Menyelamatkan Kebudayaan Melalui Sastra

Oleh: Andri Kurniawan

Ada semacam hubungan erat antara sastra dan kehidupan, karena fungsi atau peran sastra itu sendiri adalah melibatkan dirinya ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Ibarat tumbuhan, sastra merupakan suatu ‘organisme’ yang selalu tumbuh dan berkembang. Ia menjadi sensasi keindahan yang bergerak, menelusup ke dalam sanubari masing-masing orang yang mencoba mendekatinya. Ada sebuah ungkapan ‘jangan pernah engkau mendekati sastra sebelum engkau terbunuh dalam keindahannya’. Maka mendekati sastra adalah mendekati gelora keindahan. Tidak akan pernah anda menemukan konsep benar dan salah dalam sastra. Sastra bukan soal benar atau salah, tetapi sejauh mana ia menggugah dan kemudian sebagaimana ‘organisme’ yang hidup memancarkan kecerahan kepada para pembaca.

Dahulu kala, sastra ditularkan dan dikembangkan melalui oral, melalui dongeng, melalui cerita-cerita rakyat, cerita yang turun temurun yang disebut dengan sastra lisan. Melalui tradisi lisan itu nilai-nilai kearifan, pengetahuan tradisional, kesenian serta kebudayaan menancap kuat dalam ingatan anak-anak. Inilah ciri khas rakyat Nusantara, mereka mengabadikan hasil-hasil kebudayaan mereka ke dalam tradisi lisan. Akhirnya, lahirlah cerita rakyat. Karena cerita rakyat, rakyatlah yang bercerita; bercerita tentang masyarakatnya, bercerita tentang dirinya, seluruh isi pikiran, perasaan, cita-cita berikut harapan-harapannya. Karena itu, untuk memahami suatu suku bangsa hendaklah pula memahami pula karya-karya sastra mereka, karena itulah suara hatinya. Karenanya, sastra merupakan salah satu dari representasi dari kebudayaan. Bahkan sastra dianggap sebagai alat yang mampu menyelamatkan kebudayaan suatu bangsa.

Melville J. Herskovits dalam bukunya Man and His Work mengungkap bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Melville disini sebenarnya ingin memberi penguatan bahwa masyarakat dengan segala dinamikanya merupakan perwujudan dari embrio dari lahirnya sastra itu sendiri.

Ada semacam hubungan erat antara sastra dan kehidupan, karena fungsi atau peran sastra itu sendiri adalah melibatkan dirinya ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Dari sastra inilah gaya atau model masyarakat dengan pola pikirnya akan terpengaruh. Karena sastra merupakan salah satu kebudayaan, sedangkan salah satu unsur kebudayaan adalah sebagai sistem nilai. Maka dari itu, di dalam sebuah karya sastra tentu akan terdapat gambaran-gambaran tentang sebuah sistem nilai. Hingga kemudian sistem nilai yang membentuk pola pikir masyarakat itu dianggap sebagai kaidah yang diikuti kebenarannya, sehingga pola pikir masyarakat dapat terbentuk melalui karya sastra. 

Dalam konteks kesustraan, karya sastra terbagi menjadi dua bagian. Pertama, karya sastra yang menyuarakan aspirasi jamannya. Karya sastra seperti ini lebih mengajak pembaca untuk mengikuti apa yang dikehendaki jamannya. Kedua, karya sastra yang menyuarakan gejolak jamannya. Sebuah ajakan kepada pembaca untuk merenung, berpikir, dan apapun saja yang bersifat kontemplatif. Saya lebih menyukai model yang kedua, karya sastra yang menyuarakan sebuah gejolak jaman. Karena setiap jaman mempunyai gejolaknya masing-masing. Sebagai penikmat sastra saya harus ikut dalam dinamika gejolak itu. Ikut disini bukan dalam tatanan praksis, tetapi lebih kepada permenungan mendalam yang kemudian diambil hikmah dan kesimpulan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

DAFTAR RUJUKAN

Rahman Nurhayanti, Sri Sukesi Adiwimarta. 1999. Antologi Sastra Daerah Nusantara. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Azzah Zain. 2007. Al Quran Puncak Selera Sastra. Ziyad Book. Surakarta.
Faruk. 2003. Kebangkitan Kebudayaan. Jurnal Kebudayaan Selarong volume 01, April-Juli 2003. Yogyakarta.
Penulis adalah Pegiat Cogito Literasi, Staff Pengajar di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang

Sumber Foto: http://kintaka.co/menghayati-sastra/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top