Malna, Mati dan Hidupnya Makna di Abad Yang Berlari

Oleh: R.H. Authonul Muther

Makna divonis mati oleh puisi-puisi Malna. Buku tipis 25 halaman berjudul Abad yang Berlari, Malna menyajikan puisi-puisinya yang gelap, bahkan tak terpahamkan sama sekali. Ketika membacanya, puisi ini semacam sengkarut huruf, sengkarut tanda Bahasa yang tak punya makna. Puisi  yang, bagi kalangan strukturalisme yang begitu memuja agar Bahasa selalu menampilkan makna yang jelas menjadi mati. Strukturalisme yang memuja oralitas Bahasa dan memuncak pada momen fonosentrisme atau bunyi Bahasa, dipatahkan Malna via Abad Yang Berlari. Momen kegelapan, pembaca akan dihadapi kepada yang-tak-terpikirkan secara radikal, puisi Malna sekedar huruf dan tanda yang kering, mati, singkatnya sebuah kuburan makna.

Tepat di titik yang-tak-terpikirkan, di titik tak ada makna yang kita tangkap, Malna menjadi penting. Bahasa bukan lagi alat, ia adalah seperangkat filosofis yang tak mungkin dihindari di dalam seluruh konstruksi atas suatu konsep. Yang-tak-terpikirkan, dapat disamakan dengan yang-tidak-ada, sejauh yang-tidak-ada (yang-akan-ada) bukanlah perihal sejarah dan utopia. Bukanlah sejarah, sejauh dimengerti sebagai sains tentang yang ada, sains tentang fakta-fakta. Utopia, sejauh dimengerti sebagai cita-cita tentang yang tidak ada sebagai suatu yang tidak akan pernah ada (meminjam modus ontologis di dalam Negasi Fayyadl).3[1] Al-Fayyadl, Muhammad. Filsafat Negasi. Aurora: Yogyakarta. 2016. Hlm 23

Yang-tak-terpikirkan selalu menjadi suatu yang, kepadanya Bahasa bersandar. Tanpa yang-tak-terpikirkan, Bahasa bukanlah Bahasa, ia adalah benda objektif yang benar-benar terlepas dari subjek, ia menjadi fakta-fakta yang diasumsikan oleh sains sebagai sesuatu yang betul-betul terlepas dari subjek. Misalnya, benda yang berada di ruang hampa yang kita tidak ketahui di luar semesta sana, tapi ia ada, hanya saja kita tidak mengenalnya, kita tidak-memikirkannya (berbeda dengan yang-tak-terpikirkan), artinya benda tersebut terlepas dari yang-tak-terpikirkan. Dengan kata lain, benda tersebut tak terbahasakan, tak bermakna apa-apa. Persis disitulah, seluruh bahasa bersandar pada yang-tak-terpikirkan. Segala sesuatu yang dibangun di atas Bahasa, selalu terkandung yang-tak-terpikirkan.

Yang-tak-terpikirkan merupakan sesuatu yang membuat yang-puitik hadir. Yang-puitik, inilah momen yang-tak-terpikirkan hadir secara radikal saat ini. Momen di mana sifat kesadaran yang selalu tertuju (intensionalitas) menjadi retak ketika berhadapan dengan puisi-puisi Malna di Abad yang Berlari. Bahwa kesadaran, sejauh diperantarai oleh Bahasa tidak melulu bersifat “intensional absolut”, suatu ketertujuan dari kesadaran yang diasumsikan selalu bersifat utuh (idealisme). Artinya, kita tidak dapat kembali pada benda-benda itu sendiri. Singkatnya, kesadaran hanya tertuju pada tanda Bahasa yang kosong, tanpa makna apa-apa di dalamnya. Benda-benada (bc: puisi-puisi Malna) tersebut, tak dapat berkata apa-apa, kita tak bisa kembali pada benda-benda itu sendiri. Kesadaran yang gagal menangkap secara utuh benda pada dirinya sendiri. Subjek dengan kesadarannya dapat tertuju pada Bahasa, tapi ia tak menangkap horizon yang utuh, keterputusan total dengan makna dan dengan sejarah di mana Bahasa itu terbentuk. Karena itulah, puisi Malna menjadi tak terpahamkan (sama sekali?) karena kesadaran terputus total dengan makna dan sejarah di mana puisi tersebut dibentuk oleh Malna. Ketika berhadapan dengan teks tersebut, Malna menjadi mati secara oral, berarti, sama dengan matinya makna yang diinginkan Malna. Karena itulah kesadaran yang bersifat intensional selalu retak disebabkan oleh yang-tak-terpikirkan, namun, karena yang-tak-terpikirkan itu sendiri lah intensionalitas menjadi mungkin di dalam kesadaran.

