Nadiem Makarim dan Kapitalisme Pendidikan Kita

Oleh: Abdur Rouf Hanif

Nadiem Makarim, menteri pendidikan kami terbaru. Pengusaha, Muda, visioner dan milenial. Deretan Karakteristik tersebut seolah tidak terpisahkan dari sosoknya.

Sepak terjangnya membawa Go-Jek menjadi start up kelas wahid. Menjadi saksi sejarah kepiawaian menegerialnya diakui dunia. Saya melihat sambutanya pertama kali cukup menarik. Perkataanya sistematis, terukur dan logis, intelektualitas dan retorikanya tidak kalah dari pendahulunya yang sekarang jabat gubernur Jakarta.

Sebagai pengusaha, Nadiem sangat menguasai cara kerja pasar dan industri kontemporer di Indonesia. Termasuk sektor pendidikan. Jika anda pembaca buku Roem Simatupang yang berjudul sekolah itu candu anda akan memahami industri edukasi bekerja.
Dari mulai seragam, buku paket, alat tulis, LKS, soal semester guna memenuhi proyek pemerintah dan sederet kebutuhan sekolah yang efensienya perlu dipertanyakan kembali.

Tidak perlu mengutip dan mempelajari pemikiran Paulo Freire maupun Ivan Ilich dalam memahami problematika pendidikan kita. Cukup terjunlah di lapangan dan rasakan, betapa kebijakan-kebijakan pendidikan tidak jarang serampangan tanpa kajian mendalam.

Terhitung sudah berapa kali kurikulum berganti. Hasil belum terlihat, proyeksi berganti bersamaan dengan pemangku kebijakan yang baru. Para menteri-menteri pendidikan tak jarang melakukan kajian ulang terhadap kurikulum yang pada ujungnya menghabiskan anggaran besar, namun minim hasil.

Hakikatnya yang kita butuhkan adalah pendidikan yang sesuai dengan tantangan yang beragam di setiap pelosok negeri. Tak bisa dipukul rata, perlu adanya kebijakan setiap daerah untuk mendidik warganya sesuai kebutuhan SDM daerahnya.

Sehingga, daerah yang maritim maupaun agraris tidak kehilangan generasi muda yang ahli dalam bidang perlautan dan pertanian. Akibatnya karena anak dijejali materi yang sebenarnya kurang menyentuh pada realitas lingkunganya, mereka merasa terasingkan dan tergantung pada ijazah. Menjadi masyarakat urban berhijrah ke kota-kota besar beradu nasib menambah angka kemacetan dan polusi.

Pak Nadiem yang terhormat. Bilamana pendidikan karakter masih dipercaya sebagai elemen utama dalam pendidikan kita. Saya kira fullday school bukanlah solusi tepat. Mungkin di perkotaan fullday school berjalan sesuai rencana. Namun bagi kami yang besar dilingkungan pesantren dan madrasah diniyah fullday school dirasa kurang bijak penerapanya.

Kami sadar, lagi-lagi yang paling diuntungkan dari fullday school adalah Kapitalisme. Sektor pariwisata akan ramai jika akhir pekan. Guru dan murid bahagia menghabiskan week end berselfie dan leha-leha. Tetapi tidak ada dampak pembangunan karakter di dalamnya.

Kita harus banyak mengaca pada pendidikan Finlandia. Negara yang mendapat peringkat pertama dengan pendidikan terbaik di dunia. Mereka belajar hanya 5 jam, teori dan praktik diselaraskan diselingi dengan ragam permainan. Kecerdasan psikomotorik, empirik sebagai bekal menjalani keseharian. Sungguh mengasikkan selaksa cita-cita taman siswa ki hajar dewantara.

Pak Nadiem, dengan pengalaman memanagerial perusahaan berbasis IT. Tentu besar harapanya untuk bisa diintegrasikan dengan pendidikan kita. Selaras dengan era revolusi digital 4.0 semua elemen pendidikan didukung dengan aplikasi. Dari mulai administrasi tata usaha hingga raport digital. Tetapi yang perlu ditingkatkan adalah pembinaan terhadap SDM dibawah. Di lapangan masih banyak ASN terutama angkatan tua yang belum bisa mengoprasikan ragam aplikasi digital terlebih sebagai sarana pengajaran.

Oleh karenanya besar harapan kami. Meskipun pak Nadiem adalah pengusaha yang fasih akan dunia pasar. Tolong putus rantai kapitalisasi dalam pendidikan kita. Pendidikan bukanlah pabrik yang mencetak manusia-manusia pesanan industri. Jika masih sama seperti itu, apa gunanya kemerdekaan kita? Bukankah cara inlander dulu seperti itu, sekolah digunakan untuk mencetak manusia yang siap dipekerjakan untuk pemerintah hindia belanda. Sedang tujuan pendidikan sendiri adalah untuk memanusiakan manusia. Sederhana, tetapi berat pelaksanaanya.

Selamat bekerja pak. Semoga mampu mereformasi dunia Pendidikan ke arah yang lebih baik.

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. -Ki Hajar Dewantara-

Penulis adalah Ketua Lakpesdam PCNU Tanggamus, Lampung.

Sumber Foto: https://id.techinasia.com/nadiem-makarim-pamit-gojek

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top