Suatu Pencarian Getar-Keakuan Seorang Al-Ghazali

Oleh: R.H. Authonul Muther

Ia yang menggigil sampai tak dapat bicara, merupakan ia yang nyaris sampai kepada Tuhan. Dan selama itu pula, ia bergumul di dalam ke-nyaris-an terus menerus tanpa pernah dapat memahami Tuhan secara penuh. Suatu paradoks, ketika kita nyaris memahami Tuhan, tetapi seketika itu pula Tuhan kembali meluas, kembali menjadi yang tak terpahami. Tuhan yang selalu luput untuk dipahami secara penuh, akan selalu membuat manusia menjadi menggigil. Dan dia sang penggigil, yang bernama Al-Ghazali, seorang yang kemudian akan dijuluki sebagai Pembela Agama Islam, sebagai Hujjah Al-Islam.

Al-Ghazali, menemukan racikan kimia, suatu racikan yang dapat mengantarkan manusia kepada puncak kebahagiaan, suatu tempat yang, darinya seluruh rahasia kemakhlukan terbuka dan terpahami, tapi selalu luput untuk Sang Wujud. Bagaimana bisa Sang Wujud terpahami, sedangkan Al-Ghazali, hanyalah ikan yang tenggelam di dalam lautan Sang Wujud? Manusia hanya dapat mencapai suatu tempat puncak tanpa pernah sungguh-sungguh memahami secara penuh Sang Wujud. Al-Ghazali sadar, ia tau batas kemakhlukan, di sana puncak bahagia bersemayam, di situlah pencarian tanpa henti dimulai, di sebuah ceruk terdalam yang hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang selalu mendambakan suatu pertemuan.

Kimia Kebahagiaan: Perjalanan Pemikiran dan Hidup Sang Penggigil

Suatu perjalanan untuk menggapai pertemuan, merupakan perjalanan terjal yang ditemani di sisi kiri-kanan, jurang tanpa dasar.  Tulisan ini berangkat dari suatu film dokumenter yang berjudul The Alchemist of Happiness oleh produser Ovidio Salazar, yang menelusuri secara singkat sepak terjang kehidupan dan intelektual Al-Ghazali.

Sejak usia muda hingga menjelang umur lima puluh tahun, sampai melebihi umur lima puluh tahun, Al-Ghazali dengan berani menerjang ke kedalaman samudera. Dia selalu bertolak menuju laut lepas, mengesampingkan seluruh rasa takut dan cemas, dia menghujam ceruk gelap. Al-Ghazali telah menggempur setiap masalah. Dia telah menerjang setiap palung. Dia telah berupaya menelanjangi nyaris seluruh doktrin terdalam dari setiap keyakinan umat. Semua itu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Antara tradisi masuk akal dan bid’ah munkar.

Manusia terlempar ke dunia, lalu meninggalkannya, suat momen faktis yang tak dapat diubah dan niscaya-pasti. Terlemparnya Al-Ghazali ke dunia, mengabdikan dirinya untuk menyelidiki rahasia keberadaan, dan dengan mengatasi keraguan filosofisnya ia mampu mencapai rahasia spiritual dan rahasia keberadaan. Al-Ghazali menjadi teladan, bagi orang-orang yang mendamba suatu pertemuan. Hal itulah yang membuat Salazar, orang di dalam film yang ingin menyelidiki lebih dalam tentang Al-Ghazali dan perburuannya akan Realitas Puncak, bermula.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i, pada tahun 1058 lahir ke dunia. Di Thus, daerah Khurasan sebelah timur laut Iran perjalanan Sang Penggigil di mulai, ia lahir di kota ini. Tetapi, di tempat peristirahatannya yang terakhir, makam Al-Ghazali tetap diliputi misteri.

