Kemarin Kau Belikan Aku Baju

Oleh: Bambang AW

Bahwasannya almarhum pak Tedja Suminar, kelahiran Ngawi, 1936, atau yang biasa dipanggil pak Te, adalah salah satu tonggak senirupa di Indonesia, rasanya sudah tak bisa dipungkiri lagi. Atas predikat ketokohannya ini kita tidak perlu ragu lagi, setidaknya telah dibuktikan oleh waktu dan jam terbang  berkeseniannya yang malang melintang sejak muda, sejak dari Surabaya sampai ke Bali. Dari pameran tunggal maupun pameran bersama rekan-rekannya baik berskala lokal, nasional maupun international.  Selain hal di atas, yang menjadi pokok pertimbangan penting lainnya adalah hasil-hasil pemikiran beliau yang visioner, konsisten dan aplikatif.

Dalam jagad seni rupa Indonesia, peran beliau sebagai pemikir sekaligus pelaku kesenian perlu mendapat apresiasi yang baik. Puluhan tahun beliau berkarya tak kenal lelah, bahkan seringkali pula beliau memberi buah pemikiran kepada teman-teman senimannya agar tetap bergelora dalam berkarya. Banyak teman-teman seniman, pengamat maupun pecinta seni sepakat kalau beliau sangat  banyak mempengaruhi perkembangan senirupa di Jawa Timur, di Bali dan khususnya di Surabaya. Pak Te (demikian sering beliau dipanggil) bersama dengan alm. O.H. Soepono, alm. Daryono, alm. Amang Rahman, alm. Rudy Isbandi dan banyak lagi telah mewarnai senirupa Indonesia.

Dalam khasanah senirupa Indonesia, tercatat dengan tinta emas tiga nama sketser hebat, yakni alm.  Tedja Suminar, alm. Ipee Ma’roef dan alm. Syahwil. Dalam tulisan ini saya ingin mencatat almarhum pak Tedja Suminar yang juga sahabat saya. Menurut saya karya-karya sketsa pak Tedja memiliki kekuatan garis yang tidak main-main. Garisnya spontan penuh rasa yang lahir dari “dalam” dengan kekuatan jiwa (Bali: Taksu) yang beliau latih berpuluh-puluh tahun. Garis sketsanya meluncur ibarat arus sungai, lancar dan nyaman serta penuh kepastian. Kelenturan dan ketegasan garisnya menggambarkan inner beauty dalam jiwanya yang harmonis. Kadang garisnya begitu tebal, kemudian menipis. Kadang pula garisnya meliuk bagai penari lalu menjadi samar sampai akhirnya menghilang.

Garis-garis dalam sketsanya menyiratkan hal itu semua, garisnya  memang sangat mempribadi, garis itu bernama Tedja Suminar. Bahkan secara liris, garis-garis itu terasa berdialog harmonis dengan sang seniman untuk dapat menterjemahkan obyeknya dengan irama yang pas antara pikir, maksud dan rasa. Melihat cara kerja pak Tedja sangatlah menarik. Sebelum beliau “mengeksekusi” sebuah obyek, hal yang biasa beliau lakukan adalah mengadakan observasi kecil dengan berinteraksi langsung dengan sang obyek untuk dapat “meresapi” serta mendapat “feel”-nya. Hal serupa juga dilakukan oleh sahabat senior beliau, Bapak Affandi. Sebelum pak Te menorehkan garisnya di kanvas, seringkali penulis melihat beliau menundukkan kepala barang beberapa menit, rupanya beliau berdoa sebagaimana imannya.

Penulis mengenal pak Tedja Suminar sekitar tahun 1980-an, waktu penulis masih sering melakukan residensi ke rumah kakak (Huang Fong) di Ubud Bali. Rumah kakak berada tepat di belakang pasar Ubud, dan karena letaknya di tengah desa, maka seringkali disinggahi teman-teman seniman dari berbagai daerah. Sebut saja: Alm. Afandi, Alm. Maria Tjui, Alm. Ida Bagus Made Poleng, Alm. Dullah dan tentu juga alm. Tedja Suminar beserta istri. Diantara hari-hari “residensi” itu kadang saya diajak kakak sowan ke rumah pak Tedja Suminar di daerah Lodtunduh, Ubud, Bali. Di saat itu (tahun 1970-an) rumah pak Te masih sederhana tapi dipenuhi banyak karya menarik ber-obyek pura dan manusia Bali.

