Menuliskan Kepulangan

Oleh: RH. Authonul Muther

Saya harus menuliskannya, meski, suatu tulisan yang mustahil dan tak mungkin untuk ditulis. Tulisan dari manusia yang tak tau bagaimana cara mengeja kitab kuning, mengeja teks-teks inti dalam jantung keimanan Islam. Mustahil, membentuk suatu kalimat per kalimat sebagai “kado kepulangan”, “kado” dari kita, “kado” dari saya sendiri yang masih mendamba, yang masih cinta pada dunia. Nyaris mustahil menuliskan kepada ia yang sudah lepas, ia yang sudah murni terlepas akan dunia. Dia yang telah mencapai puncak ketergantungan murni kepada Tuhannya, kini telah berpulang. Syaikhona KH. Maimun Zubair, yang wafatnya, menggetarkan  alam semesta. Aku harus menuliskannya, aku harus menuliskan hal yang mustahil untuk ditulis, suatu getaran amat dahysat yang tak lagi sepele, yakni kematian. Menuliskan yang mustahil, berarti menulis tentang kematian, hal terumit, hal paling subtil dalam gelanggang refleksi manusia atas dunia.

Pasca subuh, Sang Wali pulang ke rumah yang paling asali. Kini yang tersisa adalah jejak-jejak kepernah-hadiran beliau di dunia. Tidak ada lagi getar makna yang terucap dari dadanya, tidak ada lagi petuah-petuah mistik dari dadanya, kini kita terseok-seok dalam pengetahuan karena kepergian seorang alim, seorang kekasih Tuhan.

Dari semua itu, duka yang paling berdarah adalah, di abad-abad mendatang, apakah ada manusia yang dapat setara dengan Syaikhona? Maju kena, mundur kena, optimis di satu sisi, pesimis di sisi lain. Pengetahuan yang beliau miliki menancap kuat melalui sejarah panjang dari masa kolonial sampai post-kolonial. Beliau telah mengalami benturan masalah, benturan peradaban yang, tak sedikit orang mengambil bagian dalam resiko rumit itu. Tapi beliau, tapi Sang Wali memilih menceburkan diri dalam resiko itu. Sampai kepulangannya, “nyawa” kharismanya tak luntur, kita harus meneruskannya, mengembangkannya, dan melampaui perjuangan Sang Wali.

Selalu sulit menulis kepulangan. Karena kepulangan selalu terpantul ke dalam diri kita sendiri. Kepulangan Sang Wali memantul, kita sadar, kita akan merasakan hal yang sama. Ada dua hal yang saya rasakan getarnya: pertama, kini seorang wali pulang, salah satu tauladan pewaris Nabi kini telah ‘tiada’. Kedua, dapatkah aku ‘mati’ dalam keadaan otentik, yakni khusnul khotimah seperti yang―insya Allah―telah terjadi kepada kepulangan Sang Wali. Dua kesedihan luar biasa, duka yang paling berdarah.

Pulang berarti kembali kepada suatu tempat yang pernah kita diami. Yang dari sana kita bermula, dan di sana pula kita berakhir. Meminjam istilah Ibn Arabi, bahwa “akhir, selalu identik dengan awal.” Kita di dunia, tidak memilih untuk di sini, tiba-tiba, ada kabar bahwa kita akan meninggalkannya. Terdengar aneh dan tak masuk akal, bahkan sulit untuk memahami pertanyaan itu. Tapi tidak dengan tangga-tangga ‘pengenalan’, di mana rahasia terbuka. Kepulangan adalah jawaban akhir dari pertanyaan-pertanyaan di dunia. Bahwa kepulangan adalah penutup dari segala tanya, akhir dari sebuah jawaban. Kita masih di dunia, tidak ada jawaban akhir apalagi pertanyaan akhir, mustahil. Dengan cemas (Angst), kita menunggu giliran, menunggu sebuah kepulangan.

Bisa dikata, kepulangan berarti matinya Bahasa. Syaikhona tidak lagi dapat menjawab Bahasa yang kita berikan, Bahasa yang kita berikan tidak ada respon dari beliau―dan akhirnya, Bahasa itu memantul ke dalam diri kita sendiri. Bahasa yang memantul inilah, getar-ketiadaan. Kita menangis, bersedih, berbelasungkawa karena ketiadaan-respon, ketiadaan-tanggapan. Tapi kita selalu menanggapi getar-ketiadaan itu, Syaikhona pulang meninggalkan pengetahuan, meninggalkan Bahasa yang sudah menjadi jejak. Dengan itu, dengan pengetahuan dan karyanya, Sang Wali akan terus merespon kita, bukan respon suara, tapi sebuah respon tulisan.

Bahasa itulah yang menyapa kita dan Bahasa itulah yang menuntun kita. Petuah-petuah dan tauladan yang kesemuanya adalah teks, akan terus menyapa kita―bahkan sampai diri kita sendiri akan pulang. Tapi, teks dari kita, tak dapat menjangkau Sang Wali, kecuali hanya dalam sebait harapan, sebait doa untuk suatu kepulangan. Kini Sang Wali akan terus menyapa kita dengan karya yang menjadi rujukan para santri, jika saya tidak keliru, kitab berjudul al-ulama al-mujaddidun.

Teks yang saya tulis ini pun absen dari tanggapan, ini adalah teks yang mustahil untuk ditanggapi ‘langsung’ oleh Sang Wali. Mau tidak mau, saya harus meniatkan ini ‘murni’ sebagai doa, sebagai harapan. Karena hanya dalam doa, karena hanya dalam harapan semuanya sampai, dan ‘tanggapan’ menjadi mungkin. Selamat jalan, selamat berdampingan dengan orang-orang yang dekat dengan Tuhannya, Guru. Al-Fatihah.

Penulis adalah Pegiat Filsafat

Sumber Foto: https://www.nu.or.id/post/read/109515/mustasyar-pbnu-kh-maimoen-zubair-wafat-di-makkah

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top