Pidato Kemerdekaan Yang Menggelora!

Pidato peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-74 di Situs Ndalem Pojok (Rumah Kecil Bung Karno) di Wates, Kediri.

Disampaikan oleh Diaz Nawaksara (Peneliti Naskah Kuno, Lesbumi NU)

Pidato Kemerdekaan Yang Menggelora, Merinding dengarnya !!!

Assalamualikum Wr.Wb
Salam sejahtera untuk kita semua
Shaloom
Salam kebajikan
Namo buddhaya
Om swasti astu

Sejatine ora ana apa-apa, sing ana dudu
Sejatine aku ora sapa-sapa, sing sapa-sapa du aku
Sejatine aku ra weruh apa-apa, sing weruh apa-apa du aku.
Rahayu.. Rahayu.. Rahayu..

Selamat pagi saudaraku

Pagi yang cerah dengan semilir angin segar di bawah pohon yang pernah menjadi saksi sejarah bangsa ini, mari kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberi kita nikmat tak terbatas, tanpa payah, tanpa darah, nikmat tanpa todongan bedil kumpeni, tanpa dentuman suara meriam atau pekik tangis para janda dan anak yang bapaknya di medan perang.

== transkrip yang tidak terrekam ==

74 tahun sudah bangsa indonesia mengikrarkan kemerdekaannya, selama itu pula sangsaka merah putih berkibar tinggi di angkasa, berjuta bangga tertanam dalam dada, namun apakah kita mengerti apa arti merdeka ?

Apakah merdeka artinya menang melawan penjajah ? Seperti yg tertulis dalam buku sejarah, Atau kemerdekaan itu adalah sebuah kebebasan untuk melakukan hal-hal semaunya, Seperti kebebasan para petinggi negara meraup sumber daya alam indonesia dari tangan rakyat, Atau kebebasan para pemeluk agama yang sibuk mengambil alih peran sebagai Tuhan, menghakimi umat secara biadab dengan dalih nahyi munkar. Atau seperti bebasnya mulut² kita melontarkan kritik, pemikiran, bahkan hujatan kepada siapa saja yang berbeda pandangan dengan nafsu kita ??

Tidaaaak !!!

Bukan, bukan itu makna dan tujuan kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Bung Karno, atas nama bangsa indonesia pada 17 agustus 1945.

Saudaraku sebangsa & setanah air,

Mari kita tengok sabdo pandito yang disusun oleh para pendiri bangsa yang tertuang dalam pembukaan undang-undang dasar :

Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara indonesia yang melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang berdasar kepada: ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Jelas !

Bahwa kemerdekaan yang dicita-citakan oleh para perumus negara ini adalah kesejahteraan, kecerdasan prilaku berbangsa dan bernegara, perdamaian abadi serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Coba kita tengok apakah tujuan kemerdekaan itu sudah kita capai ? Atau masih menjadi cita2 yang terapung di atas langit ?

Pagi ini, di atas bumi yang pernah menjadi saksi bisu perjalanan sang proklamator ini, mari kita teriakan dengan lantang keyakin ini, keyakinan yang optimis memandang masa depan, keyakinan yang juga merupakan doa dan harapan segenap bangsa indonesia dari sabang sampai meraku, keyakinan yang tidak pernah luntur walau dihatam oleh gledek kapitalisme dan neo-imperialisme….

Yaitu keyakinan bahwa kita telah mencapai kemerdekaan, kita telah merdeka !!!
Kita harus merdeka !!!
Kita wajib merdeka !!!
Merdeka…
Merdeka…

. . . . . . .

Teriakan lantang tadi, menjadi ikrar kita bersama bahwa setelah ini kita akan benar-benar merdeka, yaitu berani menjadi bangsa yang mandiri, berani tampil di tengah persaingan hegemoni, berani menunjukan jubah kebesaran peradaban negeri nusantara yang diwariskan oleh leluhur bangsa ini.

Bukankah seluruh dunia sudah tahu bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang pernah mempersatukan negeri-negeri sekitar, bangsa yang memilik kekayaan alam, keaneka ragaman, suku, agama, budaya, bahasa, aksara, adat, tradisi, pakaian, senjata, bahkan keaneka ragaman warna kulit dan perawakan !!

Lalu, kenapa kita masih malu-malu mengakui jati diri bangsa, dan lebih memilih bangga sebagai bangsa asing, kehidupan beragama telah menggeret sebagian saudara kita berprilaku naif, semestinya Apa yang pernah dilontarkan bung karno pada salah satu pidatonya benar² harus kita terapkan.

Ia pernah berkata : “kalau jadi hindu jangan jadi orang india, kalau jadi orang islam jangan jadi orang arab, kalau kristen jangan jadi orang barat, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”

Keresahan lain, dalam menyuarakan kemerdekaan bangsa ini adalah sebuah pertanyaan penting, kenapa kita masih tidak PD mengakui bahwa leluhur kita juga memiliki pemikiran, pandangan, filsafat, teori-teori keilmuan yang tidak kalah hebatnya dibanding doktrin-doktrin westernisme yang kita enyam di bangku-bangku sekolah, di kelas-kelas kuliah, dan di pelataran institusi-institusi negara yang lebih bangga menggunakan simbol-simbol barat, bahasa-bahasa barat, dan teori-teori ilmuwan barat.

Para sarjana lebih bangga dan PD melontarkan teori pedagogiknya Bruce Joyce dan Marsha Well daripada teori pendidikannya Ki Hajar Dewantara, Para pemikir kita lebih bangga mengangkat teori filsafat waktunya Agustinus atau Martin Heidegger dari pada teori Cokro manggilingan-nya Ronggowarsito.

Saudaraku yang aku cintai,

Marilah kita sebentar menengok kedalam diri kita, benarkah kita sudah merdeka, benarkah kemerdekaan bangsa ini telah kita rasakan? Tanya kepada diri kita, sejauh mana kita merdeka menggenggam jati diri bangsa, ataukah jiwa kita masih dikuasai oleh euforia kebarat-baratan atau manisfestasi keimanan yang kearab-araban.

Mari pagi ini kita ikrarkan dalam diri, bahwa dari sabang sampai merauke adalah bumi nusantara yang kaya, siapapun yang hidup berpijak diatas buminya adalah saudara kita. Para leluhur yang berkiprah membangun peradaban diatasnya adalah orang tua yang wajib anut dan pegang petuhnya. Wajib kita amalkan pemikiran adiluhungnya.

Jika kita sudah bisa mengikat diri kita dengan ruh nusantara ini, tidak ada aku, tidak ada kamu, untuk berubah kita semua harus bersatu tidak bergantung pada siapapun di negeri luar sana.

Maka kita benar-benar merdeka !!!

Sebelum saya tutup, saya ingin mengajak saudaraku semua melantuntan lagu yang tercipta dari timur jauh negeri ini namun masih kuat erat mengabdi dan berbakti pada negeri kita, Indonesia…

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Reff :

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata
Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :

Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top