Pasar Nabawi dan Hipermasjid

Oleh: Abdullah Wong

Saya tidak tahu persis bagaimana redaksi hadis yang menyebutkan bahwa sebaik-baik tempat di muka bumi adalah masjid, sedangkan seburuk-buruk tempat adalah pasar. Tanpa bermaksud meragukan otentisitas hadis tersebut—apalagi saya jelas-jelas bukan pakar hadis—saya hanya merasa penasaran terhadap muatan hadis ini. Maka, perkenankan saya menengok kembali “keunikan” hadis ini.

Pertama, membandingkan masjid dengan pasar tentu saja kurang fair. Anak kecil juga tahu! Tapi anak kecil yang tidak suka jajan, kali ya? Anak kecil (seumuran SMA) juga tahu kalau masjid adalah tempat suci dan mulia dibandingkan pasar. Kenapa? Ya terang saja; masjid digunakan orang untuk khidmat beribadah terutama shalat. Sedangkan pasar adalah tempat untuk berjualan. Apalagi, selain shalat sebagai aktivitas utama, di masjid juga bisa dilangsungkan shalat-shalat sunah lain. Bahkan ada satu shalat spesial di masjid yang disebut shalat tahiyyatul masjid. Belum lagi ragam amaliah lain seperti zikir, i’tikaf, tahannus, hingga jum’atan, atau kedua shalat Ied, yang juga diadakan di tempat yang bernama masjid. Dan asal tahu saja, gedung atau bangunan yang pertama kali didirikan Rasulullah adalah masjid, bukan pasar, bro! Itu dilakukan ketika rasul hijrah ke Madinah. Masjid yang dibangun di atas tanah milik anak yatim itu hanya dikelilingi tembok batu bata dari tanah liat dan berlantaikan pasir. Masjid itu dinamakan Quba. Tapi bukan Kuba kampungnya si Che Guevara. Disusul kemudian Masjid Nabawi di Madinah. Konon, kedua masjid ini (ada yang menyebut juga masjid Dhiror) oleh Al-Quran dinilai sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa. “Janganlah engkau sembahyang di masjid itu (yang dibina oleh orang munafik) selama-lamanya karena sesungguhnya Masjid Quba yang didirikan atas dasar takwa dari mula (wujudnya), (maka) sudah sepatutnya engkau sembahyang padanya…” (Al-Taubah, ayat 108).

Kedua, dari namanya saja sudah keren banget! Masjid berarti sebagai tempat bersujud. Terlebih bagi para pelaku shalat, di antara gerakan shalat yang menjadi rukun adalah sujud. Dalam bahasa Raab (plesetan dari Arab), sujud berasal dari kata sajada-yasjudu-sujud, yang berarti taat, patuh, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Dalam istilah fikih, sujud biasa diartikan dengan meletakkan dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung telapak kaki (madal) ke bumi secara bersamaan. Kalau pelaku sujud disebut Sajid, maka obyek (maf’ul) sujudnya bernama masjid. Mantab tho? Semakin mantap lagi bila kita tengok dalam tradisi tasawuf. Ternyata sujud merupakan simbol dari posisi tertinggi dalam kebaktian seorang hamba. Bayangkan saja, wajah atau kepala yang selama ini diagungkan karena tampan dan cantik, pada saat sujud wajah itu dibenamkan ke permukaan bumi. Tak peduli wajah orang itu menggunakan pupur, kosmetik, atau pembersih muka bermerek apa pun, sujud secara mutlak harus mencium lantai. Dan biarkan sang pantat yang tak dipupuri dan dipenuhi peta Afrika Selatan itu sebagai gantinya. Sujud juga menjadi simbol kedekatan seorang hamba dengan Tuhan, lihat misalnya pada Al-‘Alaq: 19, Wasjud waqtarib (sujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Tuhan). Dan makna puncak dari sujud adalah Baqa’. Di sini sujud menjadi simbol dari peniadaan ego seorang hamba. Kepala yang menjadi simbol rasionalitas manusia, dibenamkan di bumi. Sementara dada yang merepresentasikan hati (mulai dari qalb, fu’ad, hingga lubb) dan kesucian Ilahi itu dinaikkan lebih mulia. Walah, pokoknya pasar kalah keren dari masjid. Masjid is the best banget dibanding pasar.