Dengan matinya makna di dalam puisi Malna, ia menjadi berbalik arah pada diri kita sendiri. Mau tak mau, puisi-puisi Malna ketika kita baca, berbalik pada sejarah kita, makna kita, dan Bahasa kita sendiri.  Puisi tersebut, menjadi suara kita sendiri, suara yang datang dari, apa yang diulang-ulang di dalam puisi Malna di Abad Yang Berlari, yakni Dada. Bahasa memantul dari Dada, Dada yang saya menafsirkannya sebagai yang-tak-terpikirkan. Yang-tak-terpikirkan selalu terbenam di-sana, sesuatu yang bukan hanya terbenam di dalam Bahasa, ia terbenam di seluruh konteks yang selalu berhubungan dengan subjek. Yang-tak-terpikirkan merupakan kondisi ontologis subjek yang memungkinkan suatu peristiwa menampakkan dirinya. Inilah mengapa, ketika momen penampakan terjadi, proses penampakan tersebut sudah selalu terkandung yang-tak-terpikirkan. Misalnya saja, ketika Anda melihat bulan, Anda melihat bulan menjadi mungkin, jika Anda memikirkan sesuatu yang-tak-terpikirkan dari bulan. Buku misalnya menjadi yang-tak-terpikirkan, begitu pula sebaliknya, bulan ini tak bermakna ketika aku melihat buku. Contoh lain, jika Anda merasakan panas, hal tersebut mungkin, jika handphone tak-terpikirkan di dalam Anda merasakan panas.

Di medan itulah puisi Malna berkelindan tanpa sudah. Malna melalui puisinya mengantar kita kepada hal tersebut: bulan yang tak bermakna ketika kita melihat buku, bulan menjadi yang-tak-terpikirkan; panas menjadi yang tak bermakna ketika kita merasakan dingin, panas menjadi yang-tak-terpikirkan. Sama dengan, kita harus memikirkan yang tak bermakna dari apa yang kita tangkap dari puisi Malna, ada sesuatu yang-tak-terpikirkan dari puisi Malna, itulah Dada, gema dari dan kembali pada diri kita sendiri. Kita diminta memanggil diri kita sendiri dari Bahasa yang tak bermakna, puisi Malna yang tak bermakna, melalui yang-tak-terpikirkan menjadi bermakna dari dan untuk diri kita sendiri. Kita merupakan yang-tak-terpikirkan, serentak pula bukan yang-tak-terpikirkan itu sendiri.

Seketika itu, bagaimana jika kesadaran kita memikirkan kembali buku ketika melihat bulan? Seketika itu, bagaimana jika kesadaran kita memikirkan yang tak bermakna ketika membaca puisi Malna? Yang terjadi adalah lamunan, sebuah hantu yang datang dari masa lalu. Ketika lamunan terjadi, subjek terlepas dari peristiwa, ia berada di sebuah ruang yang, darinya ia tak dapat mengkonstruk ingatan secara utuh. Ketika kita terputus secara total dengan makna yang dinginkan Malna―dan ia tidak pernah menunjukkan bahasa yang menampilkan makna secara telanjang dan utuh dari puisi-puisi di dalam buku ini―kita terjerat dalam Bahasa kita sendiri, dengan ‘sejarah’ yang pernah hadir di sana, kehadiran yang tak lagi terjadi, ‘sejarah’ kita sendiri yan telah menjadi gambar dan selalu menghantui kita saat ini. Ketika memikirkan yang tak bermakna dari puisi-puisi Malna, kita menjadi memikirkan hantu diri kita sendiri yang mengkonstruk seluruh pemaknaan terhadap puisi-puisi Malna. Dengan kata lain, membaca puisi Malna yang tak bermakna, sama dengan membaca yang-tak-terpikirkan, yakni diri kita sendiri. Kita menjadi yang-tak-terpikirkan, kita mulai meraba hantu dan kehadiran retak diri kita sendiri. Artinya, dengan yang tak bermakna, pada dasarnya kita sedang membaca yang-tak-terpikirkan, yakni diri kita sendiri.

