Emas di Langit Papua

Oleh: V. Kirjito

Sekitar pukul tujuh pagi waktu Indonesia timur. Garuda mendarat di bendara Nabire.  Aspal bandara tampak basah. Di sana sini ada genangan air. Untuk pertama kalinya, saya menapakkan kaki di daratan Papua. Hati berdebar, mencari Romo Yan Dou Pr yang menjemput. Saya dan dr. Frederick Kosasih, sahabat saya dari Denpasar, malah membantu angkat bagasi saya.

“Romo Kirjito, hujan turun sekitar pukul lima tadi. Mengucapkan selamat datang atas kepada Romo pecinta Hujan,” demikian Romo Rektor Seminari Tahun Rohani St. Paulus  menyambut kami dengan hangat, ditemani Sr. Dionisia AK.

“Sudah sepuluh hari ini hujan tidak turun di Nabire. Hawanya panas,” kata suster Tarekat Abdi Kristus yang sudah empat tahun bertugas di Nabire. Suster terbukti lolos dari virus nyamuk malaria Papua, meski sudah 4 tahun di sana. “Kalau badan sehat, darah alkali, virus malaria tidak tembus,” kata Dr. Frederick Dokter muda ganteng yang tekun eksperimen dan mencari dari literatur riset-riset air luar negeri itu. Belakangan mendalami “Water, Cel an Life Dr. Gerald Polacak, dari  Amerika dan eksperimen air “EZ” (Exclusive  Zone) alkali dan sinar infrared.

Probasi Labora Hujan TOR Nabire

Saya sudah membaca tentang Romo Kirjito. Penggiat budaya air hujan. Maka saya undang Romo, mengisi program “bulan probasi” para fratyer. Biasanya kerja di kebun, masak sendiri, memperbaiki kerusakan, memelihara ternak babi dll. Kali ini saya minta Romo mengisi sepenuhnya. Seperti usul romo dalam percakapan WhatsApp, kami beri judul “Labora Hujan TOR (Tahun Orientasi Rohani) Seminari St. Paulus Regio Papua.  

Generasi pasca papua

“Dari dua belas frater saya, hampir tiap bulan ada saja yang sakit. Saya bonceng sepeda motor  ke dokter Pingki di kota Nabire, atau ke rumah sakit, sekitar 15 km dari seminari, ungkap Pater Rektor. Saya yakin, lanjutnya, Tuhan mengutus dua malaekat. Romo Kirjito dan Dr. Frederick, bagi kami di seminari, tempat pendidikan calon-calon imam regio Papua ini, “ demikian refleksi rektor muda  cerdas itu.  Toh sudah  mengeluh lingkar perutnya yang membesar dan mudah lelah. Keyakinan Pater Yan itu, terdukung lagi oleh tindakan  Yesus mengubah air menjadi anggur paling baik di Kana (Yoh 2:1-11).

“Dalam perayaan ekaristi, anggur itu diberkati oleh kuasa Tuhan lewat Imam, menjadi darah Yesus. Dua orang khusus utusan Tuhan ini, sudah berpengalaman meneliti air hujan menjadi  air minum sehat. Bahkan menyehatkan mBah Jelam dari Klaten dari sakit kencing batu menahun sejak kecil. Berkat air hujan setrum, sembuh total,” ungkap Pater Yan mengutip Kompas 7 Juni 2015 yang saya bukukan dengan judul “Air Hujan Rasa Urban.” Buku itu sudah saya berikan pada bulan Mei yang lalu, ketika Pater Yan ke Muntilan.  Kami para frater mau belajar penuh satu bulan ini. Meneliti dan memproses air hujan.

Survey Cairan Tubuh

Materi pokok pelatihan adalah air dan darah. “Jika darah sehat, tubuhnya juga sehat,” demikian Dr. Frederick memberi kuliah. Darah yang sehat bersifat encer, lancar beredar ke seluruh miliaran sel dan syaraf tubuh sampai ke otak. Mengandung oksigen dan nutrisi yang optimal. Membutuhkan sinar infrared guna melancarkan peredaran darah, katanya mengutip riset DR. Gerald Polack, “ Water, Cel dan Life.” Selain minum air hujan diionisasi sendiri, juga eksperimen berjemur pagi hari setelah sarapan.

Penelitian eksperimental saya empat tahun terkahir ini, menemukan asumsi bahwa bahan baku darah yang utama dan paling banyak adalah air. Pertanyaannya, darah yang bagus itu  membutuhkan air seperti apa? Jawabannya, mari kita cari dengan penerlitian eksperimental air ,inum, khususnya air hujan.

Kita perlu melakukan sendiri survey dulu kualitas cairan tubuh atau darah kita masing-masing. Dengan dukungan Dr. Frederick, saya membuat metode survey cairan tubuh. Intinya meneliti kualitas kotoran tubuh. Ada dua belas item yang memandu tiap orang meneliti kotoran tubuh masing-masing. Jika hasilnya sekitar di bawah 60 puluh prosen, itu buruk, kotor. Antara 60 – 70 prosen itu sedang atau cukup. Di atas 70 – 80 prosen itu baik. Jika sampai 90 % lebih itu bagus sekali. Cairan tubuh bersih dan sehat. Apakah kualitas cairan tubuh menginsikasikan tingkat kesehatan kita? Kita coba bereksperimen.

