Membaca Hati Suhita Bikin Jatuh Cinta

Oleh : Nur Lodzi Hady

Mendapatkan kiriman novel karya Mbak Nyai Khilma Anis, Hati Suhita, dari penyuntingnya Asfi Diyah. Novel dengan tebal 400an halaman ini tandas saya baca dalam semalam. Bahasanya mengalir dengan deras dan lugas. Namun juga indah dalam menggambarkan peta konflik batin dari setiap tokohnya. Ia juga titis dalam memotret atmosfir kehidupan pesantren meski dengan lingkup yang sangat terbatas. Hal demikian tentu sulit dilakukan oleh seorang penulis yang belum pernah mengenyam dan merasai kehidupan pesantren yang khas, terutama yang berada di daerah Jawa Timur. Terlebih spot yang dipilihnya terbilang tidak biasa, yaitu “wilayah” Ndalem (rumah tinggal kiai pemangku pondok) yang dalam tradisi pesantren dianggap area khusus yang “berjarak” dan dihormati oleh para santri.

Seorang khadam (santri yang mengabdi dan biasa membantu di rumah kiai) sekalipun pasti tak berani bersikap sembarangan di tempat ini. Mereka justru melayani keperluan Ndalem dengan niat khidmah untuk mendapatkan barokah ilmu dan kemanfaatannya. Terlebih para santri biasa. Mereka akan menjaga jarak dengan wilayah khusus ini lihurmati wa ta’dzim. Seorang santri sebaliknya akan merasa sangat senang dan beruntung jika pada momen2 tertentu mendapat kesempatan untuk membantu di tempat ini. Dan Khilma Anis, penulis novel ini, cukup berani mengeksplorasi “daerah wingit” tersebut, bahkan dengan tema yang sangat tidak populer: percintaan.

Meski tema percintaan menjadi balungan utama dalam keseluruhan ide cerita dan tangga dramatiknya, namun novel ini tak dapat dianggap sebagai cerita cinta biasa. Kisah cinta yang mengharu biru dalam novel ini lebih tampak sebagai transmisi dari kegelisahan, pengetahuan, pengalaman, penghargaan dan pembelaan penulisnya terhadap nilai-nilai yang diyakininya. Yang mengagumkan, Ning Khilma mampu mengajak kita “menggugat” konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat, namun disaat sama juga melakukan “konservasi” terhadap nilai agama dan falsafah budaya lokal yang adiluhung yang dikaitkan dengan gender ballanced melalui karakter utama yang dihidupkannya, Alina Suhita.

Di sepanjang perjalanannya yang dipenuhi kegetiran, tokoh ini mengasosiasikan berbagai peristiwa dalam cerita pewayangan, babad dan ajaran leluhur atas apa yang dialaminya. Tak pelak dalam novel ini berserakan fragmen dan kutipan-kutipan pengetahuan dan “ilmu tuwa” hingga informasi tentang tokoh-tokoh sejarah, ulama beserta lokasi makbarahnya seperti Kiai Hasan Besari, Ki Ronggowarsito, Fatimah binti Maimun, Sunan Prawoto, Kiai Mutamakkin dan sebagainya.

Dalam situasi “ketertindasan”nya atas sikap sang suami misalnya, dengan cerdasnya tokoh Alina Suhita segera melompat ke sebuah peristiwa pewayangan untuk mengasosiasikan dirinya. “Mas Birru tidak tahu, ketika dia melemahkan orang lain, artinya dia membiarkan orang lain menyadari kekuatannya. Dia tak tahu, kepala Resi Drona yang terpenggal di padang Kurusetra, adalah perbuatan Drestajumna yang di dalam tubuhnya menitis dendam Ekalaya.” Bagi saya kutipan dalam dialig ini sangat keren dan menggetarkan.

Jadi jangan berharap di novel ini akan mendapati Alina sebagai sosok perempuan “alay syar’i” macam artis baru hijrah masa kini. Sebaliknya sosok tersebut tampil dengan kekayaan pengetahuan dan ketegaran memegang prinsip hidup sebagai santri tawadhu’ sekaligus perempuan Jawa yang pintar dan tangguh. Selain itu ia juga lembut, empan papan dan penuh cinta kasih. Berbagai ajaran leluhur hingga kisah pewayangan dan sastra kuno dikuasainya. Di saat sama ia juga seorang hafidzah Quran yang kaya akan hazanah kitab kuning, disamping seorang manajer pondok yang handal dan inovatif. Wow!

Penulis tampak berusaha menumpahkan gairah, ketertarikan, pengetahuan dan passionnya terhadap sejarah, pewayangan dan nilai lokalitas dalam seluruh bangunan cerita melalui perspektif para tokohnya. Saking banyaknya “nilai dan ajaran” yang ingin diselipkan disana, sampai2 ia nyaris melakukan “penyeragaman” kecenderungan minat para tokoh di sekitar Alina. Lihatlah Gus Birru yang bercakap dengan seorang kawannya yang bercerita tentang Subadra. Atau juga Rengganis yang menumpahkan ketertarikannya pada Pasukan Estri. Overall novel ini sangat bagus dan inspiratif. Saya sangat senang berkesempatan membaca dan mengoleksi novel ini, apalagi dengan bubuhan tanda tangan penulisnya .Tabik

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top