik dengan klenik. Tapi paling tidak, selalu ada dua atau tiga dari sepuluh orang yang passion-nya adalah merdukun.

Dan untuk alasan kedua tentu saja adalah kapitalisme. Jika dilihat, pola dan sistem kerja sekte-sekte pesugihan bodong di atas sama saja. Menjanjikan sejumlah harta yang mungkin tidak akan pernah didapatkan meskipun kerja keras sampai mati. Dari poin ini bisa ditarik garis lurus, bahwa rata-rata orang yang tertarik mengikuti sekte-sekte ini adalah orang yang sudah lelah dengan tuntutan materi dalam kehidupan.

Kapitalisme menciptakan sebuah arena yang di mana kita, sebagai manusia dipaksa untuk terus berlomba-lomba memenuhi kebutuhan dan keinginan kita. Robert T. Kiyosaki menyebutnya sebagai rat race (balapan tikus) karena setiap individu terus dipaksa berlari mengejar materi dan mimpi-mimpi, padahal ia tidak bergerak sama sekali. Bagaimana jika individu tersebut memutuskan untuk tidak berlari? Tentu saja dia akan jatuh dan terinjak-injak oleh individu yang lainnya.

Karena terus berlari, beberapa orang akhirnya memutuskan berhenti dan mencari jalan pintas. Pada saat seperti inilah, sekte-sekte pesugihan bodong bisa menjadi jawaban yang paling solutif. Mudah, praktis, dan cepat. Cukup mengamalkan amalan-amalan ngawur dan bersabar, maka duit balasannya.

Dengan melihat fenomena di atas, seharusnya masyarakat sudah mengerti bahwa musuh yang sebenarnya adalah kapitalisme. Kapitalisme akan terus memeras Anda, anak Anda, dan cucu Anda agar tetap langgeng. Kapitalisme memaksa Anda dan keturunan Anda untuk terus beradu cepat. Meraih mimpi-mimpi semu yang melenakan. Tapi berbeda cerita jika Anda sekarang berada di kelas borjuis. Cukup ungkang-ungkang dan biarkan proletar yang bekerja.

Maka daripada menghujat dengan pernyataan-pernyataan amoral, memiliki kesadaran kelas adalah hikmah yang bisa diambil. Paling tidak, Anda bisa menakar diri di kelas mana Anda sekarang. Bisa saja, Anda sekelas dengan orang-orang yang jadi pengikut sekte-sekte pesugihan bodong di atas. Dan jika sudah demikian, maka kemungkinan Anda terseret ke dalamnya juga akan terus ada.

Penulis adalah pekerja teks komersial.

Sumber foto: https://www.tribunnews.com/regional/2020/01/18/tertarik-jadi-prajurit-kerajaan-agung-sejagat-buruh-tani-yang-rela-bayar-rp-2-juta

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top