Si Bung, Seorang Dramawan Ulung

Oleh: Hasan Bendrat

Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 agustus 1945. Sehari kemudian terbentuklah Negara Republik Indonesia dengan Soekarno sebagai presiden pertamanya. Dilansir situs merdeka.com pada 16 juni 2012, ketika Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan Soekarno sebagai Presiden itu tak ada debat atau perselisihan sama sekali.

“Nah, kita sudah bernegara sejak kemarin. Dan sebuah negara memerlukan seorang Presiden. Bagaimana kalau kita memilih Soekarno?”

Bagaimana jawaban Soekarno kala itu?

“Baiklah.” Jawabnya. Sesederhana itu.

***

Soekarno yang sejak muda telah bermain Tonil bersama teman-teman sekolahnya seringkali terpilih sebagai pemeran tokoh perempuan sebab masa itu tak banyak murid dari kalangan perempuan. Ada cerita menarik ketika beliau berperan sebagai tokoh perempuan. Dalam catatan Walentina Waluyanti – Holland yang di muat di kolomkita.detik.com menuturkan, Beliau menyumpal dadanya dengan dua potong roti manis dan menyulapnya seolah menjadi payudara. Beliau juga berdandan dengan bedak, lipstik dan gaun.

“Untung saja di adegan itu aku tidak perlu mencium laki-laki”, kenang Bung Karno.

Selain dikenal sebagai Founding Father, Presiden RI pertama tersebut juga dikenal sebagai seorang Dramawan. Ketika beliau diasingkan ke Ende, Flores, selama 1934-1938, beliau mendirikan sebuah kelompok teater. Inggit Garnasih, istri kedua beliau, memberi nama kelompok tersebut “Toneel Klub Kelimutu.” Cindy Adams dan Lambert Giebels mencatat ada sebanyak 12 naskah yang beliau tulis, yaitu 1) Rahasia Kelimutu, 2) Rendo Rate Rua, 3) Nggera Ende, 4) Amuk, 5) Dokter Syaitan, 6) Kut-Kutbi, 7) Aero Dinamit, 8) Djula Gubi, 9) Maha Iblis, 10) Anak Haram Jadah, 11) Sang Hai Roemba, dan 12) 1945.

Selain Tonel Klub Kelimutu, di Bengkulu—tempat pengasingan berikutnya selama 1938-1942—beliau juga memimpin kelompok pertunjukan bernama “Monte Carlo. Sebelumnya, kelompok ini adalah sebuah kelompok musik orkestra. Beliau melakukan perubahan dengan memasukkan sandiwara-tonel dalam pertunjukannya. Pilihan tersebut diambil untuk memberikan pelajaran dan membangkitkan jiwa dan semangat nasionalisme serta partiotisme kaum muda. Di Bengkulu beliau menulis beberapa naskah, antara lain, 1) Rainbow (Poetri Kentjana Boelan); 2) Hantoe Goenoeng Boengkoek; 3) Si Ketjil (Klein’duimpje); dan 4) Chungking Djakarta.

Ada perkembangan yang terjadi dalam proses penggarapan beliau dalam kedua kelompok teater tersebt. Terutama dalam segi penulisan naskah. Ketika di Tonel klub Kelimutu beliau hanya menuliskan garis besar alur cerita dari lakon yang akan dipentaskan. Kemudian menyampaikannya pada para aktor yang telah beliau pilih. Aktor menghafalkan nas kah yang disampaikan dan menirukan contoh yang diberikan. Sedangkan bersama Monte Carlo beliau menuliskan naskahnya dengan lengkap. Beliau tak hanya menjadi pemimpin kelompok, penulis dan sutradara, tetapi juga memilih dan melatih pemain, mendekorasi panggung, sekaligus sebagai manajer dan marketing pertunjukan itu.

Pengetahuan dan pemahamannya tentang dramaturgi sedikit banyak berpengaruh terhadap penampilannya dihadapan pubik. Beliau mampu menguasai audien, menyampaikan pidato yang berbobot dan membakar semangat masa. nada bicara, mimik dan gerakan tubuhnya ditunjukkan dengan sangat bernas.

Bung, di bulan ini engkau dilahirkan dan di bulan ini pula engkau dipanggil Tuhan. Alfatihah.

Artikel ini pernah dimuat di lensateater.blogspot.com pada agustus 2018 dengan judul Proklamator itu Dramawan Ulung. Sudah diedit ulang, dan ada beberapa pembaharuan.

Penulis adalah Pegiat Seni Pertunjukan

Sumber Foto: https://rosodaras.wordpress.com/2009/08/31/jika-orator-menjadi-guru/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top