Harimau dari Madiun, Sebuah Sindiran Politik dalam Bingkai Komik

Oleh: Aji Prasetyo

Suatu kali saya ngobrol santai seputar isu politik-sosial dengan kawan Malaysia. Dia yang juga sesama aktivis HAM mengeluhkan tentang Malaysia yang sampai sekarang masih dipimpin dengan gaya diktator. Kartunis yang berani mengkritik praktik korupsi sang perdana menteri pun diseret ke pengadilan.

“Saat Indonesia dipimpin oleh Soeharto, di masa yang sama Malaysia dipimpin oleh Mahatir. Keduanya sama-sama diktator. Tapi kenapa Soeharto digulingkan oleh rakyatnya sedangkan Mahatir tidak?” saya pancing kawan saya dengan sebuah pertanyaan. “Karena rakyat Indonesia lebih berani melawan!” Jawab kawan saya ini. Saya tersenyum sambil menggelengkan kepala tanda tidak sepakat. Lantas saya sodorkan jawaban versi saya sendiri.

 “Karena Soeharto selain diktator, dia juga membuat rakyatnya lapar. Percayalah, rakyat yang kelaparan itu sangat berbahaya.”

Point itu pula yang saya angkat menjadi narasi di sebuah adegan dalam “Harimau dari Madiun” (HdM). Perang Diponegoro (1825-1830) meletus sebagai respon atas penderitaan rakyat akibat tatanan politik yang sungguh tidak sehat. Perang itu dijuluki oleh orang Belanda sebagai Java Oorlog atau Perang Jawa. Jika mengingat berabad-abad sebelumnya banyak sekali perang yang terjadi di Jawa, kenapa hanya perang Diponegoro lah yang dijuluki sebagai Perang Jawa? Konon karena dalam konflik ini seorang anak raja mengobarkan perang bukan untuk urusan berebut tahta (hampir semua perang di Jawa adalah karena suksesi), melainkan usaha memisahkan diri dari keruwetan politik dalam dan luar negeri keraton yang dirasa mustahil untuk diperbaiki. Meskipun begitu, mustahil pula menjelaskan detail permasalahan yang terjadi kala itu ke dalam komik yang terbilang pendek. Cara yang lebih mungkin adalah membuat penasaran pembaca, dan biarkan mereka yang berburu bacaan sejarah untuk memahami masalahnya secara gamblang.

Kelaparan adalah keputusan politik. Bagaimana menjelaskan logika itu dalam narasi komik? Saat sebuah negara mengalami krisis kelaparan, golongan yang harus mati kelaparan terlebih dahulu adalah para petani. Padahal merekalah yang menanam semua yang kita makan. Jelas sudah bahwa kelaparan dan kemiskinan adalah keputusan politik. Sebuah fenomena yang menciptakan berkobarnya Perang Jawa – yang lantas siapa berani jamin bahwa di masa sekarang hal itu tidak terjadi lagi? Dengan komik saya ingin sampaikan ke pembaca, bahwa kita belum belajar sejarah dengan baik. Pelajaran sejarah di sekolah hanya mengajak kita menghafal nama tokoh dan tanggal kejadian saja, tidak lebih. 

Mengapa ‘Madiun’ Menjadi Bagian dari Judul?

Karena jika hanya menjadi bagian dari teks dialog saja, orang bisa abai bahkan lupa. Tapi kalau menjadi judul, lain perkara.

Selama ini jika orang mendengar kata Madiun maka dalam pikiran mereka yang muncul adalah komunis yang kejam, ateis, gemar membunuh ulama, dsb. Itu semua terbentuk karena dogma sejarah ala orde baru. Dan selama hal itu belum diluruskan, maka identitas itu kurang menguntungkan bagi masyarakat Madiun. Sedangkan banyak sosok yang bisa diidentikkan dengan Madiun yang mampu membuat masyarakat Madiun merasa bangga namun tidak pernah diekspos. Salah satunya adalah seorang putra daerah Madiun, Ngabdul Mustopo alias Sentot.

Basah Sentot Prawirodirjo adalah salah satu tokoh dalam Perang Jawa yang wajib kita hafal namanya. Namun kita tidak banyak tahu tentang sosoknya. Tokoh ini menarik karena sebagai figur yang sangat ditakuti Belanda, kelak dijelaskan dalam pelajaran sejarah dia menyerah dan mau bekerjasama dengan Belanda. Seperti apakah sosok ini? Kenapa dia mau menyerah kepada Belanda?

