Bumi Manusia: Pram dan Keabadiannya

Oleh: R.H. Authonul Muther

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” –

Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer merupakan karya monumental yang datang dari pengalaman-pengalaman gelap dalam diri manusia. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca merupakan tetralogi Buru yang ditulis oleh Pram di balik penjara. Pram sendiri dipenjara selama 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun di Orde Lama, 14 tahun di Orde Baru. Melalui kesakitannya sebagai prasyarat dalam merenung, Pram telah menghasilkan dan menjelma apa yang ia sebut sendiri sebagai ‘menulis adalah bekerja untuk keabadian’.

Apa yang menarik dari Bumi Manusia dan mengapa kita harus membacanya? Karena dengan membaca Bumi Manusia, Pram mengajak kita untuk berada pada situasi, meminjam frase sugestif Franco Berardi, ‘setelah sejarah’. Pram dengan spectres-puitiknya mengatakan “seorang pelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”,  dengan kata lain, kita oleh Pram diajak untuk melampaui sejarah kita saat ini. Artinya, berbuat adil sejak dalam pikiran akan kondisi zaman, apa-apa yang sepatutnya kita tolak dan apa-apa yang harus kita terima, lalu melampaui dan merubahnya. Kekuatan ide seorang Pram melalui buku-buku yang ia tulis tak pernah padam baranya. Pram ditakdirkan melampaui zamannya, ia datang dan pergi terlalu cepat.

Sekilas Tentang Bumi Manusia

Bumi Manusia mempunyai sisi yang kompleks dalam alur cerita dan ide yang ingin Pram sampaikan. Di dalam Bumi Manusia terdapat sisi romantik, perlawanan terhadap kolonialisme, budaya Jawa, hukum kolonial, datangnya ilmu pengetahuan (Eropa),  penindasan, keadilan, sifat manusia, dst. Karena di dalam menuliskan Bumi Manusia, Pram berangkat dari permasalahan zamannya, yakni zaman kolonialisme Hindia-Belanda. Hal ini hanyalah sekelumit alternatif pembacaan, tanpa berpretensi menyapu bersih makna-makna lain dari Bumi Manusia dan luasnya sifat pertokoh.

Beberapa tokoh di dalam Bumi Manusia adalah Minke, Annelies Mellema, Nyai Ontosoroh, Robert Mellema, Tuan Herman Mellema, Robert Shuurof, dan keluarga keresidenan Minke.

Pertama adalah Minke, seorang penulis yang mahir berbahasa dan menulis Belanda. Ia sosok pribumi keturunan orang Jawa, tepatnya disalah satu kota B. Minke sekolah di H.B.S Surabaya, dan ia adalah satu-satunya siswa pribumi di sekolahnya. Di H.B.S, teman-teman Minke berasal dari keturunan Indo-Eropa dan Eropa asli. Pada konteks zaman tersebut, pribumi dianggap sebagai orang bodoh yang harus menerima pencerahan ilmu pengetahuan Eropa, dan menganggap rendah kalangan pribumi. Mereka dididik hanya untuk menjadi pekerja murah untuk membantu kerja-kerja penjajahan. Dengan demikian, Minke mendapatkan ilmu pengetahuan Eropa yang tidak didapat oleh para kalangan pribumi lainnya. Hal tersebut menyebabkan Minke menyukai tata cara etiket orang Eropa, seperti yang digambarkan di dalam Bumi Manusia, “Seorang pelayan wanita menghidangkan susucoklat dan kue. Dan pelayan itu tidak datang merangkak-rangkak seperti pada majikan Pribumi. Malah dia melihat padaku seperti menyatakan keheranan. Tak mungkin yang demikian terjadi pada majikan Pribumi: dia harus menunduk, menunduk terus. Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain.” Meski mendapatkan pengetahuan Eropa dan menyukainya, bukan berarti seorang Minke menolak seluruh konsep-konsep Jawa. Sejak pertama kali menginjakan kaki di Wonokromo, Minke jatuh cinta kepada Annelies Mellema. Semenjak itu ia berkenalan dengan perempuan, seorang gundik orang Eropa bernama Nyai Ontosoroh yang mengajarinya berbagai hal, dari kebijaksanaan sampai bagaimana caranya untuk melawan penindasan.

