[Part: 1] Kritik Atas Banalitas Kebohongan Manusia Era POST-TRUTH

Oleh: Trio Kurniawan

Manusia pada era ini sedang mengalami fenomena unik yaitu krisis kebenaran. Beberapa cendekiawan kemudian menyebutnya sebagai era post-truth; era di mana manusia tidak lagi berlomba-lomba mengejar kebenaran sejati, melainkan melahap sampah-sampah kebenaran(hoax atau hoaks) tanpa ditelaah terlebih dahulu. Beberapa pihak (juga dari kalangan cendekiawan) bahkan dengan bangga menjadi agen penyebaran sampah-sampah tersebut.

Jika dikaji secara lebih mendalam, persoalan lahirnya era post-truth merupakan persoalan yang sangat serius karena nalar manusia berupaya untuk mencari kebenaran yang sifatnya palsu. Era post-truth memiliki konstruksi nalar tersendiri sehingga manusia dengan mudah menggunakan konstruksi tersebut untuk menerima hoaks sebagai kebenaran. Konstruksi nalar ini tentu tidak lahir begitu saja, melainkan terbentuk dari latar belakang ekonomi-sosio-kultural dunia saat ini. Oleh karena itu, sangat penting dan mendesak untuk melakukan rekonstruksi atas nalar manusia pada era post-truth ini sehingga manusia bisa kembali berpegang pada kebenaran sejati, bukan pada kebohongan.

Rekonstruksi nalar manusia pada era post-truth ini akan dilakukan pertama-tama dengan menganalisa penyebaran hoaks di internet. Internet secara nyata sudah menjadi kebudayaan baru yang sangat kuat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia saat ini. KonsepMary Douglas tentang group dan gridakan digunakanuntuk menganalisa akar persoalan penyebaran hoaks tersebut sehingga mempengaruhi masyarakat.

Setelah menganalisa akar persoalan tersebut, rekonstruksi nalar manusia akan dilakukan dengan harapan manusia saat ini mampu menangkal penyebaran hoaks di masyarakat. Rekonstruksi nalar manusia era post-truth ini akan dilakukan dengan menggunakan Teori Kritis yang dikembangkan oleh Jürgen Habermas.

Pengertian Post-Truth

Penyebaran hoaks yang merajalela beberapa tahun belakangan menunjukkan kenyataan yang sangat mengerikan berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai subjek yang mencintai dan mengejar kebenaran. Setidaknya ada beberapa momentum yang menunjukkan kendali era post-truth terhadap kehidupan manusia secara global maupun nasional (konteks Indonesia). Kamus Oxford menempatkan kata post-truth sebagai “Word of The Year” pada tahun 2016[1] karena kata tersebut begitu banyak digunakan oleh umat manusia, terlebih pada peristiwa terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit). Pada kedua momen itu, berita hoaks dengan sangat mudah disebarkan kepada masyarakat luas dan mempengaruhi opini publik.

Indonesia sendiri mengalami dampak buruk dari era post-truth. Tanpa mengabaikan penyebaran hoaks pada masa sebelumnya, gempuran informasi hoaks bertaburan di media sosial selama 3-4 tahun terakhir, terutama ketika pilpres 2014 dan pilkada Jakarta 2015. Rakyat terpecah menjadi kubu-kubu yang saling serang hanya berdasarkan informasi bohong. Kerukunan antar umat beragama semakin renggang. Isu-isu sensitif dengan mudah “digoreng” hanya demi syahwat politik kekuasaan. Puncaknya adalah penangkapan organisasi Saracen[2] dan Muslim Cyber Army (MCA)[3] yang dilakukan oleh aparat kepolisian beberapa waktu yang lalu.