Prof. Peter Carey adalah panutan yang paling ideal untuk mempelajari Perang Diponegoro. Dia sejarawan Inggris yang menghabiskan 40 tahun lebih umurnya untuk meneliti sejarah perang besar itu. Dari hasil penelitian beliau ini saya berusaha meraba tentang seperti apa kepribadian seorang Sentot. Dia sosok pemuda belia yang menjadi pemimpin divisi kavaleri saat usianya masih 17 tahun. Dia tipikal pemuda flamboyan. Tampan, hidup hedon seperti layaknya para pangeran kebanyakan, wataknya keras dan cenderung congkak seperti mendiang ayahnya. Tergambar jelas dalam kalimat pembuka dalam balasan suratnya kepada Kyai Mojo yang membujuknya agar ikut menyerah kepada Belanda. “Sampun Paman kathahen rembag kula aturi  tumunten,..” yang kalau diterjemahkan secara bebas bisa berarti “Sudahlah Paman jangan banyak cakap lagi..”  atau pada kalimatnya yang ini, “..punika Paman menggah Kyai Guru ing Maja sampun mboten kangge, lajeng kabucal dateng tanah ing Pajang,..” (bahwa Kyai Maja sudah ‘tidak terpakai lagi’ sehingga dibuang dari Pajang – terkait konflik intern antara Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo di penghujung 1828, pen.). Tentu sebuah kalimat yang terlampau kasar untuk diucapkan kepada seorang ulama yang usianya di atas dia jauh.

Mendiang ayah Sentot, Ronggo Prawirodirjo III adalah Bupati Wedana (setingkat gubernur) wilayah Mancanegara Timur yang berpusat di Madiun, menantu Sultan, juga Panglima tertinggi angkatan bersenjata Kerajaan Yogyakarta – sebelum akhirnya dia membangkang perintah raja dan menantang perang terhadap kekuatan Daendels. Sentot sendiri akhirnya terlahir dengan bakat sebagai mesin perang yang berbahaya. Brilian, tak punya rasa takut, manuvernya mematikan dan seringkali tak dapat diduga musuhnya. Dan selama empat tahun perang berkecamuk, Panglima belia ini gentayangan bak malaikat kematian di mata para serdadu Belanda. Remaja itu turut menjadi penentu jalannya perang. Seperti pendapat Jenderal De Kock sendiri, Sentot harus segera ditundukkan dengan cara apapun karena dia adalah salah satu Center of Gravity peperangan (Saleh Djamhari, halaman 193).

Dan akhirnya di tahun kelima Sentot memutuskan berhenti bertempur. Apa motivasinya? Benarkah iming-iming imbalan materi dari Belanda berhasil membuatnya tergiur? Iming-iming materi adalah cara lama Belanda sejak tahun pertama perang dan berhasil membuat sejumlah panglima pasukan Diponegoro menyerah dengan mudah. Tapi Sentot tidak.

Kumpulan fakta sejarah yang cukup detail dari Prof. Peter Carey maupun Dr. Saleh Djamhari menunjukkan bahwa tahun 1829 adalah masa-masa terburuk dari perang. Kedua pihak sudah sama-sama lelah dan habis-habisan. Moral tempur prajurit merosot, logistik kian sulit didapat, banyak wilayah produktif yang hancur karena perang. Dalam kondisi seperti ini, jumlah prajurit bukan lagi jawaban atas kemampuan tempur. Seperti kata Alexander The Great, jika seribu prajurit terbaik kelaparan maka seribu prajurit akan mati. Demi untuk menghindari hal itu para panglima pasukan akan melakukan apapun, termasuk bila perlu merampok rakyat sendiri. Masa separah inilah yang saya yakini sangat menentukan keputusan Sentot tentang nasib divisi yang dipimpinnya.

Seting perang dalam komik maupun film seringkali menyodorkan hal-hal heroik. Adegan laga penuh action bertebaran di mana-mana. Cukup jarang ada cerita berseting perang yang menyodorkan realita ini, bahwa prajurit, meskipun tidak setiap hari bertempur, namun setiap hari harus makan. Semakin besar sebuah pasukan, maka biaya logistiknya pun makin besar pula-bahkan jauh melebihi anggaran untuk persenjataan.  

Mempermainkan Ranah Fiksi dan Historis dalam Komik

Di sinilah kerja seniman. Sejarawan pun haram untuk bermain di ranah ini. Meskipun seniman bisa bebas bermain, namun jika mengangkat seting sejarah, riset serius diharapkan tetap dilakukan sebagai pertanggungjawabannya kepada publik. Seperti yang berusaha saya lakukan dalam menggarap HdM ini. Dalam beberapa adegan terlihat para serdadu kompeni semuanya bertelanjang kaki, berwajah pribumi, dan ada yang terlihat masih mengenakan blangkon. Memang dalam fakta sejarah begitulah adanya, bahwa komposisi serdadu kompeni kebanyakan adalah orang pribumi. Ditambah lagi sejumlah unit hulptroepen (pasukan bantuan, pasukan bayaran) yang dibeli langsung dari para penguasa negeri seberang semisal Sumenep, Sampang, Bali Klungkung, Bugis, Ternate, Arafuru, dll. Sedangkan kalau saya gambarkan Sentot justru mengenakan sepatu bot, karena saya berhasil dapatkan file lukisan ilustrasi kuno karya pelukis jawa yang menggambarkan sosok Sentot dan Diponegoro. Di sana keduanya digambarkan sama-sama mengenakan sepatu bot. Lukisan kuno itu pun saya tampilkan di HdM pada bagian akhir catatan kaki.

