Pulang ke Rumah

Oleh: Abdullah Wong

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
(Home by Michael Buble)

Siapa yang tak ingin pulang? Jangankan Ebiet G. Ade, burung-burung yang terbang meninggalkan sarang, atau ayam-ayam yang gelandangan di pekarangan, bahkan para perantau yang mengadu nasib ke tempat jauh pun selalu ingin pulang. Ya, selalu ingin pulang. Entahlah, pulang bagiku bukan sekadar kata. Di sana, aku selalu merasakan getaran makna tersendiri ketika mendengar, apalagi menyebut kata “pulang”.

Seakan, selalu saja ada yang berbisik, “Wong, kapan kamu pulang?”

Sekitar seminggu yang lalu, aku pulang kampung. Tentu saja kepulangan ini tidak menarik apalagi memberi kesan bagi siapa pun. Tak mengapa. Setidaknya, secara pribadi aku mencoba mengurai sedikit makna pulang untuk kepulanganku yang kesekian kali. Semoga saja, pulang yang kupahami menjadi makna pulang sejati. Bila demikian, rasanya cukup lega hatiku.

Tapi, apakah benar setiap manusia selalu ingin pulang? Entah. Kalau memang setiap manusia selalu ingin pulang, lalu kemana mereka mesti pulang? Apakah ke rumah? Entah juga. Kalau pulang itu ke rumah, bukankah tidak semua saudara-saudara kita punya rumah? Apakah konsep pulang hanya dimiliki oleh mereka yang punya rumah gedongan saja, atau mereka yang punya villa, punya apartemen, dan rumah-rumah mewah lainnya? Tidak! Ternyata, konsep pulang juga dimiliki mereka yang masih tinggal di kontrakan, juga rumah yang tinggal menunggu waktu disita, atau mereka yang tinggal di rumah-rumah bedeng, di kolong jembatan atau pun di rumah-rumah kardus. Ternyata, tetap saja semua punya konsep pulang.

Masih menyoal rumah dan kaitannya dengan konsep pulang, saya tertarik pada penggunaan kosa kata Bahasa Inggris. Ketika menyebut kata pulang, Bahasa Inggris menggunakan go home, bukan go house. Begitu juga dengan beberapa ungkapan seperti homey, welcome home atau home sweet home. Di sini, kita tidak menemukan penggunaan kata house sama sekali. Seakan, dalam gramatika Inggris ingin membedakan secara tegas bahwa ada rumah dalam artian gedung atau fisik, tapi ada juga rumah dalam artian batin. Mungkin kita pernah menemukan rumah yang megah dan mewah, tapi di dalamnya tidak dirasakan keteduhan dan kedamaian. Sementara, ada rumah yang sangat sederhana, berlumut, nyaris roboh, atau bahkan nyaris disita, namun sungguh nyaman dan menghangatkan. Ternyata, batin atau inti dari bangunan rumah itu ada pada sang pemilik rumah.

Jika menyebut kata pulang atau kembali, itu artinya sebelumnya kita telah pergi atau telah meninggalkan tempat asal. Maka pulang berarti kembali ke tempat asal. Ngomong-ngomong tentang tempat asal-muasal, ini yang kemudian melatari kenapa manusia selalu penasaran tentang dari mana dirinya berasal, lalu akan kemana dirinya pulang. Dan konon, agama memberi jawaban atas pertanyaan yang sering kita sebut sebagai sangkan paraning dumadi. Sekali lagi, secara kodrati, manusia memang memiliki kesadaran pulang. Sadar atau tidak, mau atau tidak mau, manusia sebenarnya selalu terpanggil untuk selalu pulang atau kembali. Karena pulang atau kembali adalah satu hal hakiki yang tak bisa dibantah siapa pun.

Lalu bagaimana Al-Quran bicara tentang pulang? Kalau kita pernah mendengar ungkapan inna lillahi wa inna ilaihi rojiún, maka inilah prinsip pulang menurut Al-Quran. Secara sederhana, ayat ini bila diterjemahkan akan menjadi: “Sungguh segalanya milik Allah dan pasti akan pulang kepada Allah”. Menurut saya, ayat ini kurang tepat jika hanya dipahami sebagai ayat kematian. Ayat ini justru tengah berbicara tentang tauhid sejati, yakni kesadaran kembali secara terus menerus. Bagi pribadi bertauhid, kesadaran pulang atau kembali kepada-Nya, sudah semestinya disadari setiap saat. Dan yang namanya kembali itu bukan nanti atau besok, tapi saat ini juga. Maka, apa pun yang berlangsung, apa pun yang menimpa, entah sedih atau bahagia, apakah suka atau derita, tetap berkesadaran kembali kepada-Nya, saat ini juga. Yang menarik, ayat ini dimulai dengan ungkapan, “Apapun yang menimpamu, maka sadarilah akan inna lillahi wa inna ilaihi rojiún.” Dalam ayat ini, tidak mesti yang menimpa adalah sesuatu yang kita pahami sebagai buruk. Karena, apapun yang menimpa (menghampiri), baik atau buruk, tetap saja berkesadaran ilaihi rajiún, alias pulang tadi. So, pulang mesti selalu dipersiapkan saat ini dan saat ini juga. Kemana? Ke rumah sejati.

