Revolusioner Buangan dan Mubadzirnya Masa Muda Kita

Oleh: Andri Kurniawan

Apa yang membuat seseorang begitu gigih memperjuangkan prinsipnya? Pikiran apa yang melintas di benaknya ketika ia berani memilih hidup seorang diri ‘hanya’ untuk mendapatkan jiwa kebebasannya. Apa yang membuat energinya sangat bergelora, berapi-api, dan tak pernah padam sepanjang hidupnya untuk meraih kemerdekaan negerinya. Akhir kata, ia tak pernah sekalipun mengincipi indahnya percintaan bersama wanita, ia berpuluh-puluh tahun mengembara, menghabiskan dari penjara satu ke penjara lainnya, menjadi revolusioner buangan yang hampir-hampir saja kehilangan tempatnya sebagai pahlawan. Ia pejuang kesepian. Ia selalu ‘berselisih’ dengan empat serangkai Soekarno-Hatta-Sjahrir-Amir Syarifuddin yang berhaluan politik moderat yang selalu memberikan ruang diplomasi bagi Belanda. Bagi keempat tokoh ini, ia dianggap terlalu radikal untuk memperjuangkan kemerdekaan yang penuh lika-liku dan berbahaya. Baginya, tak ada ruang sedikitpun bagi penjajah. Bahkan diplomasi sekalipun. Kemerdekaan harus diraih dengan satu jalan; perang. Empat serangkai ini dianggapnya terlalu bertele-tele, terlalu banyak cin-cong. Dan ia pun berjuang sendiri. Membuat partai dan gerakan, memobilisasi para buruh di perusahaan-perusahaan milik Belanda, mendirikan sekolah proletar dengan kurikulum dasar ajaran-ajaran revolusionernya, menulis di surat kabar dan lain sebagainya.

Sejak lahir, ia memang sudah didudukkan pada jenjang yang mulia. Gelar Datoek yang disematkan padanya adalah garis matriarki yang mewarisi adat terhormat di tanah kelahirannya. Ia menempuh pendidikan di sekolah rendahan, dan begitu pandai. Gurunya yang orang Belanda; G.H Horensma sangat tertarik pada pemuda ini. Olehnya, ia dipersiapkan untuk melanjutkan sekolah lanjutan dengan mempersiapkan dana dan perbekalan belajarnya. Murid terbaiknya itupun akhirnya melanjutkan pendidikannya di Kweekschool Haarlem di Belanda.

Di Belanda ia terjun aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia dan selalu bersimpati pada sosialisme dan komunisme. Sejak saat itu ia sering membaca buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels dan Vladimir Lenin. Friedrich pun menjadi salah satu panutannya. Pengetahuan yang banyak mengenai revolusi, juga kesannya yang mendalam terhadap Jerman ia terobsesi menjadi salah satu angkatan perang Jerman. Ia pun mendaftar ke militer Jerman tapi ditolak karena angkatan darat Jerman tidak menerima orang asing. 

Diam-diam ia merasakan betapa sangat berbeda kemerdekaan di Belanda dengan ketertiban Kolonial di negerinya. Lima tahun ia belajar di negeri kincir angin, kehidupannya semakin sulit, dan ia pun sakit-sakitan. Sementara hutangnya semakin banyak. Ia pun nekat pulang ke Sumatra dan menjadi guru untuk Maskapai Salembah. Sekolah milik perusahaan Belanda yang diperuntukkan anak-anak kuli kontrak yang bekerja di perusahaan itu. Usianya waktu itu 21 tahun.

Haloo..Hei anak muda. Sudah ngapain aja kalian di usia segitu. Masih “yang-yangan”, mewek-mewekan, terus sok-sokan patah hati gitu. Dasar lemah.

Oow… Tidak mas. Usia segitu saya sudah masuk perguruan tinggi ternama dan mendapatkan beasiswa.

Lalu ?

Dan saya adalah mahasiswa yang rajin masuk kuliah, mengerjakan tugas, duduk dibangku depan, datang paling awal dan pulang paling akhir.

Pulang paling akhir?

Iya mas.

Ngapain?  

“Yang-yangan”

Dancuk

Menjadi guru di sekolah Maskapai Salembah benar-benar membuat gejolak jiwanya terbakar. Di tengah kehidupan perkebunan yang benar-benar kapitalistik dan rasis itu ia dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan Belandanya. Atas pekerjaannya sebagai guru ia kerap diremehkan kendati ia lulusan sekolah luar negeri Haarlem Belanda.  Kejengkelannya ia tuangkan dengan menulis propaganda subversif untuk para kuli. Salah satu karyanya adaah “Tanah Orang Miskin” yang menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam hal kekayaan kaum kapitalis dan pekerja. Ia juga menulis mengenai penderitaan para kuli di kebun teh. Semua tulisannya dimuat di Het VrijeWoord dan Sumatra Post edisi Maret 1920. Pada puncaknya ia terlibat pada pemogokan para buruh perkebunan Belanda.

Halloo…Hei anak muda. Usia segitu kalian sudah menulis karya apa. Sudah memberi pengaruh apa terhadap orang-orang kelas bawah.

Ow..jangan salah mas. Usia segitu saya sangat produktif. Lebih dari yang mas kira.

Tentang ?

Karya.

Widiiiihhh. Apa itu?

Saya sangat rajin dan produktif menulis ‘karya’ status di WA. Dan saya juga rajin ngecek viewer insta story saya.

Ndiasmu

Selanjutnya, pemuda yang senang mempelajari ilmu agama dan ahli bela diri pencak silat ini menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920 mewakili kaum kiri dengan usia yang cukup muda 23 tahun. Volksraad adalah semacam dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda yang memiliki 38 anggota, 15 diantaranya adalah orang pribumi. Anggota lainnya adalah orang Belanda (Eropa) dan orang Timur Asing: Tionghoa, Arab dan India. Ia membutuhkan ruang organisasi untuk menampung dan mewakili orang-orang kelas bawah untuk kemudian membawa aspirasi mereka dalam jajaran politik elit Hindia Belanda.

Kemudian ia tinggal di Semarang, pusat kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang belum lama berdiri. Ia begitu piawai dan mahir. Ia menenggelamkan diri dengan mendirikan sekolah-sekolah proletar dengan kurikulum yang ia susun sendir dimana ia akan memberi pelajaran tentang dasar-dasar komunisme. Dalam waktu yang sangat singkat,banyak berdiri dan bermunculan sekolah-sekolah yang berafiliasi dan mengadopsi sistem dan kurikulum yang ia buat. Ia pun segera mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Ia kemudian menulis buku panduan, risalah SI Semarang dan Onderwij (pendidikan).

Dengan usia semuda itu ia telah melakukan banyak hal. Bukan untuk dirinya. Ada sesuatu yang ia perjuangkan. Dan ia lakukan sendiri. Segala kualitas, kapasitas dan keteguhan yang ia miliki adalah hasil dari sebuah tempaan diri. Hasil dari proses lelaku yang berat dan berjibun. Semangatnya, gelora jiwanya serta kematangan dirinya melampaui usianya yang masih begitu muda.

Ada banyak contoh dalam sejarah kisah tentang pemuda-pemuda yang hebat. Tapi sosok Tan Malaka ini sungguh berbeda. Sangat berbeda.

Diusia mudamu, kamu sudah ngapain aja Mblo….

Penulis adalah Pegiat Cogito Literasi, Staff Pengajar di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang

Sumber Foto: http://ekonomiunanda.blogspot.com/2015/10/revolusioner-mahasiswa.html

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top