Ketiga, secara fisik kondisi masjid lebih nyaman dan suejuk dibanding pasar. (sabar, aku tahu perasaanmu). Di sini kita bisa menengok sejarah kepemimpinan raja-raja Islam dulu, selain membangun istana, mereka juga berlomba mengekspresikan keagungan mereka pada arsitektur masjid. Saya tidak perlu menyebut masjid-masjid indah mempesona di Andalusia yang kini menjadi gereja, atau masjid-masjid indah di Irak yang kini rata dibombardir tentara Amerika. Apalagi masjid-majid Iran, India, Turki dan Saudi Raabia. Di sini saya cukup menyebut masjid adem ayem seperti Masjid Agung Demak, Masjid Istiqlal, Masjid Sunda Kelapa, Masjid At-Tien, atau boleh juga sebuah Masjid yang kubahnya konon dibangun oleh Mas Tarjo, Mas Darso, hingga Mas Peno. Rata-rata, masjid itu dibangun dengan megah dan anggun. Karena konsep arsiteknya sedemikian rupa, maka masjid-masjid itu bukan hanya indah menawan, tapi juga adem dan nyaman. Bahkan begitu banyak masjid yang meskipun tidak pakai alat pendingin ruangan sepeti AC, tapi tetap saja terasa sejuk, mak nyoss dan “tidak main-main”. Maka wajar kalau di kalangan ahli ANJAL (anak jalanan), masjid masuk kategori HI alias Hotel Islam. Meskipun sekarang agak susah mencari masjid yang terbuka 24 jam, kecuali di kampung-kampung. Wis, pokoknya masjid lebih kueren habis ketimbang pasar. Lalu, bagaimana dengan sang pasar?! Mari kita pergi ke pasar sebentar.

Kita mulai saja anjang sana ke pasar-pasar rakyat. Pasar rakyat yang sering mengalami peristiwa tragis dibakar ini biasanya kumuh, kotor, bau, dan pasti tidak pake AC! Begitu kita masuk ke pasar semacam ini, kita akan disergap dengan orkestra bising yang memiliki birama 4/4. Jangankan pasar, di dalam sebuah kelas saja, bila ada 40 anak asik ngobrol, tentu menimbulkan suara gaduh. Sementara di pasar, sekian ratus orang saling menawarkan, sekian orang saling menawar harga, dan sekian orang saling menjajakan barang-barang mereka. Betapa gaduhnya mereka. Maka, pecahkan saja gelasnya, biar ramai!

Tak hanya gaduh, aroma terapi pun membaur menjadi satu. Mulai dari aroma rempah-rempah, buah-buahan, aneka ikan, sayur mayur, telur pecah, tanah becek, keringat Parmin and Brother yang dari pagi mengangkat karung beras, atau sisa sirih yang dibuang dari mulut Nyai Marpuah, hingga sengatan ketiak Juminten penjual jamu Jago yang tak kenal deodoran itu. Semua berpadu secara holistik dalam tempat yang bernama pasar yang sangat paradigmatik! Kalau pasar demikian yang dikehendaki sebagai bahan degrees comparation antara masjid dan pasar, rasanya tidak fair. Ini seperti membandingkan telaga bening di pegunungan dengan kubangan lumpur berisi kotoran kerbau. Nah, anggap saja penjelasan ini sebagai alasan pertama.