Tentang rumah sejati, salah satu Hadis Qudsi menyebut, Qolbun mu’min Baitullah: hati orang mukmin adalah rumah Allah. Bayangkan, Allah yang Maha Agung, Yang Maha Luas itu ternyata berumah di hati orang mukmin. Tentu hati si mukmin ini sangat jembar. Hatinya tak terpengaruh oleh ukuran kamar atau teras, hatinya tak dibatasi oleh halaman atau dapur. Bahkan hatinya sangat luas melebihi jagat raya. Hati orang mukmin yang seperti ini pastilah menampung semua kenyataan secara utuh. Seperti semesta yang pasrah menerima banjir, pasrah menerima gempa, menampung letusan gunung, hingga dedaunan dan rerumputan yang bertebaran di penjuru bumi ini. Pantas saja sang Nabi selalu tersenyum. Semua selalu terasa indah dan nyaman. Homey banget gitu lho! Mungkin, kalau mau dilihat ciri-cirinya, orang yang punya rumah Agung ini tak pernah sedih dan khawatir atas segala apapun yang menimpa dirinya. Ini mungkin yang disebut Al-Quran sebagai pribadi yang “laa khauufun álaihim walaa hum yahzanuun.”

Bagaimana? Masih mau bicara soal pulang? Bagaimana kalau kita tengok para musisi mana saja yang pernah mengekspresikan tentang rumah atau pulang? Oke, kita mulai dari God Bless yang pernah membawakan lagu Rumah Kita karya Theodore KS. Mungkin masih ingat bagaimana lirik-lirik indahnya itu; Kemudian Ebiet G. Ade, dia pernah menulis sekaligus menyanyikan Aku Ingin Pulang; Atau barangkali masih ada yang ingat Poppy Mercury, dia pernah menyanyikan Mama, Aku ingin Pulang. Lagu ini pernah juga dinyanyikan oleh Nike Ardilla; Kemudian Slank dengan Kamu Harus Pulang; Lalu Katon Bagaskara dengan Ketika Kupulang; Belum lagi Naff dengan Bila Aku Pulang; Bahkan Iwan Fals, juga menyanyikan Pulanglah.

Tak hanya lagu-lagu Indonesia, di luar sana, para musisi mulai dari yang beraliran pop, jazz, country, hingga rock sekalipun, ternyata pernah menggubah lagu tentang pulang atau pun rumah. Sebut saja Micahel Learn To Rock yang pernah membawakan Home to You; atau Ozzy Osborne bareng Black Sabath, yang membawakan Mama, I’m Coming Home; lalu John Denver yang menyajikan Take Me Home dan Back Home Again; kemudian On My Way Home To You, yang dibawakan Michael Franks; menyusul Billy Joel yang membawakan You’re My Home; Motley Crue, yang bikin Home Sweet Home. Bahkan grup Metallica yang cadas itu, juga membawakan Welcome Home (Sanitarium); atau Take Me Home punya Phill Collins; kemudian kita juga menemukan bahwa The Dream Theatre yang keren itu, dalam Album The Dark Side, juga ternyata menyuguhkan Home. Tak ketinggalan, Michael Buble, yang sebagian liriknya penulis kutip di muka, juga menyanyikan lagu berjudul Home.

Sebagai penutup, mari kita nyanyikan bersama, satu lagu dari daerah Sumatera Barat: Gelang Si Paku Gelang//Gelang si rama rama//Mari pulang//Marilah pulang//Marilah pulang//Bersama-sama. Mari pulang//Marilah pulang//Marilah pulang//Bersama-sama… Sayonara sayonara//Sampai berjumpa pulang//Sayonara sayonara//Sampai berjumpa pulang. Buat apa susah//Buat apa susah//Susah itu tak ada gunanya.

Penulis Adalah Dramawan dan Pujangga Umah Suwung Jakarta

Sumber Foto: https://geotimes.co.id/kolom/sosial/2018-kembali-pulang/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top