Thus, dulu merupakan pusat budaya Islam yang besar dan luas. Banyak ulama besar yang lahir di Thus. Di masa Al-Ghazali, secara garis besar, dunia Islam merupakan peradaban terhebat yang pernah ada. Pada masa-masa kejayaan tersebut, dunia Islam merupakan peradaban paling makmur, secara intelektual dan arsitektur paling produktif. Budaya Pendidikan seperti universitas besar ada di sana, itulah pusat peradaban kala itu. Perdebatan para filsuf, ahli fiqh, teolog dan para ilmuwan terjadi di Khurasan. Dari situlah banyak prinsip awal tasawuf terbentuk sebagai suatu langkah-langkah untuk setiap para muslim untuk kembali kepada jantung keimanan dan kepada getar-keakuan.

Tetapi, pasukan Mongol meratakan kota-kota besar di Khurasan. Dengan peperangan itu, membuat jejak-jejak studi dan kebudayaan nyaris terhapus. Dan terdengar lelucon ketika pencarian jejak seorang Al-Ghazali dalam debu. Meski demikian, bukan berarti tidak ada jejak sama sekali, dalam karya Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama) dan Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan), Al-Ghazali memaparkan makna batiniah dalam Islam, sekaligus langkah-langkah untuk mencapai realitas puncak. Tetapi, sebagaimana suatu reaksi kimia yang mengubah logam menjadi emas, tidaklah mudah, bahkan terkesan tak mungkin untuk ditemukan.

Di mana semua itu berawal untuk menemukan suatu “reaksi kimia” bagi seorang Al-Ghazali? Dari pertanyaan inilah seorang Salazar memulainya, memulai mencari Al-Ghazali, lebih dalam.

Sebagai sosok pencari kebenaran, pertama-tama Al-Ghazali berpikir, untuk mencari kebenaran hal yang harus dicari terlebih dahulu adalah dasar kepastian. Nyatanya, kodrat manusia dan keadaan yang paling mendasar dari keberadaannya adalah kekosongan, dan ketakterpahaman akan dunia gaib Tuhan. Manusia, memperoleh pengetahuannya melalui indera, dan disetiap indera tersebut dianugerahi untuk memahami dunia makhluk. Tetapi, di saat manusia berusia tujuh tahun, sebagian kecerdasan bertambah, tahapan inilah yang membuat manusia dapat mengetahui lebih banyak daripada sekedar pengetahuan yang berasal dari inderawi. Pengetahuan yang berasal dari akal budi. Dengan akal budi, manusia dapat memahami hal abstrak, suatu pemahaman akan yang mungkin dan mana yang tak mungkin.

Meski akal budi begitu agung, bagi Al-Ghazali, tetap terdapat tahap lanjutan, di mana, mata yang berbeda terbuka, manusia dengan mata yang-lain tersebut dapat menyaksikan dunia gaib, sebuah dunia yang berada di luar jangkauan indera maupun akal budi. Tetapi, ada suatu yang lebih mencengangkan, indera dan akal budi itu fana.

Kita, sebagai manusia diajak untuk terus menerus, tanpa henti, menuntut ilmu sampai tanah membungkam kesadaran. Itulah kematian, dari dan melaluinya manusia dapat memfokuskan pikiran menuju sebuah pemahaman akan akhir dari tubuh dan kesadaran. Bukan hal mudah, dari segala sisi godaan merayu kita untuk melupakan kematian. Lantas, apa peran kematian dalam refleksi Al-Ghazali untuk mencapai kesadaran spiritual?

Al-Ghazali dan adiknya Ahmad, dititipkan oleh sang ayah kepada salah seorang temannya sebelum ia wafat. Yang merupakan seorang “Faqir”, seorang sufi. Hal yang menandai masa kecil Al-ghazali adalah minatnya kepada studi formal. Sedangkan adiknya, sejak awal sudah tertarik pada jalan tasawuf. Keduanya sama-sama kutu buku, dan tentu saja keduanya akan menjadi ulama besar dalam tradisi Islam.