Dengan yang tak bermakna itulah kita dapat memikirkan yang-tak-terpikirkan. Hal tersebut yang membuat pemikiran menjadi mungkin, bahkan seluruh kerangka pengetahuan atas apapun tak dapat bekerja tanpa yang-tak-terpikirkan. Ketika kita mencoba mendekonstruksi suatu teks a la Derrida misalnya, kita tak bisa menafsiri dan membongkar sesuatu tanpa yang-tak-terpikirkan, karena pada dasarnya, kita sendirilah yang-tak-terpikirkan. Konsekuensi dari hal tersebut adalah, pertama bahwa segala sesuatu selalu terkandung yang tak bermakna, maka dengan yang tak bermakna yang-tak-terpikirkan menjadi mungkin, diri kita sebagai subjek menjadi mungkin (tanpa terjebak di dalam idealisme). Kedua, subjek dan objek selalu satu tak terpisah, apa yang berikutnya menjadi ‘yang-puitik’, suatu penghapusan dualisme subjek-objek. Yang-puitik, dapat mungkin sejauh yang-tak-terpikirkan menjadi bermakna dengan sejarah kehadiran kita sendiri (ingat bahwa kita sendirilah yang-tak-terpikirkan itu sendiri). Sejarah kehadiran di sini tak dapat ditafsiri sesuatu yang murni identik dengan kesaatinian. Bahwa kita selalu saja terbentuk melalui peristiwa-peristiwa di masa lampau yang membentuk kekinian, dan peristiwa-peristiwa lampau yang retak dan mengalami penyebaran tak tentu tersebut selalu saja yang membuat yang-tak-terpikirkan dapat metransformasi yang tak bermakna menjadi yang bermakna. Ketika sesuatu telah menjadi bermakna, maka, yang-tak-terpikirkan menjadi wilayah yang-terpikirkan. Inilah yang-puitik, suatu ketertegunan mendalam, keheranan radikal, dan kekaguman atas suatu peristiwa (dan peristiwa selalu melibatkan objek material dengan subjek yang berkesadaran atas sesuatu yang ia rasa, yang ia lihat dan apa yang ia dengar), momen runtuhnya subjek-objek secara radikal, tepat ketika runtuhnya subjek-objek tersebutlah konsep menjadi mungkin, makna menjadi mungkin. Singkatnya, seluruh pengetahuan kita menjadi mungkin via momen yang-puitik, misal saja filsafat, sains, agama, ilmu sosial, dsb menjadi mungkin karena momen ini. Hal tersebut dapat diilustrasikan ketika Thales merenung di hampiran samudera dan berpikir apa yang mendasari segala sesuatau ini? Thales mulai mengalami ketertegunan mendalam, keheranan radikal, dan kekaguman atas suatu peristiwa, dan ia menjawab Air, suatu keputusan yang didasari dari yang-puitik. Begitu pula dengan penemuan konsep lain dari idea Plato(n) hingga subaltern Spivak.

Ketika Anda sebagai yang-tak-terpikirkan berpikir tentang diri Anda sendiri, dan bertranformasi  menjadi yang-terpikirkan, Anda menyadari kondisi faktis, kondisi eksistensial, kondisi religious, kondisi bahwa ada objek di depan Anda, dan segala kondisi sejauh apa yang terpikirkan. Seketika sesuatu terpikirkan, tepat dititik itulah yang-tak-terpikirkan datang kembali,  Anda menjadi hilang,  Anda menjadi yang-tak-terpikirkan kembali, dualisme berdiri kembali, dan mau tak mau momen yang-puitik akan hadir terus menerus tak hingga. Itulah mengapa, suatu pengetahuan tak dapat berhenti, karena di dalam yang-puitik selalu terkandung yang-tak-terpikirkan. Yang-puitik berdiri di luar Bahasa, ia adalah apa yang membuat Bahasa menjadi mungkin.