Kedua Sanikem atau Nyai Ontosoroh, ia adalah budak yang dijual oleh ayahnya kepada Tuan Herman Mellema untuk dijadikan gundik. Nyai Ontosoroh sedemikian menderita sejak kecil, ia dipaksa dijual kepada Tuan Mellema demi meningkatkan jabatan ayahnya sebagai bendahara kolonial. Nyai Ontosoroh hanyalah seorang gundik yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dengan perasaan amarah mendalam karena kondisinya sebagai pribumi dan gundik, ia tak menyerah pada keadaan. Nyai Ontosoroh, merupakan simbol perlawanan terhadap kondisi patriarkis pada zaman kolonial, tubuh perempuan dijadikan bahan eksploitasi para kalangan Eropa. Meski demikian, Nyai Ontosoroh mendapatkan didikan a la Eropa oleh Tuan Mellema. Oleh karena kesakitannya pada orangtua sekaligus orang-orang Eropa, membuat Nyai Ontosoroh berniat untuk berdiri di atas kakinya sendiri, berdiri atas keringat dan usaha payahnya sendiri, agar ia dapat berdiri sama tinggi dengan mereka. Nyai Ontosoroh menjadi kian bijaksana dan dapat memilah berbagai hal dari isi pikirannya; pribumi, kolonial, eropa, menjadi orangtua dari Annelies Mellema & Robert Mellema, dan sebagai nyai. Pada zaman tersebut, ‘nyai’ merupakan sebutan negatif untuk orang pribumi sebagai gundik yang menjual tubuhnya kepada orang Eropa. Dengan pengetahuan Eropa yang ia miliki, Nyai Ontosoroh kian berbeda dengan nyai-nyai yang lain, ia berbeda dengan pendapat para kalangan umum. Pendapat umum waktu itu, Nyai, digambarkan sebagai pelacur, tak punya pengetahuan dan tak punya harga diri. Hal tersebut sangat jauh dari seorang Nyai Ontosoroh, ia sangat terpelajar meski tidak pernah berada di bangku sekolah. Dengan demikian, seorang terdidik tidak melulu perihal sekolah dan bangku-bangku perguruan tinggi.

Nyai Ontosoroh menangani perusahaan pertanian besar yang disebut Boerdrij Buitenzorg, hasil jerih payahnya sendiri, yang dulunya ia bangun dengan suami tidak syahnya, yakni Tuan Mellema. Tetapi, semenjak ada persilisihan dengan Tuan Mellema, Nyai Ontosoroh mengurus semua perusahaan tersebut bersama Annelies Mellema. Kelak, perusahaan tersebut akan turut pula dikelola oleh Minke.  Kemandirian dan sikap tidak terburu-buru Nyai Ontosoroh, dapat menaklukan pengetahuan dan kecerdasan seorang Minke. Sampai-sampai Minke melihat Nyai Ontosoroh sebagai guru yang tak dapat ia temukan di H.B.S. Nyai Ontosoroh adalah gambaran dari seorang terpelajar yang telah berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.

Ketiga Tuan Herman Mellema, ia adalah Tuan Administratur, Tuan Besar Kuasa pabrik gula di Tulangan, Sidoarjo. Ia pertama kali bertemu Nyai Ontosoroh ketika bertamu pada ayah Nyai Ontosoroh. Pada akhirnya, sang ayah pun menjual Nyai Ontosoroh kepada Tuan Mellema dengan bayaran 25 gulden. Tuan Mellema begitu mengasihi Nyai Ontosoroh, sejak di Tulangan, Tuan Mellema mengajari Nyai Ontosoroh bagaimana memelihara sapi perah, di malam hari diajari baca-tulis dan menyusun kalimat Belanda. Meski Tuan Mellema sangat menyayangi Nyai Ontosoroh, hal tersebut tak dapat menghapus kesedihan Nyai Ontosoroh yang telah dilukai harga dirinya. Pada mulanya sebagai Tuan Administratur, Tuan Mellema tidak memperpanjang kontraknya. Akhirnya Tuan Mellema pindah ke Wonokromo Bersama Nyai Ontosoroh, pada saat itu Tuan Hellema dan Nyai Ontosoroh sangat bahagia, selama berjalannya waktu, Tuan Mellema jarang kembali ke rumah dan perasaan itu kembali sirna. Mengapa Tuan Mellema jarang kembali ke rumah? Karena Tuan Mellema selalu berada di rumah Ah Tjong dan meninggal di sana.

