Madzhab Jangan Nget-ngetan

Oleh: Nur Lodzi Hady

Panggung dangdut sudah sangat lama menjadi tambatan hati masyarakat Indonesia, dari semua perhelatan yang mengikutsertakan partisipasi masyarakt pastilah selau ada slot alunan musik dangdut. Dari resepsi pernikahan hingga agustusan, semua berdangdut ria, pokoke  joget.

Sebagai kaum orkesan saya melihat perubahan-perubahan yang terus bergulir secara cepat. Termasuk silih bergantinya group musik dan naik turunnya popularitas biduan. Regenerasi dalam dunia perorkesan itu mampu bergerak dengan progresif, tak terduga, massif. Secara bentuk terjadi pergeseran signifikan. Setidaknya ada beberapa hal yang menggembirakan yang menandai fenomena tersebut. Pertama, secara kualitas dangdut “orkesan” saat ini makin lebih diterima khalayak dengan penonjolan pada sisi mutu suara sang biduan dan karakter musikal group dangdut atau biasa disebut OM, orkes melayu. Kedua, performa yang tidak sekedar seronok dan mengandalkan goyangan pinggul-dada yang berlebihan. Jenis ini sudah di posisi membentur prinsip “adamu ridha ‘anin-nafsi” massa dangdut yang tercerahkan. Ia akan terpinggirkan dengan sendirinya. Penyanyi yang tampil casual dan “sopan” lebih disukai “rakyat”. Ketiga, kepercayaan diri yang semakin meningkat dengan membangun lirik-lirik lagu menggunakan bahasa, aksen dan gimik-ekspresi berbasis budaya lokal. Penggunaan bahasa daerah, setidaknya Jawa dengan ragam subkulturnya, Sunda, Cirebonan dst. serta kuatnya unsur-unsur musikal tradisional yang diinsert ke dalamnya.

Untuk menyebut beberapa, setidaknya yang paling saya suka saja, dari kemunculan Eny Sagita, Ratna Antika, Nella Kharisma hingga yang terbaru, Jihan Audy, penyanyi-penyanyi ini berkontribusi membetot sejarah panggung orkes dangdut di Jawa Timur. Via Vallen? Tentu dia punya peran penting meng-amplify karakter dangdut generasi ini ke khalayak lebih luas. Bahkan dalam beberapa hal ia sering dianggap ikonik. Baru-baru ini Via mendapatkan award di Moscow atas capaiannya dan sempat menyanyikan lagu “Selow”nya di istana Kremlin. Keren.

Tapi hemat saya kok tidak demikian. Via Vallen tak sepenuhnya dapat dianggap lahir dari panggung-panggung “rakyat dangdut” Jawa Timur secara murni sebagaimana nama-nama selainnya di atas, meski bisa jadi beberapa lagunya yang hits juga cukup berpengaruh terhadap proses “ideologisasi” orkes-orkes dangdut yang ada, meski juga tak dapat sama sekali pula dianggap sebagai pelopor. Via Vallen justru tampak lebih nyaman bersolo dengan pilihan citra girlband korea dibanding bereksperimentasi bersama group-group dangdut tersebut yang merasa semakin nyaman membawakan lagu-lagu berbahasa dan aksen lokal yang diupayakan mampu berdampingan dengan segala kemungkinan baru yang lebih kekinian. Berbeda dengan Via Vallen, beberapa penyanyi yang disebut sebelumnya, mereka adalah anak-anak kandung “rakyat dangdut” yang seperti ini. Yang salah satu dinamikanya juga dipengaruhi oleh menguatnya industri lagu-lagu osing Banyuwangian, “reinterpretasi” atas kebangkitan lagu-lagu “The Godfather of Broken Heart”, Didi Kempot, gairah dialektika estetis kebudayaan musikal Yogyakarta yang unik yang melahirkan petarung-petarung seperti dalam jaringan hip hop foundation hingga yang memilih jalur post melo ala NDX a.k.a Familia, Guyon Waton, Pendoza dan lain sebagainya. Lagu-lagu dari karya kelompok-kelompok yang disebut terakhir ini nyatanya mampu memberi supplay penting bagi hingar bingar panggung-panggung dangdut yang ada hingga saat ini. Sederet penyanyi di atas bahkan merupakan “konsumer” pelantun lagu-lagu mereka. Tak ketinggalan Via Vallen yang melejit salah satunya karena “barokah” lagu “Sayang” besutan NDX a.k.a Familia yang menekankan pada kekuatan lirik dengan cukup “bermodal” musik gaib alias digital.

Sampai disini? Tidak. Kabar menggembirakan itu berlanjut dengan dan saling bertukar berkah. Anak-anak muda semakin percaya diri dan menghadirkan dirinya bersama Didi Kempot dalam acara ‘ngobam’ di Yogya beberapa hari lalu. Mencoba mengasosiasikan diri secara penuh dalam dayu “peristiwa puitik” melalui deretan lirik lagu-lagunya yang penuh keluh kesah dan ratapan patah hati. Ya, lagu-lagu yang tentu saja berbahasa dan beeaksentuasi daerah (Jawa). Apa yang terjadi?  Selayaknya ada sebuah dialog kebudayaan yang cukup kencang, sebuah gelombang yang ditenagai oleh semangat mangan “jangan nget-ngetan”. Mungkin tak ada yang benar-benar baru dari saling cover lagu, tapi tetap hangat dan bikin kenyang semua orang. Peristiwa demikian bukan tak penting karena ia bisa menjadi sebentuk petanda zaman, yang jika ini gagal disikapi mungkin hanya mampu jadi fenomena sekelas lovebird, bunga gelombang cinta, ikan koi atau batu akik.

Walhasil semua asumsi saya ini mungkin hanya sebagai cara saya untuk menyambut idola baru saya dari generasi “rakyat dangdut”, pasca Eny, Ratna dan Nella. Dia gadis belia yang manis dan bersuara apik asal Mojokerto, Jihan Audy. Kenapa saya menyukainya? Karena saya Jilo, Jihan Audy Lovers.

Penulis adalah Penikmat Dangdut, tinggal di Jakarta

Sumber Foto: https://www.youtube.com/watch?v=2XT-6p1Xdzo

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top