Al-Ghazali mampu menghafal teks standar sejak usia dini. Ia selalu haus untuk memahami segala sesuatu, artinya apa yang sesungguhnya sesuatu itu. Ia memiliki selera tak terpuaskan akan pengetahuan. Bahkan Al-Ghazali pernah mengatakan, “tidak akan menulis persoalan tentang teologi, sebelum menghafal 12.000 halaman kajian para teolog kalam.” Jelaslah pemikiran Al-Ghazali berangkat dari kerangka pemahaman Tauhid, di mana keesaan Tuhan tampak dalam keberagaman dalam dunia. Al-Ghazali mampu mencapai akar pesoalan, ia telah menguasai, menghayati, dan bergulat dengan persoalan-persoalan besar sejak usia dini.

Terdapat beberapa faktor luar yang membentuk pengalaman wahyu dan pengalaman beragama. Dan inti dari semua itu adalah sifat manusia untuk mencari suatu Realitas Puncak, realitas ke-Ilahi-an. Untuk mencapainya, manusia harus dapat mengenal suatu hakikat mendasar mengapa manusia harus ada. Adanya kita, bagi Al-Ghazali, adalah beribadah kepada Tuhan. Adapun, bentuk tertinggi dalam ibadah adalah ma’rifah (mengenal) Tuhan. Hal itulah yang primordial, suatu “fitrah” tentang kesejatian “aku”,  agar manusia dapat mengenal Penciptanya, suatu pengenalan atas Yang Dikenal dan yang mengenali. Di sana getaran gaib berada, bahkan sejak waktu pertama kali diciptakan, manusia diciptakan, makhluk diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan.

Dalam suatu pengenalan terdapat dua faktor penting, yakni iman dan nalar yang, seringkali tak dapat didamaikan. Pada abad ini, kian begitu menggiurkan mengamalkan agama secara buta, yang tercermin dalam konservatisme agama di satu sisi. Di sisi lain,  terdapat kesinisan, dan tak ada yang absolut (paradigma post-modernisme). Racauan disalah tafsirkan sebagai wahyu (new age) dan agama, dalam berbagai argumennya dibajak oleh para ideolog maupun teolog ‘radikal’. Itulah beberapa komplikasi pertengkaran antara iman dan nalar, mengapa yang fana menjadi sedemikian menggiurkan, lantas melupakan akan suatu yang abadi?

Dalam perjalanan intelektualnya, Al-Ghazali berkelana untuk belajar pada ahli kalam terkemuka pada masanya. Tetapi ilmu, seringkali datang dari sumber yang tak terduga, tidak dari ulama, tapi dari seorang perompak. Ketika ia pulang dari menuntut ilmu selama dua tahun, di perjalanan Al-Ghazali bertemu dengan perompak yang ingin mencuri harta benda yang ia miliki. Al-Ghazali mempersilahkan perompak mengambil seluruh harta bendanya, kecuali karya dan catatan-catatannya. Perompak itu berkata, “Jadi, aku cukup merampasnya darimu untuk menghapus pengetahuanmu.” Al-Ghazali dalam hati terdalamnya mengakui kebenaran yang diucapkan sang perompak. Ia memutuskan untuk, menghafal seluruh catatan-catatan dan karya-karyanya selama tiga tahun sembari meneruskan pembelajarannya di bawah bimbingan yang terhormat Imam Al-Haramain Al-Juwaini.

Al-Ghazali melihat ada beberapa tipe dasar dalam pengetahuan. Pertama, pengetahuan inderawi, yang membuat manusia dapat mencerap panas atau dingin, malam atau siang, tapi pengetahuan inderawi tak selamanya benar. Orang yang demam misalnya, orang demam merasa udara panas padahal dingin. Kita tak bisa menafikan pengetahuan inderawi, tetapi Al-Ghazali  sadar bahwa pengetahuan inderawi tidak mutlak. Alih-alih membawa kita untuk membenarkan sesuatu, padahal pada nyatanya tidak.

