Meretas Jarak, Mencari Teladan

Oleh: Moh. Zalhairi

Meski cuaca terik, perjalanan tetap kami lanjutkan. Roda berputar menyusuri hasta demi hasta Pantai Utara (Pantura), jalan yang membentang dari Anyer ujung barat hingga Panarukan ujung timur Pulau Jawa. Jalan Raya Pos (2015), salah satu karya Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), mengisahkan bahwa jalan ini dibangun ulang pada masa Gubernur Jenderal Kolonial Belanda Herman Willem Daendels (1762-1818). Itulah sebabnya jalan tersebut dikenal pula dengan sebutan Jalan Daendels. Pramoedya dalam karyanya melukiskan bahwa Jalan Raya Pos dibangun dengan perlakuan kejam terhadap para pekerja paksa yang merupakan penduduk Hindia. Seiring waktu, kisah itu memudar. Orang-orang seolah telah melupakannya. Kita barangkali dapat berujar bahwa itu adalah luka lama. Tapi, bukankah luka lama itu telah menjadi sejarah? Dan apa gunanya sejarah jika kisah masa lalu berhenti sebagai cerita? Karena itu, jangan heran jika proyek Daendels terus berlanjut hingga kini. Tidakkah Goethe (1749-1832) pernah berujar bahwa “bodohlah manusia yang tak bisa belajar dari cerita masa lalu?”

Sampai di Bedono, daerah yang masih menjadi bagian wilayah administrasi Demak, kendaraan kami berbelok memasuki jalan yang lebih sempit, seperti gang permukiman. Siapa sangka, semakin ke dalam, kami disambut oleh rerimbunan pohon bakau berderet rapi di tepi jalan. Pun begitu dengan hamparan luas tambak yang tak mau kalah. Keduanya berpadu menyambut datangnya gulungan ombak dari Laut Jawa. Kendaraan kami belum berhenti. Roda masih berputar menyusuri jalan yang mulai bergelombang dan berbatu, hingga akhirnya kami sampai di ujung jalan dan terpaksa harus memarkir kendaraan. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih sejauh satu kilo meter ke tengah laut. Layaknya kisah karomah para wali, seakan berjalan di atas air. Untuk sampai di tujuan, pengunjung harus melalui jalan dari tumpukan bebatuan dilapisi semen tak lebih dari dua meter lebarnya. Sesekali akan menemui jembatan penyeberangan yang dianyam dari bambu. Sambil berjalan memunggungi daratan di mana Kesultanan Demak pernah berjaya pada masanya, pengunjung hanya akan menemukan seperti daratan kecil ditumbuhi pohon mangrove. Sisanya adalah lautan sejauh mata memandang. Tapi tunggu dulu! Ini tidak seperti yang Anda bayangkan. Di sana, hanya ada gundukan pasir yang permukaannya hampir tenggelam. Jika air laut pasang, tak ada lagi daratan.

Rumah penduduk tampak aneh. Mereka seakan membangun rumah bertingkat. Tapi? Tidak! Itu bukan rumah bertingkat. Itu adalah sisa bangunan lama yang dibangun ulang di atasnya karena tenggelam oleh naiknya air laut di wilayah pesisir. Itulah sebabnya mengapa Makam Syeikh Muzakkir (1900-1960) yang kami tuju tampak berada di tengah lautan seorang diri. Para penduduk yang rumahnya tenggelam telah berpindah meninggalkan lokasi, menepi ke darat. Hanya beberapa orang saja yang masih bertahan. Walaupun begitu, ancaman rob (pasang besar)masih terus terjadi, bukan hanya bagi mereka yang bertahan, juga bagi mereka yang telah bergeser jauh ke pesisir. Kala gulungan ombak datang bisa menutupi area permukiman mereka meskipun telah ditinggikan. Ini adalah fakta yang sering terjadi, aku salah seorang penduduk.

Di sini, kita benar-benar menyaksikan bahwa cerita yang banyak beredar tentang dampak perubahan iklim global bukan pepesan kosong. Ini benar-benar terjadi seiring semakin tingginya emisi rumah kaca, kerusakan hutan, dan eksploitasi lingkungan secara besar-besaran. Panas bumi meningkat dan lapisan es di kutub utara mencair. Akibatnya, beberapa tahun ke depan air laut diprediksi akan naik semakin tinggi menggenangi wilayah pesisir Indonesia bukan hanya Jawa. Jika fenomena semacam ini adalah akibat dari ulah manusia, mengapa kita terus saja mengikis daratan yang menjadi syarat keberadaan kita dan makhluk lain?

