Gajah Mada, Lebih Dari Seorang Panglima Perang

Oleh : Andri Kurniawan

Melalui karyanya, lagi-lagi Agus Sunyoto memberikan perspektif yang berbeda dan menarik. Kali ini tentang sosok Gajah Mada yang selama ini hanya dikenal sebagai panglima perang dan sumpah amukti palapanya itu. Tanpa bermaksud menafikan aneka versi tentang sosok legendaries Gajah Mada, Agus Sunyoto merekonstruksi kisah hidup Perdana Menteri terbesar Majapahit itu dalam bentuk narasi deskriptif. Tidak main-main, sekalipun dibalut dengan format novel sejarah fiksi, buku ini didukung kepustakaan dan glosari serius dan berbobot yang menunjukkan bahwa secara substantif buku ini bukan seutuhnya karya fiksi. 

Kreativitas Agus dalam mengolah kisah Gajah Mada menarik untuk dikaji. Kisah Mada—tokoh utama dalam Novel Sejarah bertitel Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajad Mada—ini tidak hanya menceritakan patriotisme Gajah Mada sebagai panglima perang yang handal, cerdik, ahli srategi, tegas yang selalu bisa mengalahkan dan menaklukkan ambisinya untuk mempersatukan Nusantara di bawah panji kebesaran Majapahit yang selama ini menghiasi pikiran banyak orang.

Melalui penelitiannya, Agus menemukan sejumlah fakta baru—dengan mengumpulkan data primer, sekunder, dan tersier—berupa prasasti Gajah Mada dimana untuk memperingati Sri Kertanegara Gajah Mada menetapkan pembangunan Candi Singashari yang hampir tidak pernah dibahas sebagai bagian dari kisah hidup tokoh besar tersebut. Karya besar Gajah Mada dalam menyusun dan menyempurnakan kitab perundang-undangan atau KUHP Majapahit Kutaramanawa Dharmasashtra pun, yang membuktikan bahwa Gajah Mada seorang ahli hukum tidak disinggung. Kisah bagaimana Gajah Mada menjadi Patih Kahuripan dan Patih Daha, termasuk menjadi penengah dalam perkara hukum di Singhasari pun tidak pernah dibahas.

Kisah Gajah Mada seperti yang sudah banyak ditulis, selalu mengingatkan orang pada Sumpah Amukti Palapa, pemberontakan Ra Kuti, pengkhiatan serta persekongkolan jahat Mahapati, penaklukan Nusantara, dan peristiwa berdarah di alun-alun Bubat yang akhirnya memberikan stigma bahwa Perdana Menteri Kemaharajaan Majapahit itu sebagai panglima perang yang selalu unggul dalam pertempuran mengalahkan lawan-lawannya. Gambaran umum tentang sosok Gajah Mada sebagai ahli perang—yang sebagian besar bersumber dari Pararaton dan Kidung Sunda serta sejumlah historiografi jenis Babad—tidak pernah berubah sampai saat ini karena ditelah dibakukan sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah formal tingkat pendidikan dasar hingga jenjang perguruan tinggi.

Agus Sunyoto bukan menafikan gambaran umum mengenai sosok Gajah Mada yang selama ini sudah ditulis banyak orang. Namun melalui penelitiannya, dengan mengumpulkan data primer, sekunder maupun tersier yang ditopang cerita-cerita rakyat yang sebagian besar bersifat lisan dari berbagai daerah terkait Mahapatih Majapahit termasyhur itu, Agus membeberkan sejumlah fakta bahwa sangat sedikit sekali sumber yang mencatat kisah penaklukan-penaklukan sebagaimana dimaklumkan dalam Sumpah Amukti Palapa (Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, amun kalah ing gurun, ring Seran, Tanjung pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa). Penundukan Bali yang muncul sebagai pahlawan adalah Adityawarman. Dompo ditundukkan Laksamanana Nala yang diteruskan oleh Sri dadalanata. Penaklukan kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan pun menyebut Laksamanan Nala. Penyerbuan atas Pasai pun, bukan karena penggenapan Sumpah Amukti Palapa, melainkan kebiadaban Sultan Pasai yang melampaui batas dan merendahkan Majapahit dalam diplomasi politik sehingga membuat marah Maharaja Hayam Wuruk yang akhirnya memerintahkan penyerangan ke Pasai. Penakulkan atas Gurun, Tanjungpura, Seran, Haru, Pahang, Sunda, Palembang, hingga Tumasik seperti yang tertera dalam sumpah Amukti Palapa nyaris tidak didukung data yang memadai, sementara Negarakretagama justru menyebut wilayah yang jauh lebih luas dari Sumpah Amukti Palapa. Termasuk sedikit sekali menyebut peranan Gajah Mada dalam sebuah penaklukan-penaklukan.

Pada akhirnya, buku ini memberikan semacam afklarung sebuah pencerahan ditengah penggambaran tidak seimbang terkait sosok Gajah Mada yang dikenal hanya sebagai panglima perang.  Novel sejarah Pu Gajah Mada ini menceritakan periode awal kehidupan Gajah Mada yang lahir sebagai anak berkasta rendah, seorang asing dari golongan Mleccha, Wong Kilalan yang tumbuh ditengah arus deras sungai kehidupan yang keras, ganas, kacau, dan kejam. Anak malang yag selalu mujur itu tidak pernah menyerah bertarung melawan tantangan dan rintangan yang menghalangi jalannya.

Sebelum menjadi novel sejarah, kisah luar biasa anak desa berkasta rendah yang berjuang mengalahkan semua keterbatasan dirinya dalam menghadapi tantangan dan rintangan yang membawanya ke puncak kebesaran sebagai adimanusia Nusantara ini untuk pertama kali tampil dalam bentuk serial di Harian Radar Kediri (Jawa Pos Group) pada tahun 2016-2019. Dari hasil survey, bahwa 60% pembawa awal serial mahapatih Gaja Mada adalah anak-anak usia SMP dan SMA sederajat. Menjadi bacaan favorit anak-anak usia muda menjadikan Gajah Mada yang ditulis dalam novel sejarah ini menjadi inspirasi generasi yang sudah kehilangan figur keteladanan dari tokoh-tokoh pemimpin bangsanya. 

Judul Buku     : Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajah Mada
Pengarang     : Agus Sunyoto
Penerbit : Pustaka Pesantren Nusantara
Tahun Terbit   : 2019
Cetakan         : Pertama, Maret 2019
Ukuran           :18 x 24 cm, 324 hlm

Penulis adalah Penggiat Klub Baca Cogito Literasi Jombang. Reporter Majalah MQ Times Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Jombang. 

redaksipetjut

Tinggalkan Balasan

Back to top