LUCKY (2017) : Kematian Bukan Selaput Gagasan yang Gampang Diseberangi

Oleh: Rozi Kembara

Film debutan sutradara John Carroll Lynch ini dibuka dengan sebentang lanskap gurun Arizona, deretan perbukitan, kaktus-kaktus yang seakan berusaha menusuk langit, dan seekor kura-kura yang merangkak perlahan-lahan. Kemudian kita berkenalan dengan protagonist film in : Lucky (Harry Dean Stanton), kakek tua usia sembilan puluhan, seorang veteran perang dunia II.  

Pada paruh awal film dipertontonkan adegan keseharian Lucky. Bangun pagi, menggosok gigi, melakukan serangkaian gerakan yoga dengan hanya mengenakan cawat kedodoran, membuat kopi, mengisi teka-teki silang sambil merokok. Lalu berjalan-jalan tergopoh-gopoh ke sebuah kedai kopi langganannya. Si Bos kedai kopi (Barry Shabaka Henley)  dan seluruh karyawannya sudah mengenal baik Lucky dan peduli padanya. Mereka membicarakan hal-hal remeh soal kata tersulit yang ia temukan dalam teka-teki silangnya. Lucky keluar dari kedai itu, kembali berjalan tergopoh-gopoh menelusuri trotoar. Malamnya ia  mendatangi sebuah kedai minum. Di sana ia ngobrol, saling mengejek, dan berbagi lelucon dengan pengunjung lain.

Kemudian kita tahu bahwa lelaki tua ini seorang pribadi yang sinis, memandang sisi buruk dari segala hal, dan seorang atheis. Dalam sebuah percakapan seorang pengunjung bar berbicara tentang persahabatan, pengunjung bar itu bilang bahwa persahabatan baik bagi jiwa, serta merta Lucky mengomentari perkataan si pengunjung bar, “Tidak ada itu,” “Apa yang tidak ada? Persahabatan?” kata si pengunjung bar kaget. “Jiwa” jawab Lucky dingin.

Sepanjang film kita disodori hal yang monoton sekaligus mendalam dan mengasyikkan. Berulang-ulang kita menyaksikan adegan ritual pagi hari Lucky. Bangun tidur-gosok gigi-melakukan gerakan yoga-membuat kopi. Kembali mengisi teka-teki silang, menonton TV sambil menggerutu. Kembali ke kedai kopi bertemu menyapa si pemilik kedai kopi dengan sapaan yang sama :“You’are nothing!” berjalan tergopoh-gopoh di trotoar, malam kembali ke bar ngobrol ngalor ngidul. Begitu seterusnya hingga film berakhir.

Tapi keberulangan itu anehnya tidak membosankan. Selalu ada hal menarik yang akan kita temui selama Lucky menjalani hari-harinya yang menjemukan. Selain itu lapis-demi lapis kepribadian Lucky terungkap perlahan-lahan . Di balik sikapnya yang sinis terhadap segala hal, dibalik ketidkapercayaannya terhadap tetek bengek hal-hal bersifat spiritual, Lucky adalah pribadi yang rapuh, kesepian dan sebenarnya takut menghadapi maut, bukan karena surga dan neraka tentu saja, melainkan karena ia membayangkan di balik kematian adalah sebuah kekosongan yang tak terhingga. Ketakutan ini semakin menjadi-jadi setelah ia jatuh pingsan saat menjalankan ritual paginya.

Begitulah Lucky bergerak dari satu momen ke lain momen dalam kelambanan yang mendalam dalam keberulangan yang sekaligus baru. Ini bukan jenis film eskapis yang hanya membawa kita lepas dari kejemuan hidup. Lucky adalah film kontemplatif yang digarap secara puitik. Ia menyodorkan renungan sublim ihwal satu fase kehidupan yang pasti akan dilewat oleh setiap manusia : menjadi tua & mati

Kurang-kura yang muncul di adegan pertama film ternyata memiliki peran yang signifikan sekaligus sublim dalam film ini. Kita kemudian tahu bahwa kura-kura itu bernama President Roosevelt, pemilikinya Howard (diperankan secara apik oleh sutradara gaek David Lynch). Pada satu kesempatan Howard dan Lucky bertemu di bar. Dengan wajah kusut Howard menumpakan kesedihannya. Sudah berhari-hari President Roosevelt hilang. Howard menceritakan tetek bengek perihal hubungan dirinya dan kura-kura peliharaannya,  ia juga mengkhawatirkan President Roosevelt, kura-kura tua yang kini musti berkelana sendirian di  luasnya gurun Arizona. Beberapa orang di bar tertawa mencemooh, hanya Lucky yang menganggap hilangnya President Roosevelt sebagai sesuatu yang serius. Dalam kesempatan lain Lucky bahkan mengajak berkelahi orang yang memandang remeh hubungan antara Howard dan President Roosevelt. Bagaimana seorang yang sinis terhadap segala hal yang dianggap sakral oleh orang lain bisa begitu peduli padaa seekor kura-kura tua yang hilang?

Di akhir film kita kembali melihat hal-hal yang pertama kita lihat di awal film. Lanskap gurun Arizona, Kaktus-kaktus, dan si President Roosevelt yang merangkak perlahan-lahan. Sebuah momen pembuka dan penutup yang simbolik sekaligus puitis.

Penulis adalah Penyair dan Maniak Film

Sumber Foto: https://www.delraylibrary.org/dvd-march-2018/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top