Pernahkah semasa kecil dulu, Anda bermain gundukan tanah di mana bagian atasnya ditancapkan potongan kayu? Lalu, masing-masing bergiliran mengikis bagian bawah gundukan hingga ada salah satu di antara teman bermain yang merobohkan kayu di atasnya. Permainan ini seperti kondisi kita sekarang. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka kita sedang merencanakan kehancuran. Ini bukan menakut-nakuti. Atau barangkali Anda sedang mengimajinasikan kalau Sapiens akan berevolusi menjadi makhluk berinsang?

Tentang bagaimana eksploitasi terhadap lingkungan dilakukan, bolehlah kita kembali merenungi diri sendiri. Namun, perlu juga diketahui bahwa ada skema penghancuran yang dilakukan secara masif hanya karena alasan keuntungan ekonomi. Ini adalah model kapitalistik. Kapital menghasilakan akumulasi modal. Akumulasi modal menuntut wilayah baru. Wilayah baru menyumbang akumulasi modal. Begitulah sistem ekonomi global terus berjalan. Muaranya adalah dampak kerusakan lingkungan. Urusan perut ke bawah memang gak ada habisnya!(?) Model ini juga menyumbang kerusakan hutan Gunung Tambora karena eksploitasi yang dilakukan oleh beberapa perusahaan penebangan kayu sejak Orde Baru. Bukankan masyarakat juga ikut berbuat? Beberapa masyarakat memang terlibat, tapi itu karena mereka menganggap perusahaan penebangan tak memberikan dampak apa-apa bagi kesejahteraan mereka. Akhirnya, munculah pernyataan, “dari pada orang luar terus yang menikmati”. Nah, masyarakat perlu menyadari, tapi jangan biarkan penebangan oleh perusahan juga terus berlanjut, lebih-lebih tanpa penghijauan. Air di desa Kadindi bukan hanya dari hutan Gunung Kadindi yang kecil sekali areanya, melainkan hutan Gunung Tambora. Baiklah, untuk urusan bagaimana skema ekonomi semacam itu bekerja merusak lingkungan dapat dilanjutkan dalam literatur lain, termasuk tulisan Fred Magdoff dan Bellamy Foster (2018).

Akhirnya, setelah berhasil melewati jalan yang membelah laut, sampailah kami di pusara Syeikh Muzakkir yang disebut pernah berguru juga pada Syeikh Soleh Darat (1830-1903), makamnya berada di kompleks Pemakaman Umum Bergota, Semarang. Untuk masalah ini perlu diskusi lebih lanjut sebab tahun hidup yang saya temukan, Syeikh Muzakkir hidup tiga tahun menjelang wafatnya Syeikh Soleh Darat. Makam Syeikh Muzakkir memang benar-benar dikelilingi lautan sejauh mata memandang. Wajar penduduk setempat mempercayai jika Makam Syeikh Muzakkir tak bisa teggelam meskipun air laut terus naik dan telah menenggelamkan hunian warga sekitar. Menurut warga, kondisi makam sama seperti biasa. Makam ini pun ramai dikunjungi oleh warga dari berbagai penjuru. Mengapa orang yang telah meninggal puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun silam masih ramai dikunjungi bahkan terasa begitu dekat?

Relevansi ziarah makam bukan saja sebagai upaya untuk menjumpai jejak dan mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Itulah cara sebagian warga untuk menghargai dan menghormati jasa mereka dalam menyebarkan nilai agama, nilai kebangsaan, maupun nilai kemanusiaan. Dan yang tidak kalah penting ialah upaya merenungi dan meneladan cara hidup mereka. Biasanya di tempat semacam itu terdapat juru kunci sebagai pusat informasi. Bukankah para wali dan alim ulama selama ini yang sering mengingatkan kita tentang bahaya keserakahan sebagaimana disebutkan sebelumnya? Tidakkah perlakuan tersebut setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan? Apa sumbangsih kehidupan yang telah kita perbuat?

Masih anti ziarah makam?

Penulis adalah Aktivis Sosial dan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta

Sumber Foto: https://www.hipwee.com/narasi/jarak-dan-jeda/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top