Kedua, pengetahuan nalar, yakni matematika. Al-Ghazali mulai meneliti secara mendalam pengetahuan nalar dan menyadari sesuatu; ia merasa nyaman dengan matematika, ia berkata “apakah kita sedang bangun atau tertidur, 2+2 akan selalu sama dengan 4.” Tetapi, berkat pengetahuan nalar ini pulalah Al-Ghazali berada dalam suasana keragu-raguan (skeptisisme). Berbeda dengan Rene Descartes yang memaksakan keraguan atas dirinya, yakni di saat Descartes mempertanyakan diri sendiri, dan tak sengaja, mulai melucuti dirinya sendiri dari semua bentuk kepastian untuk mencapai suatu keraguan lengkap untuk melihat apa yang sedang terjadi. Al-Ghazali tidak seperti itu, tetapi keraguanlah yang mendatangi benaknya, dan ia mulai mempertanyakan kepastian yang paling mutlak. Dengan demikian, mau tak mau, Al-Ghazali harus menyusun kembali jati dirinya, suatu jalan yang ia pilih adalah hijrah spiritual. Suatu pencarian cerah cahaya, dari getar-Ilahi. Dari situlah, Al-Ghazali mampu mengatasi skeptisisme radikalnya. 

Dalam konteks politik, pada zaman Al-Ghazali kekisruhan meraja lela. Mempertanyakan siapa pemegang otoritas terakhir di satu sisi, dogmatisme agama di sisi lain. Ditambah fanatisme dan sekularisme membuat kekisruhan menjadi-jadi. Peristiwa politik pada masa Al-Ghazali sangatlah rumit, terdapat khalifah Baghdad sebagai simbol penguasa dunia Islam Sunni. Kuasa politik berada di tangan Seljuq, perdana menterinya bernama Nizham Al-Mulk, merupakan contoh yang paling terkenal. Dan telah menjadi wewenang Seljuq, Islam yang seperti apa yang akan dipakai dalam suatu negara.

Al-Ghazali berulang kali menyampaikan bahwa hijab  utama yang menghalangi manusia dalam menyaksikan  Tuhan adalah fanatisme agama. Ia menyatakan bahwa tak ada masalah mazhab mana yang kalian ikuti, terdapat banyak pandangan akidah yang sah untuk diikuti. Apapun itu, bagi Al-Ghazali, jangan jadikan suatu aliran menjadi fanatisme dan dogmatisme ekstrim. Baginya, “muslim yang jahil lebih berbahaya daripada orang kafir.

Nizham Al-Mulk, perdana menteri Seljuq, melihat Al-Ghazali sebagai pemikir yang dapat membawa stabilitas dan kesatuan dalam suasana terpecah belah dalam masyarakat dan para intelektual muslim. Ditambah bahwa Nizham percaya, dalam diri Al-Ghazali, terdapat suatu nila-nilai universal yang dapat dijadikan pegangan bagi seluruh umat manusia. Al-Ghazali memberi penerimaan atas otoritas negara―bukan agama itu candu yang didiagnosa oleh Marx―tetapi sebagai kepentingan rakyat dan warga negara itu sendiri, dan cara-cara ‘anarkis’ bagi Al-Ghazali ditolak. Akhirnya, Al-Ghazali dipanggil oleh sultan Seljuq, Malik Syah. Al-Ghazali mulai bergabung dengan cendekiawan Seljuq, baik para ahli hukum maupun para ahli akidah.

Setelah panggilannya oleh Sultan Seljuq, Al-Ghazali mulai memimpin jurusan akidah di Universitas Nizhamiyyah di Baghdad. Agar, maksud sang Sultan, mengajari para murid yang haus akan ilmu, tafakur, dan tauhid. Dalam ceramah akademisnya, Al-Ghazali dikerumuni banyak sekali para murid-muridnya dalam membahas bidang fiqh dan akidah. Al-Ghazali menyampaikan ceramahnya di atas mimbar paling istimewa dan paling agung di dunia Islam, teks-teks Yunani dan Islam telah ia kuasai dalam jangkauan pengetahuannya. Begitupula dengan karya-karyanya yang laku keras di kalangan ulama, tahafut al-falasifah misalnya yang telah mengubah arah pemikiran dunia Islam.