Situasi pasca-derridean (pasca-postmodern?), kita tidak lagi berfokus pada Bahasa, tapi berfokus pada apa yang sejauh Bahasa menjadi mungkin. Derrida gagal dalam konsep differance, ia tak dapat menjawab bagaimana Bahasa mungkin jika melakukan pengandaian bahwa differance merupakan arche-text (teks purba), karena differance selalu mengandaikan yang tak bermakna, differance adalah sesuatu keabadian tanpa makna, ia ada di-sana, di balik segala sesuatu yang berdasarkan perbedaan radikal relasi tanda, di sinilah sepintas kita dapat menyamakan yang tak bermakna sebagai differance. Dengan itulah differance tak dapat didefinisikan, dikonseptualisasikan. Padahal kita dapat mengandaikan differance, memaknainya, bahwa differance mempunyai makna, karena yang-tak-terpikirkan selalu bertransformasi menajdi yang-terpikirkan. Kita dapat mengkonseptualisasikannya menjadi “dia (differance) adalah arche-teks!”. Differance itu tak mungkin murni tanpa pengandaian dan konseptualisasi, utopia sejati. Berlawanan secara penuh dengan yang-tak-terpikirkan yang terus menerus bertranformasi menjadi yang-terpikirkan.  Derrida lupa ia terperangkap dengan hantunya sendiri, bahwa konsep differance memungkinkan jika dia merasakan yang-puitik, ketertegunan mendalam, keheranan radikal, dan kekaguman atas suatu peristiwa yang memungkinkan segala sesuatu menjadi Bahasa (pun sekedar tanda tanpa makna seperti differance). Di sinilah, yang tak bermakna tak dapat disamakan dengan differance, yang tak bermakna adalah suatu yang akan menjadi bermakna, berbeda dengan differance yang selamanya tak terdapat makna di belakangnya, yang akan selalu tak mungkin di definisikan. Dengan kata lain, dapatkah kita meninggalkan yang-puitik yang tanpanya kita tak dapat lagi berbahasa, bahkan differance Derridean pun menjadi tidak akan pernah ada? Singkatnya, yang-puitik adalah momen pra-konseptual, di konteks Derrida, pra-differance.

Itulah medan puisi Malna, kita dengan membaca Malna terus menerus harus mentransformasi yang-tak-terpikirkan yang selalu bersifat tak bermakna, menjadi yang-terpikirkan yang selalu bersifat bermakna dan itu mungkin jika terdapat ‘hantu’ peristiwa di masa lalu yang bukan saja merupakan jejak, tetapi ‘jejak yang tak lagi diingat’, terjadilah momen yang-puitik ketika subjek-objek runtuh,  dan tepat di titik itu yang-tak-terpikirkan hadir kembali, menghantui kembali. Mungkin itulah yang terjadi di dalam Bahasa, momen yang-tak-terpikirkan, itulah yang membuat Bahasa terus menerus luput dari keutuhan makna, yang bukan hanya saja didasarkan pada differance, melainkan juga terdapat yang-puitik, karena di dalam segala sesuatu selalu saja terdapat yang tak bermakna. Dengan kata lain, membaca Malna (yang sejauh ini tak bermakna) menjadi pembacaan atas hantu diri kita sendiri, dan mentransformasikannya menjadi yang bermakna. Kita telah membaca hantu kita sendiri, kita membaca hal tersebut menjadi Malna-Aku, karena puisi Malna bermakna sejauh berhubungan dengan hantu kita sendiri, “inilah Malna versi hantuku”. “puisi malna” dan “aku” runtuh, aku menjadi yang-puitik dan tepat disitu pulalah kita menjadi yang-tak-terpikirkan, kembali! Yang-puitik, merupakan sesuatu yang terjadi di setiap kita melakukan perjumpaan dengan Bahasa, pun dengan peristiwa.