Kelak setelah penulis tinggal di ubud, (tahun 1990-an) penulis dan pak Tedja mulai sering ketemu di berbagai event lukisan yang digelar di Ubud maupun Denpasar. Ada satu pengalaman tak terlupakan sebagai sesama pelukis. Kisahnya pernah sekali waktu kami berdua kebetulan bertemu di sebuah Gallery di kawasan Ubud. Kami datang untuk “setor” (bali: mengacung) lukisan. Perlu diingat bahwa urusan “setor-menyetor” lukisan semacam ini sudah jamak dilakukan oleh semua pelukis di sana. Kondisi ini tentu karena kebutuhan perut yang seringkali mendesak, sehingga kami-kami (pelukis) harus mau berurusan dengan Gallery, meski pada masa itu kerap kali bersikap kurang menyenangkan (maaf). Seusai mengasong lukisan, penulis dan pak Tedja sepakat pergi ke warung untuk berbincang-bincang kecil. Penulis masih ingat yang beliau katakan waktu itu, meski dengan setengah bergurau namun menyimpan kegelisahan. Pak Tedja mengatakan kepada saya begini: “Mbang,” (Bambang AW.), “Beginilah nasib seniman kalau jual karya ke Gallery. Karya bagus atau jelek, besar atau kecil gak pernah dipertimbangkan. Semua dianggap sama, yang penting mau segini apa enggak? Mati toh, seniman? Hehehe…” ucap pak Te kecut, saraya meneguk kopinya.

Sepuluh Tahun berikutnya (sekitar tahun 2001), penulis dan pelukis Awiki, seorang pelukis (post Impres-expresionisme) yang terkenal, berkunjung ke rumah pak Tedja di Banjar Bingin, Ubud. Rumah beliau yang asri dan nyaman berada diantara rumah para seniman yang mengitari sebuah bukit kecil. Di kawasan itu juga terdapat sebuah museum Topeng yang bagus. Konon museum ini milik seorang kolektor topeng yang juga seorang pastor. Di rumah itu kami berdua disambut baik pak Tedja dan istrinya (Ibu Moentiana). Di ruang tamu yang cukup lebar banyak digelar lukisan-lukisan dan sketsa hitam putih karya mereka berdua. Kala itu Ibu Moentiana (+ 2009) banyak berkarya dan tengah mengekplorasi media kertas semen, sementara pak Tedja tengah khusuk menggarap obyek perahu-perahu nelayan di pantai Jimbaran.

Tahun 2002 kembali penulis bersama pelukis terkenal asal Pacitan tinggal di Tuban, mas Dibyo, sengaja mengunjungi rumah pak Tedja kembali. Banyak hal yang beliau ceritakan terutama misinya terus membangkitkan spirit berkesenian teman-teman seniman di Ubud, lewat berbagai pertemuannya.  Selang beberapa saat kemudian, pak Tedja melakukan perjalanan darat dari Bali ke kota Malang dengan mobil Charade-nya seorang diri. Dengan mobil kecil itu beliau seolah pengembara.  Di atas kap mobilnya diletakkan beberapa lembar kanvas putih, di bagasi belakang dipenuhi dengan peralatan melukis dan sebuah  tas pribadi.  Sesampainya di Malang pak Tedja menginap di rumah penulis untuk beberapa hari dan sempat penulis kenalkan dengan Dr. Purnomo,Sp.Og. pemilik Puri Art Gallery dan kolektor barang-barang seni. Banyak perbincang menarik yang kami lakukan dengan Dr. Purnomo, terutama soal perkembangan seni di kota Malang dan di Indonesia.

Selama 3 hari penulis bersama pak Tedja berjalan mengelilingi Malang Raya untuk melakukan aktivitas kesenian, dari berdiskusi, melukis dan juga membuat sketsa dengan berbagai obyek. Satu kisah lagi yang paling berkesan terjadi di Tumpang, Kabupaten Malang. Tatkala itu kami berdua tengah mengamati beberapa dokar (delman) yang tengah parker di ujung jalan menuju candi Jago. Kami mengamati cukup lama perilaku para kusir maupun calon penumpangnya, dan pengamatan itu kami lakukan dari sebuah gerai baju bekas yang tepat berada tak jauh dari obyeknya.