Kamus Oxford menjelaskan post-truth sebagai kata sifat di mana kebenaran objektif tidak lagi berpengaruh terhadap pembentukan opini publik, melainkan situasi emosional ataupun kepercayaan personal manusia.[4]Manusia yang berada dalam cengkeraman era post-truth tidak lagi merasa bahwa kebenaran objektif begitu penting dan harus dikejar. Mereka tidak lagi berupaya keras menggali informasi, membandingkan setiap informasi yang diperoleh dan mengambil keputusan yang tepat mengenai informasi tersebut berdasarkan logika yang jernih. Manusia pada era post-truth lebih mudah terbuai pada berita-berita yang mengguncang emosional mereka sehingga mempercayai berita tersebut sebagai kebenaran sejati tanpa harus repot untuk menelaahnya terlebih dahulu.

Steve Tesich adalah orang pertama yang menggunakan istilah post-truth. Ia menggunakan istilah tersebut dalam artikelnya The Gorvernment of Lies di majalah The Nation yang terbit pada tanggal 6 Januari 1992.[5]Ia mengambil latar belakang Skandal Watergate Amerika (1972-1974) maupun Perang Teluk Persia untuk menunjukkan situasi masyarakat pada saat itu yang tampaknya “nyaman” hidup dalam dunia yang penuh kebohongan. Ia melihat bahwa masyarakat tidak terlalu peduli dengan sekelumit kebenaran yang ditegakkan dan dengan bebas memilih untuk hidup pada ruang post-truth.

Ralph Keyes, dalam bukunya The Post-Truth Era, mengatakan bahwa pada zaman sekarang, kebohongan jauh lebih banyak mempengaruhi kehidupan manusia dibandingkan apapun.[6] Manusia modern lebih nyaman hidup dalam kebohongan dibandingkan bersusah-payah menemukan kebenaran. Kebohongan telah menjadi cara hidup mereka. Maka menurut Ralph Keyes, tidak lama lagi kebohongan akan menjadi sesuatu yang lumrah, bukan sesuatu yang tabu. Berbohong justru akan menjadi lebih menantang, menggiurkan dan lebih menghasilkan uang daripada kebenaran.

Singkatnya, era post-truth adalah era di mana manusia hidup di dalam kebohongan dan menganggap hal tersebut tidak lagi sebagai masalah besar. Bisa dikatakan bahwa era post-truth melahirkan suatu banalitas kebohongan yang membuat akal budi manusia kesulitan untuk melihatnya secara jelas. Ruang publik masyarakat modern yang menjadi tempat manusia hidup tidak lagi kondusif untuk menyingkirkan kebohongan dan memeluk kebenaran. “Cakar” era post-truth semakin lama semakin kuat tertanam dalam diri setiap manusia tanpa batas negara ataupun kebudayaan, terlebih karena dibantu penyebarannya lewat media sosial dan internet.

Penulis adalah Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino Ngabang, Direktur Kelas Filsafat-Teologi Katarina Siena Pontianak.

Sumber Foto: http://www.ethicalforum.be/node/100


[1]Word of the Year 2016 is… (Online), (https://en.oxforddictionaries.com/word-of-the-year/word-of-the-year-2016, diakses pada tanggal 7 Maret 2018).

[2]Kasus Saracen: Pesan Kebencian dan Hoax di Media Sosial “Memang Terorganisir” (Online), (http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41022914, diakses pada tanggal 7 Maret 2018).

[3]Polri sendiri dengan tegas mengatakan bahwa penangkapan anggota organisasi Muslim Cyber Army (MCA) memiliki pengaruh langsung terhadap penurunan jumlah berita hoaks mengenai penyerangan ulama. – Polri: MCA Ditangkap, Hoax Penyerangan Ulama Turun Drastis (Online), (http://news.liputan6.com/read/3344852/polri-mca-ditangkap-hoax-penyerangan-ulama-turun-drastis, diakses pada tanggal 7 Maret 2018).

[4]Relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief.” (Online), (https://en.oxforddictionaries.com/definition/post-truth, diakses pada tanggal 7 Maret 2018).

[5]Steve Tesich, “The Government of Lies”, The Nation, 6 Januari 1992, 12-13.

[6]Bdk. Ralph Keyes, The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life (New York: St. Martin’s Press, 2004), 15.

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top