Al-Ghazali melihat kepemimpinan Islam masa itu tengah terjangkit suatu kesadaran palsu. Kesadaran palsu, bahwa para ulama berdakwah tetapi tidak mengamalkan apa yang mereka ajarkan. Ia menyuarakan gagasannya dalam debat publik dengan dalil dan argumentasi ketat nan kuat , baik di hadapan para Sultan maupun kepada murid-muridnya di atas mimbar. Dan tepat di situlah, suatu tantangan mendasar yang mengancam jati diri Islam. Orang pertama yang ia tuduh telah berdakwah tetapi tidak mengamalkan apa yang ia ajarkan adalah seorang ulama besar, yakni dirinya sendiri. Suatu peristiwa yang membuat Al-Ghazali berada pada ambang krisis. 

Al-Ghazali betul-betul menyadari suatu penyakit spiritual, yakni hasrat ego untuk mengalahkan lawan. Tepat di titik itulah, ia ingin kembali, memutar arah menuju kepada yang lebih murni, “bukan aku berkubu pada posisi politik dan lantas tak mau mendengar lawan bicaraku.”, melainkan, “aku dan kau, harus terus menerus, bersama-sama mencari suatu kebenaran.” Mengalahkan lawan untuk memuaskan hasrat diri, pada dasarnya, bagi Al-Ghazali sedang berada dalam kesia-siaan.

Adiknya, Ahmad Al-Ghazali, yang kemudian dikenal sebagai sosok penyair dan sufi besar dari Persia, mempunyai hubungan penuh warna dan begitu dekat dengan sang kakak.

Suatu misteri masa depan, tak disangka-sangka keraguan kembali menyerbu Al-Ghazali, ia berada dalam suatu kebimbangan yang maha dahsyat dari sebelum-sebelumnya. Ia melihat, selama ini yang ia tampakkan bukan jati dirinya, melainkan hanyalah topeng belaka. Sang adik, Ahmad, berkata kepada sang kakak ketika Al-Ghazali mengajar murid-muridnya, “Kau uluri mereka tangan, padahal mereka enggan, dan kau sendiri tertinggal di belakang, sementara mereka di depan. Kau mengambil peranan penuntun, tapi, engkau enggan dituntun. Kau berdakwah, tapi tak mau untuk didakwahi. Wahai batu asah, sampai kapan kau menajamkan orang lain, tapi kau sendiri tak kunjung tajam, kau tak membiarkan dirimu tajam?”

Al-Ghazali sadar, menjadi begitu sadar. Bahwa semua pengetahuan intelektual ini ternyata hanyalah sebuah kejahilan yang sangat amat samar. Ia jahil, dan yang terpenting, kepada dirinya sendiri.

Di situlah ia menggigil, teroambang-ambing selama enam bulan, suatu keter-ombang-ambingan di antara samudera hasrat duniawi dan hasrat akan akhirat. Ia menempuh jalan terjal, suatu jalan pengenalan. Sang penggigil sadar secara radikal, “aku ada menuju kematian, dan, sudahkah aku menyiapkannya?” Kematian yang menjadi hantu bagi seorang Al-Ghazali, ketika dalam perjalanan intelektual sudah, dan telah merasa sampai, ketika ia merasa bertemu dengan Tuhan, pada nyatanya tidak. Ia sungguh berada di dalam krisis maha hebat, krisis perihal peniadaan (eksistensi)¸ yang semuanya adalah fana.