Sehari sebelum hari itu, atas jasa penulis beberapa lukisan dan sketsa pak Tedja sudah dibeli Dr. Purnomo, karena itulah bekal uang di kantong kami cukup bahkan berlebih. Singkat ceritanya, Pak Tedja tertarik pada satu obyek. “Nah, ini obyek menarik, Mbang.” Ucapnya setelah memarkir mobil. Untuk beberapa saat pak Tedja sudah berakrab-ria dengan beberapa kusir dokar serta penumpangnya. Setengah jam kemudian beliau mulai menurunkan 2 buah kanvas kosongnya berukuran tanggung dan mulai bekerja membuat sketsa. Sementara saya tetap mengamatinya dari emperan toko baju bekas.

Mengamati cara kerja Pak Tedja, serasa bisa merasakan gemuruh jiwanya yang  hablur ke dalam cerapan tinta di atas kanvasnya secara estetik.  Semua seolah “muncrat” spontan dan begitu indah. Tangannya yang terlatih berlalu-lalang bebas, menari-nari memainkan kuas dan pena bambunya. Semantara terik matahari menyengati kulitnya yang kecoklatan dan tetap tak dihiraukan. Pak Tedja bekerja begitu total dan bergelora. Dan usai bekerja, pak Tedja dengan handuk kecil putih yang digantungkan di lehernya datang menghampiri saya. Digelarnya dua sketsa “dokar” yang baru dilukis, lalu meminta penulis berkomentar. Disaat itulah wajah pak Tedja tampak begitu sumringah.

Sembari melepas lelah, beliau masuk ke toko baju bekas untuk melihat-lihat. Tak lama kemudian ia berkata kepada saya: “Mbang, kemarin kita kan sudah “kepayon” (laku) sketsa. Nah, sekarang saya pingin membelikan kamu baju ini.” ucapnya sambil menunjukkan baju bekas pilihannya; sebuah kaos putih berkrah, lengan panjang dengan motif ornament biru yang cukup artistik. Saya cuma tersenyum menerimanya meski itu baju bekas. Dalam hati senang saja, meski baju bekas namun cara beliau memberikannya itu begitu surprise, unik dan ikhlas penuh persahabatan. Kini saat beliau telah lewat, kenangan Baju Bekas itu justru melekat begitu indah.

Hari ke tiga, pak Tedja mengajak untuk membuat sketsa bangunan Gereja yang berdempet dengan bangunan Masjid di sisi alun-alun kota Malang. Dari pagi, kami berdua putar-putar di sekitar obyek untuk “menyentuh” obyek dan membawanya ke dalam dunia rasa. Sekitar pukul 10.00 pagi kami sepakat mulai berkarya. Pak Tedja membuat sketsa kedua bangunan tersebut dari depan gedung Sarinah, sementara penulis men-skets obyek lainnya. Seperti biasa, kami berdua bekerja di bawah sengatan terik matahari. Sekitar dua jam pekerjaan itu kami akhiri, lalu kami melepas lelah di warung kopi di sudut sebuah pertokoan. Saat minum kopi itulah kami saling menunjukkan sketsa masing-masing. Sketsa pak Tedja dengan obyek bangunan gereja dan Masjid nampak kuat, obyeknya menjejali bidang kanvas. Belum puas rupanya, di sana-sini beliau menulisi dengan banyak kalimat. Kali ini rupanya pak Tedja pingin memberi kenang-kenangan untuk keluarga kecil saya. Karena itulah  di dalam sketsanya dipenuhi tulisan tentang perjalanan kami selama 3 hari, tentang prestasi anak saya, Santi Maria Permatasari, yang berhasil mengumpulkan 250 piala dari beragam lomba. Selain itu juga ditulis juga tentang keyakinan beliau akan Tuhannya (sikap religiousitasnya) dan harapannya sebagai seniman. Serah terima karya itu di warung kopi kecil dan tentu saya terima dengan hati bungah, surprise dan berterimakasih sekali.

Catatan: Lukisan itu menjadi titik sejarah kami berdua yang tersimpan di langit. Selamat jalan sahabat tua, semoga rumahmu di Sorga tetap kau penuhi sketsa-sketsamu yang apik dan tebaran senyummu yang manis penuh persahabatan. God Bless You, Brother.

RIP: Alm. Bapak Tedja Suminar meninggal dunia Jumat (24/6/2016) pukul 05. 49 di RKZ Surabaya,  dikremasi pada Minggu (26/6/2016), berangkat dari rumah duka pk 11.30 menuju Krematorium Kembang Kuning, Surabaya

Penulis adalah Seniman yang berkecimpung dalam seni lukis, fotografi, dan kemudian sastra.

Sumber Foto: https://bentarabudayabali.wordpress.com/2016/08/31/obituari-tedja-suminar/

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top