Kenduri Seni Rupa Wayang Beber Indonesia

Oleh: Abdul Malik

Dua Kearifan Lokal Bertemu

Beberapa bulan lalu, tepatnya pada tanggal 5-6 Oktober 2019 di Dusun Kedungsari, Sumobito, Jombang. Terdapat satu perhelatan budaya.

Kawasan Jombang dan Mojokerto di masa lalu merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Wayang Beber pernah tumbuh dan berkembang pada abad 13 di Majapahit. Bisa dikatakan wayang beber adalah wujud visual Jawa.

Saat ini, wayang beber membutuhkan pelestari-pelestari muda dari berbagai kota di Indonesia untuk mencegah dari kepunahan.

Hermin Istiariningsih (67 tahun), yang akrab dipanggil Bu Ning, maestro perempuan perupa wayang beber kelahiran Jombang yang kini tinggal di Solo, tidak bisa hadir pada acara Kenduri Seni Rupa Wayang Beber Indonesia (KSRWBI). Karena kesehatannya belum sempurna pulih. Namum menghadirkan karya masterpiece-nya “Cinde Laras”. Dan sembilan karya perupa- perupa muda wayang beber hadir dalam KSRWBI.
Mereka adalah Hermin Istiariningsih, Dani Iswardana. Herman Effendi, Samuel WBM, Arif Setiawan, Mutiara Pramita Sari, Aprilia Wulandari, Aprilia Hermianti, Ken Andhisti, dan Nina Eka Putriani.

Lukisan wayang beber tak hanya bersifat visual, juga bisa bermuatan seni pedalangan.

Adam Ghifari (putra Rhoma Irama) juga hadir untuk berbagi mendalang wayang beber. Grup wayang beber anak-anak Republik Air Indonesia (RAI), Panji Warengku, dan grup remaja SMAN 1 Pacet, Mahesa Sura (Pacet).

   
https://picpanzee.com/tag/airkita

Tidak hanya wayang beber, dalam program ini Yayasan Air Kita juga melakukan kegiatan konservasi gambus misri Dusun Kedungsari, yang grupnya di masa lalu bernama Bintang Sembilan.

Gambus misri, kearifan lokal Jombang yang menuju kepunahan, seperti nasib wayang beber.

Program ini bertujuan untuk melestarikan kedua kearifan lokal-wayang beber dan gambus misri.

Diselenggarakan oleh Komunitas Pelestari Seni Budaya Kedungsari, didampingi oleh Yayasan Air Kita. Program ini juga bersifat nirlaba dan interkultural. Yayasan Air Kita bekerja sama dengan Hungary Embassy Jakarta, yang dinisiasi oleh Peter Szilagyi (antropolog dan seniman Hongaria). Dalam pentas Wayang Cing-Cingmong, Petir Hun, dan Dani Iswardana – kolaborasi seniman Hongaria dan Indonesia.

Penulis adalah Aktivis Seni Budaya, sekarang sebagai Pengurus Museum Musik Indonesia (MMI).

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top