Krisis tersebut membuat lidahnya kelu, membuat ia tak dapat berbicara, sehingga ia tidak dapat mengajar para murid-muridnya. Krisis tersebut tidak dimulai dari fisiknya, melainkan mental dan intelektual. Aktifitas keseharian menjadi terganggu: waktu makan, selera makan, dan jam tidurnya, membuatnya terbaring sakit. Selama kekeluan lidah dan ganjalan yang hinggap di jiwanya, Al-Ghazali kembali meniti niat, merangkai ulang tujuannya dalam menjadi makhluk. Ia sadar, sang penggigil sadar, kiprahnya selama ini bukan digerakkan oleh dorongan murni akan getar-Ilahi, melainkan suatu hasrat akan jabatan yang berpengaruh dan dipuja-puja dalam masyarakat.

Darinya sang penggigil tahu, bahwa jalan sufi menggabungkan keyakinan nalar dan amalan nyata. Amalan itu berbentuk menggilas rintangan dalam jiwa, dan menghapus secara paripurna sifat rendah dan moral keji. Hal itu dilakukan agar, diri menjadi terbebas dari jerat jerit perbudakan nafsu dan mampu tidak bergantung kepada segala sesuatu, selain kepada Tuhan.

Keyakinan nalar begitu mudah, tapi menjadi jelas bagi sang penggigil, bahwa hal yang paling benderang dalam tasawuf tak dapat dipahami dengan hanya membacanya. Tapi dengan sentuhan sakral secara langsung dengan pengalaman ekstase dan hijrah moral. Para sufi bukanlah kaum pemintal kata-kata, lebih daripada itu, mereka para sufi merupakan pendekar atas pengalaman dan pengenalan langsung atas Sang Wujud. Pada hari-hari mendatang, selepas krisis itu, Al-Ghazali hidup dalam janji, suatu kehidupan yang penuh kesadaran akan yang-Ilahi. Al-Ghazali, menjadi teladan dalam jantung spiritualitas Islam, ia telah menggigil dan menemukan suatu getar dahsyat berkat perjalanan terjal tasawuf.

Sang penggigil khalwat, ia menempuh jalan maha sunyi. Meninggalkan rumah dan keluarga yang sangat ia cintai, hanya demi suatu tempat tertinggi, yakni momen pengenalan dan perjumpaan. Bukan hanya keluarga, Al-Ghazali meninggalkan seluruhnya: jabatan, kekayaan, popularitas, dan hal-hal yang membuat ia hidup tanpa getar janji Ilahi. Sang penggigil berkelana dari negeri ke negeri lain, dari Makkah sampai Suriah. Di tengah-tengah perjalanan berjumpa kepada para kekasih-lain yang pula menempuh jalan sunyi. Sang penggigil berkelana hanya dengan modal percaya dan suatu janji, bahwa sang-Ilahi akan mencukupinya dalam jalan terjal pengenalan kepada Yang Dikenal.

Al-Ghazali berjumpa melalui jalan memutar, menghabiskan hidupnya dalam proses pencarian tanpa henti. Mungkin ia telah sampai, tetapi ia belum sampai secara penuh, selalu terdapat momen gaib yang terselebung dalam bermilyar hijab. Akhirnya, kita, manusia hanya bisa berkata, berucap penuh dengan gelombang sendu, ‘Oh Yang Maha Misteri, Yang Maha Berbeda dengan apa yang diciptakanNya. Izinkanlah Kekasih, para pencintaMu mengenal dan menggigil, karena dan hanya karena-Mu. Kekasih, lapangkanlah kami, luaskanlah kami, hidupkan kami dalam janji, hidup dalam getarMu, mati dalam pelukanMu, dan hidup dalam kesadaran penuh akan kasih dari, Mu.’

“Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.”

Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ

Al-Fatihah untuk sang Hujjah Al-Islam. Suatu hadiah sederhana, untuk menghormati jasa besar sang penggigil dalam tangga-tangga pengenalan.

Penulis adalah Pegiat Filsafat

Sumber Foto: https://www.amazon.com/Al-Ghazali-Alchemist-Happiness/dp/1901383245

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top