Terasa Halus.

Hasil surveyawal para frater berkisar 55 sd 70 prosen. Mereka diminta sering pengalaman kesehatan selama ini. Ternyata banyak keluhan. Umumnya, sulit konsentrasi saat kuliah berat atau membaca buku yang bermutu. Sebentar membaca cepat lelah dan ngantuk, bahkan sulit mengerti isinya. Bangun pagi, masih tersisa rasa lungkrah, tidak semangat, ingin menambah tidur, malas untuk mandi. Lebih-lebih jika sehari sebelumnya berolah raga sepak bola, voley atau ke kerja fisik “ecology day” seharian. Pusing, batuk dan pilek hampir selalu dialami semua frater.

Tidak ada air Hujan keruh

Kegiatan berikutnya  praktek membuat ionizer sendiri. Macam-amacam air diteliti dengan metode elektrolisa. Targetnya menghasilkan kualitas air  yang mendekati darah sehat, PH 7.25- 7.35. Hanya butuh waktu 12 sd 24 jam, air dengan PH di atas 8 sudah dihasilan oleh mereka. Dengan antusias mereka mencoba minum. “Wah…terasa halus, sejuk,” komentrar spontan seorang frter. Yang lain menambahkan komentar, “ terasa mengalir cepat lewat tenggorokan. Ada lagi yang mengatakan,  di  lambung dan perut nyaman. Tiga gelas saya minum tidak merasa kembung.” Semuanya senang sekali minum air hujan. Ada yang minum 8 gelas, ada yang 10 gelas dalam sehati. Maklum, daerah panas, suhu rata-rata 30-35 Celsius, tentu mudah haus.

Meningkat signifikan

Survey minggu ke tiga, rata-rata kualitas cairan tubuh mereka 75 sd 85 %. Bahkan ada yang 95 %. Ketika mereka didajak berbagi muncul hal-hal berikut ini:

  • Urin, keringat, feses BAB, sangat berkurang baunya. Urin menjadi jernih dan lancar, lebih sering kencing. BAB lebih lancar tiap hari. Mulut tidak lagi menimbulkan bau. Problem bau badan (BB) mulai dijauhkan dari wewangian.
  • Bangun pagi terasa sangat fresh. Tidak lagi malas bangun. Segera mandi dan aktivitas padi, meditasi, misa kudus, bacaan rohani, tanpa ngantuk lagi.
  • Daya tangkap dan konsentrasi diuji dengan dua cara. Pater Yan memberi kuliah berat, spiritualitas imam didosesan selama hampir 90 menit, dari pk 15.00 hingga 16.30. “ Hanya satu yang masih kelihatan ngantuk. Yang lain tampak lebih konsetrasi,” ungkap Pater Rektor. Romo Cipto SJ, menguji dengan meditasi sadhana, pagi hari, pk 06.00 – 07.00. Romo menyampaikan kata-kata pemandu yang harus dilakukan para frater sambil duduk tanpa bergeser. Biasanya, 15 sd 20 menit awal, kepala para frater mulai menunduk kiri kanan, alias ngantuk. Kali ini, sekitar 70 % berhasil tidak ngantuk sampai selesai,” ungkap Romo Cip antusias. Ia melanjutkan komentar, ketika saya tanyakan apa saja yang saya katakan, para frater masih bisa mengulang dengan baik. Berarti mereka konsentrasi dengan sadar. Bagus…bagus, ia mengakhiri komentarnya.

Emas di Langit Papua

“Terbukti empirik, bahwa air hujan sangat bernilai,” kata Pater Yan. Berkat  sentuhan sains eksperimental yang dilakukan sendiri, sebagaimana dipelajari para frater selama satu bulan ini. Bukti empirik saya temukan. Bahwa kualitas air minum sangat berpengaruh pada kualitas darah,” lanjut rektor.  

Saya menambahkan komentar. Ibarat kendaran bermotor. Bahan bakar premium berbeda reaksi akselerasi dengan pertamax plus. Pertamax plus tidak menunggu berhari-hari langsung terasa.lebih agresif reaksi di putaran mesin dan tenaga. Kiranya demikian pula darah yang berkualitas secara biologis. Langsung direspon oleh seluruh organ tubuh, terutama syaraf otak dan syaraf sensor-sensor tubuh lainnya. Demikian juga efek positifnya cepat dirasakan.

Pater Yan, rektor mencuci mobil dengan air jernih dari langit.

“Sekarang kami gembira dan bersyukur. Air Hujan itu air suci dari atas, dari Tuhan. Jika diolah secara inovatif, saintifik, terukur, akan meningkatkan kesehatan secara signifikan,” demikian kesimpulan Pater Yan.

Saya menambah komentar. Kesehatan sangat berharga, melebihi nilai emas Freeport. Masyarakat Papua harus belajar. Menuai emas di langit sendiri-sendiri untuk kekayaan dan kualitas kesehatan maupun kecerdasan masing-masing. Ini tugas dan panggilan mulia kalian para Frater. Generasi Muda Pasca Papua, begitu kata Romo Mangunwijaya dalam bukunya “Pasca Indonesia Pasca Einstein,” Kanisius, 1999. Proficiat Papua!

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 30 November 2018.

Penulis adalah Pemerhati Budaya Air Hujan

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top