Wasilah Titik Tengah

Oleh: Winartono

Bismillah, Alhamdulillah.
Allahumma Sholli ‘alaa man ismuhu Sayyiduna Muhammad ShollAllahu ‘alaihi wa sallam.

Ini adalah risalah pendek yang tak sengaja saya tulis. Tak ada yang istimewa dalam perjalanan diri penulis. Malahan, soal ubudiyah masih banyak “bolong-nya”.

Amma badu.

Banyak cara untuk menuju baik. Banyak jalan (suluk) untuk taqorrub pada Sang Maha Dekat. Beraneka pula wirid dan lelaku yang “diramu” oleh pendahulu yang sholih (salafuna sholih) sedemikian rupa untuk dijadikan pegangan praktis khalayak. Atau bahkan secara khusus susunan dzikir (rotib) dibuat untuk diamalkan untuk para murid pengikut sang muallif. Bahkan dalam hal lahirnya, karya wirid juga mempunyai latar konteks yang beragam. Ada yang diilhami melalui mimpi seperti qoshidah burdah Al-Busyiri, hingga ada juga yang ditulis atas permintaan murid, seperti Rotib Al-Haddad. Ada juga yang tersusun karena kejadian tertentu dan disertai rasa mahabbah yang luar biasa kepada Baginda Rosulullah Muhammad, semisal kumpulan hizib pujian harian Kitab Dalail Al-Khoirot oleh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli. Dan masih banyak rupa media suluk lainnya.

Hingga saat ini kita bisa jumpai banyak bentuk susunan wirid. Kesemuanya tentu sama-sama baik dan masing-masing tentu mempunyai atsar positif bagi para pengamalnya. Sehingga kesemuanya produk ketulusan tirakat para ulama pendahulu bisa kita posisikan ibarat menu pilihan. Masing-masing kita berhak menjatuhkan pilihan pada karya-karya tersebut sebagai pegangan amalan rutin. Tiap-tiap jalan atau cara tersebut tentu memiliki faidah dan maziyah sendiri. Sebagai deret opsi, masing-masing mempunyai sasaran pengamal sendiri.

Perbedaan penempuhan jalan taqorrub pada Allah tersebut penulis dudukkan sebagai keniscayaan. Latar sosio-kultural dan aspek kesejarahan individu (salik) barangkali menjadi dua faktor utama atas keanekaragaman laku spiritual atau biasa disebut suluk. Pada gilarannya memang muncul pengkategorian hingga menjadi lelaku ‘pakem’ tarekat—baik yang tersepakati sebagai mu’tabar maupun yang tak tergolong mu’tabar. Keduanya, menurut penulis, tak sepatutnya dipertentangkan satu-sama lain. Hanya memang tentu di atas rupa-rupa cara tersebut perlu kiranya ada batasan (qoyyid).

Qoyyid dasar yang bisa dijadikan indikator untuk “menilai” suluk atau tarekat adalah: ajaran Tauhid. Sejauh media taqorrub itu tidak bertentangan dengan semangat ajaran ketauhidan Islam, secara umum bisa kita anggap absah. Hanya memang ada pula pandangan yang lebih ketat dalam menyikapi jenis-jenis suluk, misalnya validitas dan sinambungnya sanad murid-guru (mursyid). Pandangan tersebut terakhir ini bisa menganggap batas sebuah suluk jika tak menemukan tali-sambung (genealogis) ke atas hingga ke Rosulullah. Menurut hemat pandangan awam penulis, sejauh tak melanggar prinsip-prinsip dasar Tauhid—serta aturan (syariat) sebagai turunannya—sebuah suluk, tarekat, atau media taqorrub kepada Sang Khaliq masih terbilang sah-sah saja. Batasan genealogis dan bahkan kualitas (ilmu dan ibadah) mursyid atau muallif memang penting terutama dalam konteks upaya kehati-hatian (ikhtiyath).

Qoyyid lain yang bisa kita jadikan indikator penilai adalah cinta Rosulullah Muhammad. Kesemua pendekatan suluk/tarekat dalam Islam tak bisa tidak mengandung nilai Hubbun-Nabi. Dalam pandangan awam penulis, Rosul Muhammad sebagai manusia pilihan adalah “titik-tengah” yang darinya semua tarekat/suluk/media taqorrub mestinya terhubung (taalluq). Dengan demikian, sudah selazimnya apapun tarekat/suluk-nya dalam konteks tertentu tak lain adalah upaya tafsir—pemaknaan atas perilaku (ubudiyah, muamalah) Khoirul Anam: Muhammad ShollAllah alaih wa sallam.

Baik Tauhid dan Wujud Nabi Muhammad adalah titik-tengah yang otentik, anugrah Allah Azza wa Jalla. Keduanya bisa menjadi indikator tawassuthiyah dalam mensikapi pilihan kita atas rupa-rupa tarekat atau suluk beserta media (bacaan)nya. Dengan begitu tauhid bisa kita jadikan pengingat (tanbih) dalam kaitanya dengan hal nilai atau konten ajaran. Sedang, wujud (cinta) kekasih Muhammad bisa kita hadirkan sebagai “alarm” muhasabah pilihan kita atas lelaku (suluk) tertentu. Dengan begitu, sebagai awam kita bisa memilih jalur “yang tak ketat” (baca: meski tak ringan juga melakoninya) sebagai pijakan untuk taqorrub kepada Allah.

