Sahabat di Perantauan, Ruang Batin dan Terbatasnya Waktu yang Kita Miliki

Oleh: Ali Adhim

Keriangan bersama sahabat di perantauan boleh saja sejenak melupakan kita kepada segala persoalan yang kita miliki di rumah masing-masing, bila saatnya sudah datang, keriangan itu perlahan akan menemui masa puncaknya, tidak lain puncak dari segala pertemuan adalah perpisahan.

Jika perpisahan telah terjadi, tak akan ada lagi keriangan-keriangan yang kita rasakan bersama seorang sahabat di perantauan, kesempatan untuk iseng dan meledek dengan maksud untuk mencairkan suasana tak akan mungkin lagi bisa dilakukan, apalagi untuk sekedar mengintip chat prbadi dalam smartphone-nya.

Kebersamaan itu tak bersifat kekal, jika saat perpisahan telah tiba, kita akanberjauhan dengan mereka, melanjutkan kehidupan yang baru, bersama keluarga di rumah, bersama kesibukan dan aktifitas keseharian yang berbeda. Betapapun kita merindukan momen kebersamaan, kita akan sangat kesulitan untuk sekedar menanyakan kabarnya, menatap wajahnya, mengamati ekspresi wajahnya, bahkan mencium bau kentut mereka yang khas itu.

Memang tak selamanya bersama di satu atap itu langgeng, jika jarak dan waktu telah memisahkan kita dari mereka, sebelum habis usia kita dilahap waktu, sahabat-sahabat kita yang biasanya merepotkan dan mengesalkan itu akan mungkin beberapa saat lagi akan sibuk dengan kerjaan dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri.

Waktu kebersamaan akan berubah menjadi waktu yang senyap dan sepi, menjelma puing-puing kenangan yang semu, bahkan jika sahabat itu adalah sebuah bayangan, kita sama sekali tidak akan punya kesanggupan untuk mendekapnya.

Kebersamaan yang singkat itu, seringkali kita abaikan dengan berbagai macam kesibukan, berbagai macam benda, tak luput benda itu adalah smartphone yang nyaris dua puluh empat jam membersamai kita kemanapun.

Berlama-lama dengan smartphone memang asyik, tapi lebih asyik lagi berlama-lama tertawa dengan seorang sahabat, berselancar di dunia maya memang seru, tapi lebih seru lagi berselancar bersama sahabat di pantai, berkeringat di hadapan komputer atau laptop memang kadang membuat kita berkeringat, tapi bukankah keringat yang nikmat itu ketika kita berkeringat bersama sahabat dalam sebuah permainan atau sekedar masak bareng di dapur?

Ruang batin sahabat kita bukankah jauh lebih luas daripada jangkauan yang dapat kita telusuri di aplikasi browser smartphone? Pengalaman hidup, kekonyolan bahkan penderitaan yang pernah dirasakan sahabat kita bukankah itu sebuah ruangan yang tak bisa dijangkau oleh kecanggihan teknologi manapun? Hanya dengan bercakap-cakap bersama seorang sahabat, meskipun membicarakan hal sepele kita akan mendapatkan banyak pengalaman hidup.

Terbatasnya waktu yang kita miliki semestinya menyadarkan kita betapa mahal sebuah pertemuan, konon waktu adalah segalanya, bila seorang sahabat memberikan waktunya untuk kita, sama halnya ia telah memberikan segalanya untuk kita.

Waktu tak pernah bisa dibeli, andai waktu bisa dibeli dan dipesan, mungkin kita akan leluasa menikmatinya, tapi waktu kita ini terbatas dan amat singkat, waktu-waktu yang kita miliki bersama sahabat tidak akan lama.

Selagi masih ada waktu, sebelum pertemuan berakhir, sebelum perpisahan terjadi, tak ada salahnya bila kita merenung sejenak, sudahkah kehadiran kita mengisi ruang batin sahabat kita, orang yang hidup bersama kita sehari semalam?

Sudahkah kehadiran kita berarti bagi mereka? Adakah kata-kata yang keluar dari bibir kita menerbitkan senyum di bibir mereka? Adakah candaan-candaan kita membuat hati mereka bergetar? Atau justru bibir kita adalah sumber kegelisahan bagi mereka? Sumber ketidak nyamanan yang mereka rasakan.

Sudahkah perilaku kita membuat mereka berharga? Kehadiran mereka kita hargai atau justru kita mengasingkan mereka dan menganggap mereka tidak pernah ada? Oh, betapa kita amat bodoh, betapa kita amat merugi, menyia-nyiakan sebuah pertemuan yang tak langgeng ini.

Padahal nasihat R.A. Kartini “tak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.” ini sudah sering kita baca, sudah sangat kita hafal. Siapakah orang yang peduli saat kekasih kita menyakiti kita? yang menghibur dan merawat luka-luka batin kita, siapa lagi orang yang menerima kita apa adanya saat di perantauan? Adakah yang peduli dengan diri kita selain sahabat? Siapa? Tolong tunjukkan kepada saya.

Penulis adalah Direktur Belibis Pustaka

Sumber Fotohttps://www.google.com/search?q=sahabat&safe=strict&sxsrf=ACYBGNTrPGYQ_vE6mDSbKPk5R3xyeY0GBg:1575715126161&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjjn_KirKPmAhWQfH0KHZhfBJcQ_AUoAXoECBEQAw&biw=1366&bih=695#imgrc=XtOHLxoS_Yg_ZM:

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top