Keempat Robert Mellema, ia adalah anak pertama dari Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh. Robert Mellema mempunyai dendam kesumat terhadap pribumi. Memandang serendah-rendahnya apa yang dipikirkan, dikerjakan, dan dipercaya oleh kaum pribumi. Robert, adalah sosok pemalas yang enggan mengurusi perusahaan dan kesehariannya hanya suka berburu binatang di pedalaman hutan. Semenjak Minke bertempat tinggal di Wonokromo, Robert sangat mencemburui kehadiran Minke. Ia hanya mengurung diri di kamar tidurnya dan keluar hanya ketika ingin makan. Selanjutnya ia kabur dari rumah dan menuju ke rumah Ah Tjong. Ah Tjong sendiri adalah mucikari yang menjual pelacur-pelacur dari berbagai negara. Robert tak lagi pulang ke Wonokromo, ia terjerambab dalam kubangan nafsu dirinya sendiri.

Kelima Annelies Mellema, ia adalah anak dari pernikahan tidak syah dari Tuan Mellema dengan Nyai Ontosoroh. Annelies merupakan sosok yang cerdas secara sisi praktisnya, ia pandai mengelola perkebunan, kandang, dan menjadi mandor atasan para pegawainya meskipun ia masih belia. Meski ia tangguh di beberapa hal, sisi batin Annelies sering kali mengalami gejolak. Semenjak ia kecil, Annelies mengalami pertentangan batin dengan Tuan Mellema dan parahnya, diperkosa oleh Robert Mellema. 

Annelies mencintai Minke sejak mereka berdua pertama kali bertemu di Wonokromo, di kediaman Nyai Ontosoroh dan Annelies Mellema. Meski terdapat darah Eropa di dalam tubuhnya, Annelies lebih memilih menjadi pribumi seperti Nyai Ontosoroh. Seluruh keluarga dari Nyai Ontosoroh tidak menyukai pribumi, mereka lebih menyukai identitasnya dikatakan sebagai Eropa totok. Dengan kata lain, Eropa adalah segala-galanya, berhak berkuasa atas apapun yang ada di Bumi Manusia ini.

Pada momen-momen penutup, Minke dan Annelies Mellema menikah secara resmi. Pernikahan tersebut dirayakan dengan megah dan gegap gempita. Kebahagiaan tersebut hanya berlangsung sementara, melalui hukum kolonial via Ir. Maurits Mellema (anak Tuan Mellema hasil dari pernikahannya dengan Amelia Mellema Hammers ketika di Belanda), Annelies melalui keputusan pengadilan akan berangkat menuju Belanda.

Minke dan Nyai Ontosoroh melawan pengadilan dengan berbagai cara. Dari tulisan, propaganda, dukungan guru-guru di H.B.S, dokter Martinet dan dukungan orang Eropa semacam Tuan Asisten Residen B. Tulisan Minke di koran-koran mengundang simpati masyarakat untuk turut serta melawan kebengisan hukum kolonial. Meski demikian, Minke dan Nyai Ontosoroh tidak dapat membatalkan keputusan pengadilan, Minke dan Nyai Ontosoroh kalah, kebahagiaan dan seluruh asset perusahaan pindah ke tangan Ir. Maurits Mellema. Annelies pergi, ia menuju ke Eropa, “Kita kalah, Ma.”, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Ucap Nyai Ontosoroh.

Barangkali bukan hanya Minke, tapi kita sebagai manusia, berhak melawan kesewenang-wenangan dan harus adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan. Mungkin, itulah struktur terdasar dari manusia yang ingin digambarkan oleh seorang Pram. Dengan demikian, tetralogi Buru adalah prestasi besar yang dimiliki oleh Indonesia untuk dunia.     Terbukti, karya Bumi Manusia telah diterjemahkan ke 38 bahasa. Meski demikian, pembaca harus mempunyai tafsir dan momen puitik-nya sendiri terhadap Pram. Bagi saya, membaca Pram sama dengan berdiri di masa depan meski dia bercerita tentang masa lalu.

30 April 2006 Pram tiada, ia boleh mati secara fisik, tapi ia tetap dan selalu hidup melalui bahasa. Akhirnya, kita harus mengucapkan apa yang dikatakan Minke kepada Annelies dengan nada bergetar, Adieu! Adieu Pram! Kini Pram lebih hidup, ia lebih bertenaga dari sebelumnya. Akhirnya ia membuktikan kata-katanya sendiri, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Keabadian untukmu, Pram.

Penulis adalah Pegiat Filsafat

Sumber Foto: http://althesia.blogspot.com/2016/05/review-bumi-manusia-sebuah-jendela-ke.html

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top