Baik mutabar atau pilihan suluk di luar mutabar bisa terbilang on the track jika kita niat-tuluskan sebagai jalan menuju (Ridlo) Allah. Tentu dengan catatan hal demikian tak menabrak prinsip-prinsip (qoyyid) Titik Tengah tersebut di atas. Sebagai qoyyid tentu semangat (nilai) titik tersebut tak hendak mengkerdilkan manusia. Justru, dengannya kita dituntun dan diarahkan untuk berusaha ittiba padamanusia paripurna: Rosulullah Muhammad yang membawa serta Tauhid dan Teladan (makaarim al-akhlaq). Dan kesemuanya tak lain adalah wujud welas-kasih Allah: rahmatan lil aalamiin.

——-

Bersama ini, penting kiranya penulis menyertakan catatan bacaan penulis atas sebuah kitab mengenai Wujud Nabi Muhammad: yang dalam risalah pendek ini penulis sebut sebagai “Wasilah Titik Tengah”. Kitab tersebut adalah Risaalat fii itsbaat wujuud an-Nabi fii kulli makaan. Kitab ini ditulis dengan narasi yang tidak hanya diperkuat dengan sumber naqli (al-Quran-Hadist) tetapi juga dengan analog-analog (qiyas) yang mudah ditangkap bahkan oleh pembaca awam seperti saya.

Untuk mengawali penjelasan perihal wujud dan kehadiran (Rosullullah setelah wafat), sang penulis—Sayid Husain bin Muhammad as-Syaafiiy—memulai dengan paparan analogis supaya mudah dipahami umum, terkait gambaran bahwa alam (العوالم) tercipta bermacam-macam dan perwujudannya pun mempunyai dimensi berbeda. Mulai dari alam (ruang) rahim ibu, yang secara ukuran fisik tak selebar dunia. Setelah lahir manusia memasuki alam yang (dimensinya) lebih luas, yaitu alam fikir (عالم الفكر) dengan penjelasan penggambaran (dalil) bahwa ketika manusia menutup kedua mata kemudian berfikir—menurut Sayid Husain—, keadaan (الحال) menjadi lebih meluas.

Setelah alam fikir, luasnya dimensi pun terjadi pada alam tidur (عالم النوم), yang di dalamnya jiwa (الروح) kita bisa pergi liar kemana tujuannya. Dengan ibarat bahwa jiwa kita dalam mimpi itu laksana “تعرج من الفرش الى العرش “. Kemudian meningkat lebih luas ke alam barzakh (عالم البرزخ), sebab ketika jiwa (الروح) terlepas dari badan maka ia menjadi lebih dekat dengan kuasa (otoritas) Yang Maha Pencipta (قوة المالك). Seolah semasa di dunia materiil (badan) ia terpenjara. Dan ketika terlepas dari materi duniawi, jiwa atau ruh tersebut atas ridlo Allah bisa leluasa melaju (lintas dimensi).

Berlanjut lagi ke alam kebangkitan atau hidup kembali (عالم الحشر والنشر) atau juga disebut alam mahsyar, dimana semua makhluk dihidupkan kembali dan dikumpulkan pada hari kiyamat. Pada saat itulah publikasi catatan amal kita dilakukan. Yang lebih luas lagi adalah alam surga-neraka (عالم الجنة والنار ). Alam terakhir ini yang lebih luas dari semua alam.

Dengan penjelasan perbedaan luas dimensi tersebut, wujud (syafaat) Nabi Muhammad sebagai makhluk yang paling dicintai (diridloi) Allah menjadi relevan—setidaknya bisa menjadi qiyas jawaban atas ke-awam-an kita. Dan yang terpenting adalah bahwa yang lebih luas dari semua alam tersebut di atas adalah anugrah dan rahmat Allah (فضل الله و رحمته), serta pengampunannya.

Kitab dengan halaman yang relatif tipis dan bisa dibaca di waktu senggang ini setidaknya bisa untuk meningkatkan mahabbah kita kepada Roofiur Rutabi wa Sayyidul Kaunain: Mursyidana Muhammad. Terlebih bagi para pecinta sholawat kitab ini patut dibaca sebagai asupan untuk memantapkan keimanan, sehingga semakin istiqomah dan lebih meresapi pujian-pujian yang dialamatkan kepada kekasih al-Amin Muhammad Shollallah alaih wa sallam. Akhir kata, mari kita semua terus memohon (doa/ikhtiar) untuk mendapatkan ridlo Allah dan syafaat Rosulullah. Diantaranya—yang relatif mudah kita lakukan—adalah senantiasa memohon pengampunan (istighfar) dan sholawat kepada manusia pilihan (Nur) Muhammad SAW, rahmat semesta alam.

Allahu a’lam bis showaab. Afwa minkum. Semoga bermanfaat.
Al-Faqir Al-Mudznib

Penulis adalah Pengasuh-Penggerak Gubuk Shalawat Malang

Sumber Foto: http://btrg.dayah.web.id/2018/08/06/tasawuf-sebagai-solusi-global/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top