Sejumlah tokoh fiksi juga saya sertakan dalam cerita HdM. Salah satunya cukup menarik perhatian seorang kurator komik asal Yogya, Mohammad Hadid. Tokoh rekaan yang menarik perhatian Hadid ini bernama Kliwon. Seorang anggota gerilyawan yang handal dalam memanah. Menurut Hadid, tokoh Kliwon justru memiliki karakter yang lebih kuat daripada Sentot yang merupakan tokoh utama. Jika boleh jujur, saya merasa ‘terpergok’ oleh Sang Kurator ini. Karena memang dalam proses mendesain  karakter, tokoh Kliwon lebih dahulu saya poles secara mendalam. Dan tokoh ini saya beri cukup banyak titipan pesan. Dan dengan jelinya seorang Hadid mampu memergokinya.

Lewat tokoh kliwon, saya ingin menyiratkan kepada para pembaca bahwa leluhur kita meskipun mampu jadi petarung ganas dalam peperangan, namun fitrah dasar mereka adalah petani. Bertani adalah panggilan jiwa, jalan hidup dan wujud ibadah. Nama-nama kuno masyarakat kita semisal Parijan, Pariyem, Wiji, Jinem, dll adalah salah satu bukti kongkretnya, bahwa jiwa nenek moyang kita adalah petani. Namun fakta sejarah pun membuktikan bahwa kelas petani inilah yang selalu menjadi korban pertama saat negara mengalami krisis. Kasus yang selalu terulang hingga kini membuat budaya agraris kita luntur. Profesi petani tidak lagi memiliki kebanggaan. Anak petani sekarang lebih memilih bercita-cita jadi tentara atau polisi.   

Kemelesetan Terparah Teks Sejarah

Perang Diponegoro dalam teks pelajaran sejarah selalu disebutkan sebagai misi melawan kolonialisme Belanda. Padahal sesungguhnya tidak sepenuhnya demikian. Perang itu adalah usaha memisahkan diri dari sebuah negara yang dianggap telah bobrok, lantas mengajak sejumlah penguasa daerah untuk membentuk kedaulatan sendiri, menciptakan negara baru dengan tatanan baru. Istilah kerennya saat ini; gerakan separatis. Sebuah gagasan yang sudah direncanakan diam-diam selama belasan tahun. Insiden Tegalrejo hanya membuat perang meletus lebih cepat dari yang direncanakan. Begitu memaklumatkan niatnya itu, praktis Diponegoro berhadapan dengan tiga kekuatan sekaligus yang merasa dirugikan oleh ulahnya, yaitu pasukan Keraton Yogyakarta, Legiun Mangkunegaran, dan pasukan Kolonial Belanda.

Dari situ saya mengajak pembaca untuk merenungi kembali peristiwa itu sebagai pembanding dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Indonesia pernah beberapa kali mengalami gangguan separatisme. Mulai dari Aceh, Timor, Maluku, hingga Papua Barat. Berita versi mainstream menyebut mereka adalah gerombolan yang gemar mengganggu keamanan dan kedaulatan negara. Bahkan negara pun menjuluki mereka dengan pembingkaian itu; GPK (Gerombolan Pengacau Keamanan).

Dengan komik, saya mengajak semua untuk merenungi kembali. Gagasan separatisme tidak mungkin lahir begitu saja tanpa sebab. Bukankah sangat mungkin gagasan itu lahir saat sebuah masyarakat terlalu lama dianiaya oleh penguasanya sendiri? Dan tanpa terlalu susah, kita bisa mendapati data-data yang mengungkap tentang hal itu beredar luas di dunia maya. Bagaimana rakyat Aceh didzalimi selama berlakunya DOM, bagaimana nyawa rakyat Papua terlampau murah di ujung bedil tentara RI atas nama pengamanan terhadap Freeport. Di masa lalu beberapa kali leluhur kita jadi korban dari kepentingan politik elit. Di masa kini ternyata hal itu masih juga terjadi.

Maka dengan komik HdM saya ingin mengangkat kembali sebuah ungkapan; Segeralah belajar dari sejarah, atau selalu mengulangnya kembali.

Penulis adalah Seniman, Komikus dan Kritikus Sosial.

Sumber Foto: Dokumen Pribadi.

redaksipetjut

One thought on “Harimau dari Madiun, Sebuah Sindiran Politik dalam Bingkai Komik

Tinggalkan Balasan

Back to top