Kedua, pasar selain sebagai tempat yang tidak mampu memberikan rasa nyaman, pasar juga menjadi ajang orang-orang untuk bersaing dan saling menjatuhkan. Konsep persaingan ini berlangsung di pasar apa saja, mulai dari pasar-pasar yang sudah dugusur oleh jalan raya, sampai yang bernama pasar raya. Tak peduli apakah pasar itu kini telah berubah menjadi swalayan, supermarket, hypermarket, market banget, terlalu market, market lebay, hingga mall dan square. Pasar (bazaar) ini biasanya tak kalah nyaman dari masjid. Ini yang saya maksud di depan dengan (sabar, aku tahu perasaanmu). Ya, karena pasar-pasar seperti ini selalu dilengkapi mesin pendingin berkekuatan puluhan Richter. Apa pun caranya akan dilakukan demi mendapatkan perasaan nyaman. Maka dibuatlah toliet umum, kamar-kamar ATM, kaca-kaca yang banyak berjejer. Karena secara psikologis manusia cenderung suka ngaca. Narsis! Belum lagi tambahan senyuman para petugas yang sering disebut SPG (yang dimaksud bukan Sekolah Pendidikan Guru, tapi Senyum Patriot Gratis). Meski lelah, mereka wajib senyum. Malah saya pernah dengar, mereka punya semboyan, “Senyum atau Mati!” Gila, kan? Semua diupayakan yang ujung-ujungnya adalah pengunjung betah dan nyaman berlama-lama di pasar, sehingga terhipnotis untuk memborong ini dan itu (padahal sebelumnya tidak butuh, dan memang tidak butuh-butuh amat).

Bagi sebagian SPG yang telah dipecat karena lupa senyum, pasar semacam ini sudah tak lagi mengenal konsep fikih yang disebut ‘an taroodin, yang kurang lebih artinya saling ridho. Dalam berbagai khasanah fikih, seringkali disebut bahwa saling rela menjadi salah satu syarat jual beli setelah penjual, pembeli, barang yang dijual/dibeli, ijab-qabul, dan terakhir adalah saling ridho tadi. Bagaimana bisa ada transaksi dan ijab qabul, sementara semua barang sudah berlabel. Orang yang menawar kaos, sepatu, entrok, atau apa saja yang sudah ada bandrol harganya adalah Katro! [Ed. Katro merupakan istilah yang diadopsi dari negeri Sakura, Jepang]. Si pembeli semakin nahas lagi bila menemui sebuah label yang bertuliskan, “BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK DAPAT DIKEMBALIKAN.” Modar! Padahal setelah dibuka di rumah, barang itu cacat dan tentu saja mengecewakan si pembeli.

Inilah yang oleh Imam Syafi’i bahwa jual beli yang halal adalah bagaimana caranya sebuah transaksi jual beli selalu menjaga rasa saling ridho. Tentu saja rasa ridho ini harus resiprokal (musyarakah), tak bisa bertepuk sebelah tangan. Kalau yang merasa lega hanya si penjual, ya mboten angsal. Dan inilah sesungguhnya bibit-bibit rizki yang kurang berkah. Balik lagi ke soal perbandingan dengan masjid, kalau pasar demikian yang dikehendaki, ya karuan saja pasar selalu lebih buruk dari masjid. Ini seperti ketika Umar bin Khattab membandingkan antara shalat dan tidur. Ya karuan saja shalat lebih utama dari tidur, tapi bagi siapa? Kalau menurut aku ya enak tidur ah. Buktinya, kala subuh ke masjid, yang ikut jama’ah hanya sepotong Imam dan sebungkus dua bungkus ma’mum. Yang lain? Tiduuur…

Ketiga, pasar agaknya memang sengaja ditakdirkan sebagai simbol dari alam duniawi, atau hubb dunya (cinta duniawi), sedangkan masjid merupakan simbol dari akhirat atau kekekalan. Kira-kira dalilnya adalah Walal akhirotu khoiru laka minal uwla, Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan); (Lihat Ad-Dhuha: 4). Di pasar, orang akan selalu dihantui oleh pikiran untuk punya keinginan ini dan itu. “Aku ingin membeli|Kamu ingin membeli|Kita ingin membeli|Semua orang ingin membeli|Apa yang dibeli|Mimpi yang terbeli|Sebab harga barang tinggi tiada pilihan selain mencuri|Sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli|Sampai nanti, sampai habis terjual harga diri|Sampai kapan harga-harga itu melambung tinggi|Sampai nanti, sampai kita tak bisa bermimpi|…Segala produksi ada di sini|Menggoda kita untuk memiliki|Hari-hari kita diisi hasutan|Hingga kita tak tahu diri sendiri…demikian beberapa petik lirik lagu Mas Iwan yang berjudul Mimpi yang Terbeli.