Filsafat (=Malna) ada untuk ditolak. Hanya dalam kemungkinannya untuk ditolak, filsafat (=Malna) relevan untuk terus ada. Suatu kutipan di dalam buku FIlsafat Negasi ketika kita ingin menerjemahkan puisi Malna di dalam Abad yang Berlari. Malna menjadi ada, menjadi hadir, ketika ia menjadi yang tak bermakna. Karena yang tak bermakna lah yang-tak-terpikirkan menjadi mungkin, intensionalitas dalam kesadaran menjadi mungkin, objek menjadi mungkin. Dengan kata lain Bahasa menjadi mungkin, dan dengannya seluruh konstruksi konsep pun menjadi mungkin. Suatu kondisi ontologis mendalam, apa yang dikatakan Malna di dalam puisinya sebagai, “dada yang bekerja di dalam waktu”. Kita tidak dapat mengafirmasi puisi Malna untuk menjadikannya sebagai yang bermakna, afirmasi tidak memungkinkan, melainkan menegasinya, menegasi puisi yang berhadapan dengan kesadaran, merubahnya menjadi yang bermakna. Misal saja salah satu kalimat di dalam puisinya, “…kematian yang bekerja di jalan-jalan, palu. Kematian yang bekerja di jalan-jalan”. Kalimat tersebut bukanlah makna itu sendiri, ‘saya’ selalu dipacu untuk mengejar sesuatu yang tak mungkin dibahasakan oleh Malna. Ada “sesuatu” di sana, di balik kalimat dan puisi-puisi Malna.

Waktu sebagai ruang kerja bagi dada, selalu mensyaratkan suatu ‘sejarah’, sejarah yang tak berurusan tentang fakta-fakta. Puisi Malna tak dapat disamakan dengan fakta-fakta, ia adalah ‘kehadiran’ yang tak dapat dikembalikan dalam bentuk makna yang utuh, tak mungkin kita menjadi kosmostheoros; berjarak sejauh-jauhnya untuk menangkap objektivitas (dalam hal puisi Malna yaitu makna) secara murni. Selalu ada yang-tak-terpikirkan, selalu ada ‘saya’ dalam puisi Malna.  Bukan pula puisi Malna menjadi utopia bagi makna, bukan berarti tak ada makna sama sekali. Makna akan ada, sejauh yang-tak-terpikirkan menjadi yang-terpikirkan via yang-puitik terjewantah melalui lamunan, sebagai hantu diri kita sendiri, ketertegunan mendalam, keheranan radikal, dan kekaguman atas suatu peristiwa.

Abad Yang Berlari

palu. waktu tak mau berhenti, palu. waktu tak mau berhenti. seribu jam menunjuk waktu yang bedaberbeda. semua berjalan sendiri-sendiri, palu.

orang-orang nonton televisi, palu. nonton kematian yang dibuka di jalan-jalan, telah bernyanyi bangku-bangku sekolah, telah bernyanyi di pasar-pasar, anak-anak kematian yang mau merubah sorga. manusia sunyi yang disimpan waktu.

palu. peta lariberlarian dari kota datang dari kota pergi, mengejar waktu, palu, dari tanah kerja dari laut kerja dari mesin kerja. kematian yang bekerja di jalan-jalan, palu. kematian yang bekerja di jalan-jalan.

dada yang bekerja di dalam waktu

dunia berlari. dunia berlari

seribu manusia dipacu tak habis mengejar

1984

Apa yang dapat ditafsiri? Jika bukan menafsiri dari dan untuk diri kita sendiri? Karena ketakmungkinannya menghadirkan makna dan sejarah di mana Bahasa itu terbentuk, Malna menjadi yang tak bermakna, menjadi kembali pada diri kita sendiri sebagai yang-tak-terpikirkan. Kita bergulat dengan diri kita sendiri melalui puisi Malna, dan memutuskan sekaligus menjadikannya bermakna. Tafsir dan maknaku atas puisi Malna? Biarkan aku tak mengatakannya, karena puisi tak layak untuk ditafsiri, apalagi dikatakan, melainkan dijadikan sebagai yang-puitik.

Penulis adalah Pegiat Filsafat.

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top