Doa

Oleh: Nur Lodzi Hady

Kang Wahab, seorang santri asal Lumajang yang tinggal di Papua berteman akrab dengan Jacobus, seorang remaja warga setempat. Meski sadar berbeda suku dan agama tapi hal tersebut tak memghalangi keduanya untuk bersahabat dekat, sering bertemu, mengobrol, saling curhat dan bercanda.

Suatu hari anjing kesayangan Jacobus sedang sakit. Tubuh hewan itu tampak lemah, matanya sayu dan enggan makan. Bingung dan sedih dengan keadaan itu, Jacobus lantas mendatangi kang Wahab. “Pace, sa punya anjing sakit ini. Tolong pace kasih sembuh dia bisa kaah..”, kata Jacobus penuh harap. Demi melihat anjing yang tergolek tanpa daya itu Kang Wahab menjadi sangat iba. Tapi dia sendiri bingung mau melakukan apa, karena memang tak punya keahlian menyembuhkan orang atau hewan baik secara medis ataupun non medis. Tapi untuk membesarkan hati Jacobus sekonyong-konyong ia memegang jidat anjing itu sembari membaca mantra yang spontan saja diucapkannya ketika itu: “Rik.. kirik, nek ancen awakmu ate matek yo ndang mateko; suwalike nek ancen awakmu ate waras yo waraso. Gasbergas kersaningalah sing nggawe beras”. Kang Wahab menyudahi suwuknya itu dengan meniup jidat anjing itu tiga kali. Tak disangka dua hari kemudian si anjing itu benar-benar sembuh.

Jacobus yang merasa gembira sekali langsung bergegas ke rumah Kang Wahab dengan maksud ingin mengucapkan terima kasih. Namun sedih sahabatnya itu ternyata sedang sakit, terbaring di ranjangnya. Karena sangat ingin membalas budi, meski sedikit ragu remaja itu tiba-tiba lantas memegang jidat Kang Wahab dan mulai membaca mantra yang diam-diam dia hapalkan dari bacaan Kang Wahab sewaktu nyuwuk anjingnya kemarin, meskipun ia sendiri tak tahu apa artinya: “Rik.. kirik, nek ancen awakmu ate matek yo ndang mateko; suwalike nek ancen awakmu ate waras yo waraso. Gasbergas kersaningalah sing nggawe beras”, ucap Jacobus dengan wajah serius. “Fuh.. fuhh.. fuhh!”, ditiupnya jidat Kang Wahab sebanyak tiga kali.

Si sakit pun tak bisa menahan rasa gelinya. Lelaki itu sontak tertawa terpingkal-pingkal sampai batuk-batuk. Bahkan setelah kejadian itu berlalu tak jarang ia tergelak sendiri saat mengingat doa Jacobus yang diucapkan dengan serius dan terdengar sangat tulus. Dan mungkin ditambah kondisi psikis dan moodnya yang bagus tersebut, esok paginya ia merasa badannya sudah pulih. Sakitnya sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala. “Trimakasih Jacobus, saudaraku”. bisiknya haru sembari tersenyum. 😆😆

#PapuaAdalahKita #RawatNKRI #PapuaIndonesia

Penulis adalah Penikmat Dangdut, tinggal di Jakarta

Sumber Foto: http://doacgn.com/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top