Sampai di sini saya masih bingung mau melanjutkan kemana? Ke pasar lagi atau ke Masjid? Oh, tentu saja aku harus memilih tempat yang terbaik, yakni masjid. Ketika sampai di masjid, beberapa hal terjadi. Inilah mungkin alasan yang bisa dibilang tepat. Ketika aku naik ke masjid, perasaan yang muncul adalah aku merasa sangat shalih. Aku merasa lebih baik dari siapa pun. Akulah yang terbaik. Apalagi, huh..kepada orang-orang yang di pasar itu, najis jaya!

Selain perasaan itu, beberapa perasan lain juga menyelimutiku. Saya akan merasa kesal bahkan marah kalau aku tidak ditunjuk sebagai imam shalat. Kenapa? Ya menurut aku sendiri, aku sangat fasih membaca Al-Quran. Selain hafal beberapa surat pilihan, saya juga bisa beberapa lagu para Imam shalat di Masjidil Haram atau Madinah. Bahkan gaya membaca Imam masjid yang belum dibangun pun aku tahu lagunya. Dan kalau pun aku apes menjadi ma’mum, aku sangat terganggu dengan Imam yang kurang fasih. Saya semakin kelojotan kalau syarat rukunnya tidak sesuai dengan paham dan akidah yang aku yakini.

Apalagi kalau pas hari Jum’at. Aku sangat merasa bangga bila ditunjuk menjadi khatib Jum’at di masjid itu. Mumpung aku sedang didaulat sebagai khatib Jum’at, dengan penuh ikhlas akan aku caci maki kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan jalan pikiran saya. Bila perlu aku beri label atau merek Kafir! Aku tak puas hanya di situ, aku akan mengutuk keras orang-orang yang terlalu sibuk mengurusi dunia, terutama di pasar itu. Bila perlu, aku tidak akan lagi mendoakan orang-orang pasar yang enggan membayar zakat atau sedekah padaku yang jelas-jelas didaulat menjadi Imam dan Khatib di masjid ini. Dan dengan penuh percaya diri aku akan katakan, “Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.”

Aku akan akan siap bila nanti ada jama’ah yang bertanya, mengapa. Pasti akan aku jawab, masjid adalah tempat suci, sedangkan pasar adalah tempat kotor. Orang itu pasti akan diam. Meskipun orang itu akan mengatakan, “Tapi kalau nggak salah, dulu nabi juga berjualan sampai ke Syiria lho, Ustad. Bukankah Nabi adalah seorang pedagang sukses yang berjualan dengan cara yang sangat santun.” Ah, aku tak peduli dengan berita itu. Tapi pasti aku akan terdiam, ketika…

“Ustad, ini saya bawa oleh-oleh. Ini sarung Cap Gajah Salto buat Pak Ustad…”

“Wah…bagus banget! Beli dimana? Di hypermarket itu, ya?”

“Enggak, Ustad. Ini saya beli di pasar Kliwon yang becek dan kumuh itu. semoga ustad mau memakainya nanti buat khutbah di masjid ini.”

“Oh pasti, Akhi. Ohya, lain kali aku dibelikan surban yang hijau ya? Anu, aku agak kurang khusyuk kalau dzikir di masjid tidak pakai surban. Apalagi kalau jadi imam.”

“Insya Allah, Ustad. Biar saya saja yang ke tempat buruk itu. Ustad di sini saja, biar kesucian ustad tetap terjaga.”

“Benar! Memang harus begitu. Najis rasanya saya turun ke pasar. Jangan lupa juga kurma yang kering sama kue lapis itu, ya?

“Insya Allah, Ustad. Nanti sekalian beras cap Lele Jenggot yang Ustad suka itu.”

“Ohya, bagus. Alhamdulillah…saya bisa terjaga dari tempat yang buruk itu.”

Kalau sudah ngomong begini pasti aku akan asyik terlena. Dan,

“Lho…lho…itu yang ngimamin shalat ashar siapa? Kok aku bisa kecolongan?! Kurang ajar!” Aku bersungut dan melupakan At-Taubah ayat 17.

Penulis adalah Dramawan dan Pujangga Umah Suwung

Sumber Foto: https://www.flickr.com/photos/30513688@N04/2926668408/in/photostream/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top